Home » Intermezo » Bah, Ke Mana Lagi Kita Mengadu Amang, Gubsu!

Bah, Ke Mana Lagi Kita Mengadu Amang, Gubsu!

Sumber: www.batakpos-online.com
kemana 1 Bah, Ke Mana Lagi Kita Mengadu Amang, Gubsu!KEMARIN tengah malam, Jumat Kliwon lagi, amani Piol sempat ketakutan. Terbangun gara-gara nipi gaor, mimpi yang amat seram, pandangan matanya  tak bisa melihat apa-apa. Serba gelap-gulita. Ia teringat mimpinya, di mana sesosok mahluk gaib mencakar-cakar tubuhnya lalu mencongkel matanya. Gara-gara itukah kini ia tak bisa melihat apa-apa lagi? Mana di kejauhan terdengar pula lolongan anjing bersahut-sahutan. Laksana nyanyian malaikat penebar maut.

Di tengah kegelapan itu tangannya meraba-raba mencoba meraih punggung istrinya. Bermaksud minta tolong. Tapi sial, nai Piol sang istrinya,  segera menamparkan tangannya. “Husada an ho,” hardik istrinya setengah terbangun karena menyangka amani Piol minta jatah. Maksudnya, jangan macam-macam.

Tapi tiba-tiba ketakutan amani Piol itu sirna. Pandangan matanya seketika terang-benderang. Rupanya, ia tak sadar kalau lampu PLN yang mati.

Cerita amani Piol itu tentu saja membuat rekan-rekannya di kedai nai Heppot terbahak-bahak, meski diam-diam ada juga yang menjadikannya kode alam alias bahan kupasan untuk Togel.. “Biasanya, di daerah kita ini, pagi hingga sorenya mati lampu. Apalagi aku dipengaruhi mimpi buruk pula makanya prasangkaku jadi lain. Tapi yang jelas, PLN  telah membuat ulah. Menyengsarakan rakyat,” ujar amani Piol.

“Makanya aku heran, jaman sudah merdeka begini tapi pelayanan PLN makin jauh dari harapan. Waktu jaman Londo, meski peralatan sederhana dan hanya hidup sore hingga malam, tapi jarang mati lampu. Dan tak lucu, telat bayar segera denda. Tanpa ada ampunan. Tapi kalau begini terus-terusan pemadaman bergilir, mana bisa kita mendenda mereka. Ini perlu jadi pembahasan anggota DPR. Artinya, sampai di mana hak dan kewajiban kita sebagai pelanggan,” tanggap ompung Johar kesal sambil menunjuk ke televisi yang memutar sidang Pansus Century. Tapi lagi-lagi mereka kesal karena tiba-tiba lampu mati pula.

“Mauf ma, tak masak lagi nasiku ini,” omel nai Heppot dari dapur. Rupanya ia baru menanak nasi di rice cooker. Mau masak di kompor, minyak tanah tak ada. Kemarin sampai berjam-jam ia antri. Namun saat gilirannya tiba pas habis pula. Soban alias kayu bakar lebih parah lagi. Itu pun harus mengambilnya di pinggiran kampung  dengan catatan harus waspada terhadap petugas kehutanan.

“Tak hanya kita yang jengkel. Sampai-sampai amang Gubsu Syamsul Arifin  sudah ketus dengan pelayanan PLN yang hanya tahu berjanji saja. Bahkan beliau menuding PLN pembohong,” ujar amani Jaultop.

“Lha, maka itu kita ganti saja nama PLN jadi ‘Pake Lilin Nasibmu’,” tanggap amani Ruspita.

“Sebetulnya sudah parah negeri kita ini. Masak kita yang punya sumber daya energi tapi pihak luar yang menikmati. Buktinya, permintaan Gubsu kepada PT Inalum juga ditolak. Massam mana ini. Apalagi kita yang minta, mungkin samurai yang datang,” keluh amani Gulopang.

“Tapi kan mereka yang mengusai teknologi. Kita jauh tertinggal. Bahkan mesin pembangkit yang di Sicanang Belawan sudah danga-danga alias ketinggalan jaman masih kita pakai. Cemmananya PLN ini. Apa nggak ada uang membeli peralatan baru. Heran aku,  perusahaan BUMN selalu mengaku rugi. Perusahaan Kereta Api misalnya. Padahal, penumpang tetap membludak. Entah ke mana setiap hari orang di pulau Jawa hilir-mudik Jakarta-Surabaya. Kalau melihat volume penumpang mestinya kan sudah meraup untung besar. Begitu juga PDAM di kota kita ini, gindor, butek, padahal tinggal ngambil dari gunung,” tanggap amani Bornok.

“Jadi, kita harus merebut teknologi biar tak dibodoh-bodohi pihak asing. Mari kita bina anak-anak kita agar jadi generasi yang mampu membuat negeri ini terang-benderang. Tak mittop-galak alias hidup-mati seperti keadaan sekarang ini. Apalagi Piala Dunia sudah menjelang. Jangan sampai kesebelasan Bolanda tampil tak bisa kita tonton,” tandas amani Bornok.

“Tapi dengar-dengar, amang Gubsu mau mengadu ke Menag BUMN. Kalau juga ditolak, bah, ke mana lagi kita mengadu amang, Gubsu?,” lirih amani Piongot dengan wajah yang kusut-masai.

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.