Home » Tabagsel » Pemkab Madina Abaikan Penderita Hidrosefalus

Pemkab Madina Abaikan Penderita Hidrosefalus

Sabtu, 30 Januari 2010 – www.metrosiantar.com

Pasien+Hidrosefalus Pemkab Madina Abaikan Penderita Hidrosefalus

Penderita Hidrosefalus ( Illustrasi)

MADINA-METRO; Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dinilai kurang tanggap dan kurang perhatian terhadap Erwinsyah (9), warga Kelurahan Panyabungan III, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang menderita penyakit Hidrosefalus (kelebihan cairan di kepala, red), karena belum ada bantuan dari pemerintah daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madina melalui Kasubdin P2P dan PL, Yonri Alfino SPi saat dikonfirmasi METRO di ruangannya, Kamis (28/1) kemarin mengatakan, kalau si penderita harus menjalani pengobatan melalui Puskesmas atau rujukan. “Mereka seharusnya berobat melalui Puskesmas kalau mereka memiliki kartu Jamkesmas,” katanya.

Yonri juga mengatakan, pihaknya akan melakukan peninjauan ke rumah penderita dan akan ditindak lanjuti, tapi didiskusikan dulu dengan pimpinannya.

“Tetapi kalau masalah bantuan itu bukan kewenangan kita, kita serahkan saja bagi dermawan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ahmad Yasin Nasution, seorang tokoh masyarakat mengatakan kalau pemerintah seharusnya memberikan perhatian terhadap anak penderita penyakit ini.

“Apalagi dia seorang yatim, sudah sepantasnya pemerintah secepatnya mengambil tindakan kalau memang penyakit yang diderita Erwin itu tidak bisa diobati lagi, setidaknya pemerintah memberikan bantuan sosial terhadap keluarganya,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, Roslina (29), ibu si penderita kepada METRO baru-baru ini mengatakan, kondisi anaknya hingga kini hanya terbaring dan selama 9 tahun tidak bisa berbuat apa-apa, selain merengek tanpa diketahui maksudnya apa. Penyakit mulai terjadi sejak Erwin berumur 3 bulan.

Di mana, kondisi Erwin, kepala membesar dan tubuh kerempengan. Erwinsyah ditinggal oleh bapaknya Hermansyah yang meninggal dunia sekitar 3 bulan yang lalu hingga kini hanya terbaring di tempat tidur saja yang beralaskan tikar pandan tanpa mengkonsumsi makanan, melainkan susu untuk bayi saja.

Penyakit ini dialami sejak dirinya berusia 3 bulan. Roslina yang bertempat tinggal di Banjar Sibaguri Kelurahan Panyabungan III Kecamatan Panyabungan Kabupaten Madina, tepatnya simpang jalan menuju Kelurahan Hutasiantar hanya bisa pasrah melihat kondisi anak sulungnya tanpa memberikan pengobatan disebabkan keadaan finansial atau perekonomian yang sangat lemah dengan bekerja sebagai pedagang kedai sampah yang hanya berpenghasilan Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per hari, sedangkan anak-anak yang harus dibelanjai sebanyak 4 orang. Dan Erwinsyahlah anak yang paling sulung.

Dikatakan Roslina, Erwinsyah lahir pada tahun 2000 lalu di rumah sakit swasta di Madina. Pada saat lahir Erwin tidak memiliki tanda-tanda kelainan fisik alias normal sebagaimana bayi biasanya lahir.

“Dia lahir dengan kondisi normal, kelainan itu terlihat 3 bulan kemudian dengan kepala membesar, dan proses itu secara perlahan semakin membesar. Kami sudah mencoba untuk berobat ke RSUD Madina, tetapi pihak rumah sakit meminta untuk dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik untuk dioperasi,” katanya.

Karena kondisi ekonomi yang lemah, maka mereka bersama pihak keluarga sepakat dan dan memutuskan untuk menunda operasi Erwin.

“Beberapa bulan kemudian, tepatnya tahun 2001 sewaktu Erwin berumur 1,5 tahun, kami dapat bantuan dari seorang pengusaha di Medan dan saya tidak tahu jelasnya siapa orangnya, tanpa pikir panjang kami langsung berangkat ke RS Adam Malik di Medan untuk menjalani operasi,” tambahnya.

Di Medan, kelebihan cairan dalam kepala Erwin di buang, dan saat ini kepalanya sudah tidak membesar lagi, tapi ada pertinggal, dari bekas operasi seperti luka tapi tidak mengeluarkan bau. Untuk membawa kembali berobat ke rumah sakit mereka tidak mampu.

Selama mengandung juga ibunda Erwin tidak ada merasakan tanda-tanda atau kelainan yang dia alami, semuanya berjalan biasa saja.

Hingga kini keluarga Erwin sangat mengharapkan bantuan sosial dari siapa saja untuk bisa meringankan beban hidup mereka. Sambil menangis ibunda Erwin mengatakan sudah sering mereka dikunjungi orang yang tidak dikenal dan menanyai kondisi Erwin dengan berharap bisa membantu dan meringankan ekonomi mereka tetapi harapan itu belum tiba.

“Kami sudah sering dikunjungi orang dengan memberikan harapan untuk bisa membantu pengobatan anak saya, tetapi hingga sekarang kami belum pernah menerima bantuan dari siapa saja untuk biaya pengobatan Erwin,” ucapnya kala itu. (mag-02)

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.