Home » Tabagsel » Mandailing Natal Dikategorikan Daerah Rawan Pangan

Mandailing Natal Dikategorikan Daerah Rawan Pangan

WASPADA ONLINE

birumuh padi stalk1 Mandailing Natal Dikategorikan Daerah Rawan PanganMEDAN – Berdasarkan peta ketahanan dan kerentanan pangan nasional, sejumlah daerah di Sumut, Nias dan Mandailing Natal, dikategorikan rawan pangan. Bahkan Nias masuk prioritas pertama rawan pangan.

“Penilaian itu berdasarkan jumlah kantong-kantong kemiskinan dan infrastruktur di daerah tersebut,” papar kepala Badan Ketahanan Pangan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara, Setyo Purwadi, tadi malam.

Begitupun, kata Setyo, bukan berarti daerah lain di Sumut yang tidak masuk peta ketahanan dan kerentanan pangan nasional, sudah benar-benar tidak rawan pangan. Sebab sebenarnya masih ada sejumlah daerah lain yang subur, namun masyarakatnya tidak masuk kategori lapar hanya pada musim panen. Bahkan, tambahnya, penyebaran kantong-kantong masyarakat miskin dan tergolong lapar karena kekurangan kalori, justru banyak berada areal perkebunan di Sumut.

Lebih jauh, Setyo menjelaskan, sebenarnya dalam gambaran kondisi ketahanan pangan 2003-2008 lalu, ada 26 kecamatan yang tersebar di 14 kabupaten di Sumut yang dililit permasalahan pangan kronis dan akut. Kondisi itu mengindikasikan bahwa ancaman kerawanan pangan memang ada di Sumut.

Dia menjelaskan, kerawanan pangan itu muncul karena banyaknya irigasi di Sumut yang rusak sehingga menurunkan kualitas padi yang dipanen. Berdasarkan data, 23.939 hektar dari 88.773 hektar irigasi di Sumut rusak berat. Selain itu, banyak masyarakat yang mengalihakan alih fungsi lahan swah menjadi non sawah. Disisi lain, katanya, kebutuhan pangan semakin meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk Sumut. Akibatnya, berdasarkan pertumbuhan produksi pangan strategis selama

“Laju peningkatan produksi gabah beras dalam enam tahun terkahir mengalami penurunan, dan ketergantungan impor pasokan kedelai dan gula masing sangat besar mencapai 80-85 persen. Demikian juga dengan daging,” jelasnya.

Dari aspek distribusi, katanya, kerawanan pangan muncul karena keterbatasa sarana dan prasarana terutama di daerah terpencil . Serta semakin gencarnya pasokan produk-produk pertanian impor dengan harga murah sehingga produk pertanian lokal kalah bersaing. Akibatnya mengurangi animo petani untuk memproduksi bahan pangan lokal kompetitif.

Sedangkan dari aspek konsumsi, kecenderungan penurunan animo konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal sebagai sumber karbohidrat. Namun konsumsi terigu masih meningkat.

Menurunkan angka konsumsi beras di Sumut
Untuk mengatasi krisis pangan tersebut, kata Setyo, salah satu langkah  yang diambil Badan Ketahanan Pangan dengan menekan angka konsumsi beras dan tepung terigu di Sumut dengan melakukan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal. Seperti ubi kayu, ubi jalar, kentang, jagung.

Mereka menargetkan menurunkan angka konsumsi beras di Sumut dari 136 kp/kap/tahun menjadi 121,5 kg/kap/tahun. “Juga sebagai kontribusi semangat nasional menurunkan konsumsi beras sebesar dua persen pada 2014 mendatang,” katanya.

Dijelaskannya upaya menurunkan konsumsi beras masyarakat tersebut diambil berdasarkan  Perpres No.22/2009 dan Permentan No.43/OT/10/2009 tentang penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal.

Dengan cara ini, kata Setyo,diharapkan wilayah kecamatan dengan kategori rawan pangan berkurang dari 13,38 persen menjadi 7 persen pada 2013.

“Kita akan kampanye beras supaya masyarakat mengurangi mengkonsumsi beras. Ke depan akan ada gerakan one day no rice (satu hari tanpa makan beras). Seluruh SKPD akan kita libatkan, seperti ajakan untuk tidak lagi mengkonsumsi kue berbahan tegigu. Karena makan singkong atau makanan dari tepung ubi juga baik jika diperkaya dengan asupan non beras lainnya,” katanya.

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.