Home » Tabagsel » Palas terbentur krisis listrik

Palas terbentur krisis listrik

BALYAN KADIR NASUTION – www.waspada.co.id

logo lampu Palas terbentur krisis listrikKabupaten Padang Lawas (Palas) merupakan Daerah Otonom Baru (DOB) hasil pemekaran  Kabupaten Tapanuli Selatan. Daerah ini terbentuk berdasarkan Undang-undang RI Nomor 38 Tahun 2007 dan diresmikan di Jakarta pada 10 Agustus 2007. Itu berarti Palas sudah berusia dua tahun lima bulan.

Palas beribukota Sibuhuan, mewilayahi Kecamatan Sosopan, Ulu Barumun, Barumun, Sosa, Batang Lubu Sutam, Hutaraja Tinggi, Lubuk Barumun, Barumun Tengah dan Huristak. Bulan-bulan awal terbentuknya kawasan Barumun Raya ini menjadi kabupaten baru, masyarakat sangat banyak berharap pembangunan daerah yang mewujudkan kesejahteraan. Harapan itu wajar karena bumi Palas sebenarnya menyimpan potensi sumber daya alam yang menjanjikan terwujudnya daerah tersebut menjadi daerah yang maju dan mandiri.

Hadapi benturan
Secara jujur kita menilai sudah banyak yang dilakukan pemerintah pasca terbentuknya kawasan ini menjadi kabupaten baru. Tetapi melihat banyaknya benturan dan tantangan yang menghadang, membuat langkah Palas menuju terwujudnya pembangunan yang nyata menjadi lamban. Bahkan dikhawatirkan benturan-benturan yang menghadang itu menjadi ancaman serius bahwa Palas akan semakin terpuruk.

Salah satu hambatan yang kini membentur langkah Palas dan dikhawatirkan menjadi ancaman serius bagi masyarakat adalah krisis listrik. Masalah ini dialami tidak saja saat sekarang tetapi sejak PT. PLN (Persero) mengembangkan sayapnya ke kawasan tersebut pada awal 1980-an. Krisis tersebut bahkan berlangsung hingga di usia lebih 64 tahun Kemerdekaan RI sekarang ini.

Kondisi dan fakta tersebut kini berbuntut kepada PLN sebagai persero yang ditugasi sebagai penyedia pasokan listrik di Tanah Air menjadi sasaran umpat, caci-maki dan kecaman pedas sampai sumpah serapah. Wilayah Sosa Jae sebagai kawasan paling ujung Palas dan berbatasan langsung dengan Provinsi Riau berpenduduk 32.847 jiwa lebih dan diperkirakan tidak kurang dari 97 persen telah terdaftar menjadi pelanggan listrik PLN. Tapi masyarakat di sana sangat mengeluhkan kondisi pasokan listrik yang setiap hari dan setiap malam terhenti sampai empat jam, bahkan tidak jarang sampai 12 jam. Jika padam pukul 02.00 misalnya, jangan heran bila listrik PLN di kawasan ini nyala kembali pada pukul 12.00, bahkan sampai pukul 15.00 petang. Tetapi jika listrik padam pada pukul 16.00, biasanya akan nyala kembali pada pukul 03.00 dinihari.

Pasokan listrik terhenti tersebut tidak jauh beda dengan di kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Palas. Bahkan yang membuat kita bingung adalah sikap pemerintah daerah sejumlah anggota DPRD Palas yang tinggal di Pasar Latong dan sekitarnya. Para tokoh yang menjadi pejabat berdasarkan hasil pilihan rakyat tersebut tidak terusik dengan padamnya listrik, karena begitu pasokan listrik terhenti, mereka langsung menghidupkan mesin listrik mini (genset). Lain hal dengan rakyat di sekitar mereka tinggal yang praktis menjadi gelap gulita.

Akibat sering terputusnya aliran listrik, selain harus menyiapkan biaya untuk pembayaran rekening listrik, pelanggan juga terpaksa menyiapkan dana membeli minyak tanah yang semakin sulit didapatkan warga. Ini membuat Palas kini jauh tertinggal di sektor energi kelistrikan dari daerah lain bahkan dari Palas Utara sendiri yang sama-sama terbentuk menjadi kabupaten baru. Kekhawatiran yang bisa dipastikan terjadi adalah Palas akan terus mengalami keterpurukan akibat kondisi pasokan listrik yang amburadul ini.

Dampak krisis listrik
Dampak krisis listrik yang yang menyebabkan pemadaman tiap hari dan tiap  malam tentunya sangat banyak merugikan masyarakat Palas. Dampaknya yang terjadi paling dekat dan nyata terbayangkan adalah hancurnya pendidikan anak bangsa di Kabupaten Palas.

Bagaimana tidak ? Penulis telah menyaksikan betapa tersiksanya para siswa mulai dari tingkat kanak-kanak, Sekolah Dasar, lanjutan pertama sampai lanjutan atas yang belajar di malam hari di rumah masing-masing. Para guru sekolah juga mengalami kesulitan saat menyusun program mengajar di malam hari.

Kondisi dan fakta di atas jelas-jelas akan membuat kacau mutu dan kualitas pendidikan di Kabupaten Palas. Jangankan mengalami peningkatan pasca pemekaran, yang dipastikan terjadi justru keterpurukan pendidikan akibat krisis listrik.

Akibat kondisi pasokan listrik yang acak-acakan tersebut juga telah membuat seorang putra Palas yang menjadi pengusaha sukses di Jakarta baru-baru ini memilih membatalkan investasinya di Palas. Dia khawatir usahanya di Palas justru merugi akibat pasokan energi listrik yang tidak jelas kapan stabil ini.

Selama para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga terganggu untuk meningkatkan usahanya. Usaha keluarga seperti menjual es hasil dari lemari es di rumah-rumah penduduk selalu terganggu akibat setiap hari dan setiap malamnya pasokan energi listrik terhenti.

Demikian juga industri rumah tangga seperti pembuatan kusen pintu/jendela dan lemari dari ukuran kecil sampai besar selalu terganggu akibat terhentinya energi listrik setiap harinya sampai berjam-jam. Yang membuat masyarakat semakin kecewa adalah mereka tidak tahu sampai kapan krisis listrik yang melanda daerah tersebut berakhir.

Dari fakta dan bukti konkrit di atas, Pemerintah Kabupaten Palas di bawah dinilai tidak mampu menuntaskan krisis energi listrik yang terjadi. Melihat kondisi demikian memicu kita melontarkan sebuah pertanyaan: akankah Pemkab Palas membiarkan problema yang langsung mengancam keterpurukan khususnya pendidikan dan ekonomi kerakyatan Palas tersebut ? Kita lihat saja jawabannya nanti. Kiranya Pemkab Palas secepatnya menuntaskan krisis listrik yang mengancam itu.

Penulis adalah Wartawan Harian Waspada, peserta Workshop-Seminar “Media And Local Government: Corruption And Acces To Information” di Davao City, Filiphina, tahun 2003. Putra Kelahiran Sosa Jae, Kabupaten Palas

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.