Home » Tabagsel » 112 Istri Gugat Cerai Suami

112 Istri Gugat Cerai Suami

Sabtu, 05 September 2009

Terhitung januari Hingga Juli
SIDIMPUAN-METRO; Terhitung sejak Januari hingga Juli tahun ini atau sekitar 7 bulan teraksir, kasus yang paling banyak disidangkan di Pengadilan Agama Kelas II B Kota Padangsidimpuan, adalah kasus perceraian. Di mana, dari sekitar 112 perkara yang ditangani, rata-rata istri menggugat cerai suami dengan berbagai alasan. Artinya, 112 istri menggugat cerai suami.

Demikian disampaikan Ketua PA Padangsidimpuan, melalui Wakil Panitera PA, Habiburrahman Dalimunte SAg, kepada METRO belum lama ini.

Habiburrahman mengatakan, sejak awal Januari hingga Juli lalu, kasus perkara yang paling banyak adalah kasus istri gugat cerai suami. Rinciannya, selama Januari sebanyak 20 perkara, Februari 19 perkara, Maret 13 perkara, April 11 perkara, Mei 19 perkara, Juni 10 perkara dan Juli 20 perkara.

Sedangkan untuk perkara suami gugat cerai untuk bulan Januari sebanyak 7 perkara, Februai 4 perkara, Maret 7 perkara, April 10 perkara, Mei 22 perkara, Juni 5 perkara dan Juli 7 perkara.

“Inilah data sirkulasi perkara untuk tahun 2009 sejak Januari lalu, di mana yang paling banyak adalah kasus perkara istri gugat cerai suami, sementara perkara lainnya sangat sedikit, di urutan kedua disusul perkara suami gugat cerai istri,” ujar Habiburrahman.

Menurut Habiburrahman, banyaknya istri menggugat suami untuk bercerai disebabkan istri merasa tidak ada lagi kecocokan. Misalnya, suami tidak bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan nafkah batiniah dan lahiriah, sehingga dengan menggugat cerai suami, si istri merasa bebas dengan statusnya untuk menikah lagi dengan mencari pendamping hidupnya yang lain.

“Karena dari hasil amatan kita selama ini, banyaknya istri menggugat cerai suami dikarenakan ingin memiliki status dengan janda yang sah dengan dapat menunjukkan akta nikah cerai, agar pria yang mendekati mereka tidak merasa sungkan atau takut dengan kejelasan status mereka yang bukan milik orang lagi, hak asuh anak juga ada kejelasan, pembagian harta gono-gini juga dapat diselesaikan secara adil di pengadilan,” terang Habiburrahman.

Minim Hakim

Sementara itu jumlah hakim di Pengadian Agama Kota Padangsidimpuan, tergolong minim. Pasalnya, dari jumlah hakim yang ada saat ini, yakni, sebanyak 10 hakim, padahal seharusnya jumlah hakim sebanyak 12 orang.

Dikatakan Ketua Pengadilan Agama (PA) Padangsidimpuan (Psp) melalui Wakil Ketua Panitera, Habiburrahman, hal ini didasari PA Padangsidimpuan sudah masuk Kelas II B dengan luas wilayah yang meliputi Psp, Tapsel, Palas dan Paluta.

“Padahal 10 hakim tersebut sudah termasuk Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Agama,” ujar Habiburrahman.

Di PA Psp sendiri, perkara-perkara yang disidangkan, yaitu perkara perdata seperti cerai talak, cerai gugat ,istibat nikah, pembatalan nikah, izin poligami, perujukan wali, hadonah (hak asuh anak), wali adhol (orang yang mau menikahkan), harta bersama, kewarisan, kelalaian suami, dispensasi kawin (sebelum memiliki usia 16 tahun), wakaf, wali pengganti dan penunjukan anak atau hak asuh.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, jika dilihat dengan jenis perkara yang disidangkan serta luas geografi hukum yang dicakupnya ditambah lagi persidangan perdata yang memerlukan waktu panjang dalam memnutuskan suatu perkara, maka hal tersebutnya seyoginya jumlah hakim di PA sebanyak 12 hakim.

“Makanya kita katakan masih minim hakimnya, masih perlu lagi hakim tambahan,” pungkasnya. (amr)

Sumber: www.metrosintar.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Bergabung Dengan 6,152 komentator di Apakabarsidimpuan

  1. kalau ini jamanya wajar istri2 mengugat suami,,,kerjaan susah,,,penghasilan terus merosot dgn di tambah lagi pengeluar untuk togel dan kim,,,ya begini jadinya,,,yg di takuti banyak nya nanti yg stres dan lalu gila,,,karnah hidup yg mulai tidak terarah, maka bertambah orang yg akan diurusi oleh pemerintah setempat,,,,yg hidupnya dibawah garis kemiskinan,,,yg yg,,yg,,,dan yg gila….
    kacaulah sdh.

1 Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.