Home » Tabagsel » Tiap Tahun Populasi Ternak Kerbau di Palas Menurun

Tiap Tahun Populasi Ternak Kerbau di Palas Menurun

Sumber: www.metrosiantar.com
Rabu, 07 Oktober 2009

kerbau Tiap Tahun Populasi Ternak Kerbau di Palas MenurunAkibat Alihfungsi Lahan dan Bergesernya Mata Pencaharian Warga
Populasi hewan ternak jenis sapi dan kerbau di Kabupaten Padang Lawas dari tahun ke terus menurun, bahkan penurunan angka mencapai 30 persen. Berkurangnya populasi hewan penghasil daging ini seiring dengan besarnya jumlah lahan yang beralihfungsi menjadi perkebunan sawit. Akibatnya, banyak warga banyak menjual kerbau dan sapi sedangkan peternak lainnya masih memelihara secara tradisional.

AMRAN POHAN-SIPIROK

Kepala Dinas (Kadis) Pertanian, Kabupaten Palas, Ir Syahrir Harahap didampingi Kepala Bidang (Kabid) Peternakan, Ir Abu Bakari, mengatakan, dari tahun ke tahun jumlah populasi ternak, khususnya jenis hewan ternak kerbau dan sapi terus berkurang.

Saat ini jumlah total kerbau di Palas sekitar 12.613 ekor dengan rincian di Kecamatan Huristak 3.943 ekor, Barumun Tengah 6.340 ekor, Lubuk Barumun 731 ekor, Barumun 131 ekor, Ulu Barumun 16 ekor, Sosopan 33 ekor dan Hutaraja Tinggi 829 ekor. Kemudian di Kecamatan Sosa 529 ekor dan Batang Lobu Sutam 61 ekor,sementara untuk sapi potong jumlah totalnya sebanyak 6.612 ekor yang tersebar di 9 kecamatan di Kabupaten Palas.
“Inilah jumlah data populasi ternak hewan jenis kerbau dan sapi di Palas. Jumlah ini hasil pendataan melalui penyuluh yang diterjunkan ke lapangan. Hanya saja, jumlah tersebut bisa saja berkurang dan bertambah seiring dengan perkembangbiakannya,” ujar Kadis kepada METRO, Selasa (7/10).

Ditambahkannya, kalau diperkirakan dengan analisa secara acak, dari jumlah total yang ada saat ini, diprediksi setiap tahunnya populasi kerbau dan sapi setiap tahunnya berkurang sampai 30 persen.

Pengurangan populasi hewan jenis kerbau dan sapi, menurutnya, ada beberapa faktor penyebab, pertama lahan terbuka semakin menyempit dikarenakan warga banyak yang membuka lahan perkebunan seperti jenis sawit dan karet, kedua faktor beralih pekerjaan dari berternak ke perkebunan, dan ketiga berdirinya sejumlah perusahaan di suatu daerah setempat, kemudian pihak perusahaan melarang warga untuk beternak di sekitar lingkungan perusahaan, bahkan di dalam perusahaan yang sudah besar tanamannya sekali pun.

“Seperti di Kecamatan Barumun Tengah dan Huristak, kedua kecamatan ini dari dulu terkenal dengan parhorbo nabahat (populasi hewannya banyak) yang mencapai puluhan ribu jumlahnya, namun seiring dengan berdirinya perusahaan seperti PT Eka Pendawa Sakti di Kecamatan Barumun Tengah dan PT Anj Agro di Kecamatan Huristak yang bergerak di bidang usaha tanaman kelapa sawit yang melarang warga untuk menggembala di lahan perkebunan sawit yang sudah berusia besar atau 7 tahun,” pungkasnya.

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.