Home » Tabagsel » Kondisi RSU Madina Memprihatinkan

Kondisi RSU Madina Memprihatinkan

22 Oktober 2009 (www.metrosiantar.com)

Tak Miliki Dokter Spesialis, Fasilitas Minim
MADINA-METRO; Rumah Sakit Umum Mandailing Natal terpaksa merujuk Budi Ramadhan (4) warga Mandailing Natal yang menderita hydrocepalus ke Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan. Perujukan dilakukan karena rumah sakit milik pemerintah itu masih bertipe C dan tidak memiliki dokter spesialis serta peralatan medis yang canggih.

Salahseorang dokter umum di Rumah Sakit Umum (RSU) Mandailing Natal (Madina), dr Ligam Maaruf yang ditemui di ruangan Unit Gawat Darurat menjelaskan, penyakit hydrocepalus butuh penanganan yang spesialis.

“Hydrocepalus adalah salahsatu penyakit bawan lahir, di mana gejalanya terlihat dengan membesarnya kepala si penderita. Ini diakibatkan penderita memiliki cairan yang lebih di kepala. Penanganan penyakit seperti ini tidak bisa kalau bukan dengan dokter spesialis dan membutuhkan peralatan medis yang canggih. Artinya di RSU Madina penyakit ini belum bisa ditangani,” terang dr Ligam Maaruf, Rabu (21/10).

Diakui dr Ligam, fasilitas dan dokter yang tersedia di RSU Madina sangat minim. Yang tersedia, kata dr Ligam, masih dokter umum dan dokter bedah umum.

“Rumah sakit ini sendir masih dikategorikan tipe C. Itupun mungkin belum bisa disebut C, karena kondisi fasilitas kita yang tersedia sangat kurang,” tambahnya.
“Kita berdoa saja untuk selanjutnya RSU Madina semakin berkembang pembangunannya, dan menambah dokter spesialis untuk penanganan penyakit-penyakit yang membutuhkan penanganan dan pengobatan yang canggih. Supaya masyarakat lebih mudah dalam hal pelayanan,” sambungnya.
Seperti yang diinformasikan koran ini, Budi Ramadhan (4) anak dari Syamsul Bahri dilarikan ke RSU Pirngadi Medan setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Madina, Senin (19/10) sekira pukul 08.00 WIB lalu.

Dirawat di ruang IX RSU dr Pirngadi Medan anak bungsu dari tiga bersaudara ini tampak lemah. Sementara ibunya persis duduk menunggui bayinya itu. Terkadang si ibu memeluknya dan menciumnya.

Perempuan berjilbab ini tampak terpukul dengan penyakit yang dialami anaknya ini. Tapi Dia enggan berbicara mengenai penyakit anaknya. Di sana dia ditemani bersama Minah (35), adik kandung dari ibu Budi.

Menurut Minah, badan Budi mengalami panas. Makanya mereka (ibu dan Minah yang menjagainya) berinisiatif mengompres kepalanya. “Kami sampai tadi pagi, dia memang belum diinfus. Karena sampai saat ini belum ada obat yang masuk ke tubuhnya. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan. Tadi siang saja Budi baru diperiksa oleh dokter ahli bedah syaraf,” katanya kepada wartawan koran ini, Senin (19/10).

Sebelumnya, Rumah Sakit Madina, di mana Budi dirawat tak memiliki peralatan lengkap untuk merawat pasien dengan jenis penyakit seperti ini. “Karena tak lengkap itulah, makanya dirujuk ke RSU dr Pirngadi, Medan.”

Diungkapkan Minah, penyakit Hidrocepalus dialami Budi saat usianya menginjak 2 tahun. Sejak lahir tak ada gejala-gejala yang menunjukkan kalau Budi akan mengalami penyakit tersebut. “Biasa saja, hanya saja pas usianya du tahun itu mulai tampak. Kok kepalanya lama-lama semakin besar,” kata Minah sembari mengatakan, ayah Budi adalah seorang petani dan ibunya tidfak bekerja. (mag-02/dok)

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.