Home » Tabagsel » Melirik Kehidupan Penganyam Keranjang di Kecamatan Arse

Melirik Kehidupan Penganyam Keranjang di Kecamatan Arse

%name Melirik Kehidupan Penganyam Keranjang di Kecamatan Arse

Pengayam Keranjang (Foto: Illustrasi)

Selasa, 19 Januari 2010 – www.metrosiantar.com
Kalah Bersaing dengan Pabrik, Katarina Produksi Barang bila Ada Pesanan
Sejak dulu, kerajinan tangan anyaman begitu mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Dan dapat dipastikan sebagian besar warga memahami dan mengerti teknik menganyam.

AMRAN POHAN-TAPSEL

Namun, seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, secara perlahan keterampilan menganyam mulai tersisih. Sebab, anyaman tradisional kurang laku di pasaran karena kalah bersaing dengan anyaman pabrikan yang beraneka ragam motif dan warna yang menjadi pilihan.

Dampaknya, perajin anyaman induri dan keranjang bambu di wilayah ini, semakin sulit mengembangkan usaha. Pasalnya, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan biaya hidup sehari-hari yang cukup tinggi.

Katarina Batubara (52), salah seorang perajin anyaman yang masih eksis melestarikan tradisi anyaman di Kecamatan Arse, mengatakan, keterampilan menganyam membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan ketekunan. Namun, semuanya seperti sia-sia karena pemasaran anyaman sulit berkembang akibat persaingan dengan bahan pabrikan.

“Saya bekerja hanya jika ada pesanan saja, kalau tidak ada saya tak berani karena kalau tidak laku mau dipasarkan ke mana,” ujarnya.

Dicontohkannya, untuk saat ini dirinya hanya mengerjakan keranjang dari bahan bambu, yang akan digunakan sebagai tempat salak yang merupakan pesanan seseorang dari Parsalakan, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapsel.

Meskipun bahan baku membuat keranjang, bambu tali dan maldo (sejenis rotan) cukup melimpah di wilayah tempat tinggalnya, tetapi imbalan yang diterima per keranjang rasanya belum memenuhi jika dibandingkan dengan waktu dan proses pembuatannya. Sebab, dalam sehari hanya bisa menyelesaikan 6 keranjang dengan harga Rp2.500 per keranjang.

“Misalnya menganyam keranjang, saya hanya bisa menyelesaikan 6 keranjang dalam satu hari. Rasanya harganya masih kurang, namun karena baru itu yang memesan terpaksa juga dikerjakan, daripada tidak ada yang bisa dikerjakan,” tuturnya.

Sedangkan untuk menganyam induri, untuk sementara belum ada pesanan. Jika tak ada pesanan maka ia akan menganyam induri, namun setelah selesai 10 helai akan dihentikan menunggu hingga laku, setelah laku baru ulangi lagi.

“Untuk induri saya bisa menganyam 4 helai dalam satu hari dan jika ada yang membeli saya jual dengan harga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per induri,” terangnya.

Menjadi penganyam induri, keranjang, dan lainnya sudah merupakan pekerjaan tetap ia bersama suaminya. Ibu 5 anak tersebut mengaku tidak memiliki ladang pertaniaan (sawah) dan berharap ada perhatian dari pemerintah agar bisa mengembangkan usahanya terutama dalam pemasaran.

“Hanya memiliki 1 hektare kebun, itulah yang diusahai tulangmu, sedangkan saya tetap menganyam itupun jika ada pesanan,” ungkapnya mengakhiri. (***)

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Bergabung Dengan 6,147 komentator di Apakabarsidimpuan

  1. itulah potret pengrajin kita sekarang ini, yang serba susah dalam mengembangkan usahanya karena tidak adanya dukungan pemerintah bagi para pengrajin kecil seperti itu.

1 Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.