Home » Kolom » Nikah Paksa Dalam Perspektif Islam

Nikah Paksa Dalam Perspektif Islam

Parida Hannum Hasibuan

Parida Hannum Hasibuan (Penulis)

Oleh: Parida Hannum Hasibuan

  1. Pendahuluan

Kasus perjodohan (nikah paksa) merupakan bentuk kekerasan terhadap anak bukan hanya kekerasan fisik tapi juga kekerasan terhadap mental psikis anak. Biasanya kekerasan terhadap anak ini dilakukan oleh orang-orang terdekat baik saudara, maupun orangtua. Dengan landasan bentuk dari kasih sayang mereka akan tetapi berujung kepada penderitaan si anak. Seperti halnya merampas hak anak untuk memilih pasangan hidup yang ia inginkan. Walaupun terkadang nikah paksa berakhir dengan kebahagiaan namun tidak jarang pula berakhir dengan konflik, pertikaian bahkan sampai kepada perceraian itu semua karena pernikahannya tidak di landasi dengan cinta kasih namun hanya unsur keterpaksaan belaka. Seperti halnya kasus di bawah ini.

Seorang siswa kelas 6 (enam) Sekolah Dasar di Mabar, kecamatan Medan Deli berinisial A di paksa menikah oleh orang tuanya dengan kakek yang berumur 60 tahun berinisial B. Anak tersebut dipaksa menikah dengan iming-iming akan diberikan rumah petak dan sepeda motor Yamaha Mio. Pernikahan itu berlangsung mulus karena orang tua kandungnya turut berperan besar dalam memaksa anaknya untuk menikah. A mengakui orang tuanya yang memaksa dia untuk menikah dengan B dan juga telah berhubungan badan dengan B tak lama setelah mereka menikah. Padahal ia sudah sering menolak untuk di nikahkan juga karena ia masih ingin melanjutkan sekolahnya. Namun, ia tidak sanggup menolak karena ayahnya selalu menyiksanya dengan tali pinggang. Karena tidak sanggup di aniaya terus-menerus oleh ayahnya akhirnya ia pun terpaksa menerima paksaan tersebut dan di bawa ke rumah si B untuk di nikahkan. Penderitaanya itu di curahkan dalam bentuk tulisan di buku sekolahnya. A menulis tentang dirinya yang masih ingin melanjutkan sekolah namun di paksa untuk menikah. Kronologis nikah paksa yang ia alami pun berkelanjutan. Namun, usai dinikahkan beberapa hari dia berada di rumah suaminya kemudian dibawa pulang oleh orang tuanya. Saat berada di rumah orang tuanya dia berhasil kabur dana pergi kerumahnya.

Kasus semisal ini kerap kali terjadi di lingkungan kita karena beberapa alasan. Pertama, terkadang orang tua merasa anaknya adalah miliknya sepenuhnya sehingga orang tua berhak memaksa anaknya menikah dengan siapa saja yang ia kehendaki. Kedua, rendahnya pengertian orang tua. Orang tua tidak mengetahui dampak apa yang akan di alami oleh anaknya. Ketiga, masalah ekonomi. Hal ini sering sekali terjadi karena masalah perekonomian orang tua bahkan di daerah tertentu anak perempuan merupakan aset tersediri bagi orang tua contohnya di negara Pakistan sendiri. Pernikahan paksa tersebut sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka.

Dari kasus di atas timbul pertanyaan bagaimana sich sebenarnya pandangan Islam terhadap nikah paksa tersebut ? Penulis mencoba menguraikan secara singkat dan padat menganai hal-hal yang bersangkutan dengan nikah paksa dalam pandangan Islam.

 

  1. Nikah Paksa

Nikah paksa adalah sebuah perjanjian atau ikatan antara dua pihak calon mempelai suami dan istri karena adanya faktor yang mendesak, menuntut dan mengharuskan adanya suatu perbuatan (dalam sebuah pernikahan) serta tidak adanya kemauan murni dari kedua belah pihak dan tidak ada kemampuan untuk menolaknya.

Dibawah ini telah di cantumkan hadis-hadis yang berkaitan dengan nikah paksa :

Artinya : Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zaid bin Sa’ad dari Abdullah bin Fadli bahwa dia mendengar Nafi’ bin Jubair mengabarkan dari Ibnu Abbas bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis) harus dimintai izin darinya, dan diamnya dalah izinnya.” Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dengan isnad ini, beliau bersabda :” seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis), maka ayahnya harus meminta persetujuan adalah diamnya.” Atau mungkin beliau bersabda : “dan diamnya adalah persetujuannya.” (HR. Muslim)

Dasar hukum atau hadis lain yang berkaitan dengan nikah paksa :

Artinya : Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa jariyah, seorang gadis telah menghadap Rasulullah saw. ia mengatakan bahwa ayahnya telah mengawinkannya, sedang ia tidak menyukainya. Maka Rasulullah menyuruhnya memilih. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Sistem nikah paksa masih sangat tersohor dalam kamus perkawinan paksa di masyarakat Islam Indonesia. Ada beberapa kemungkinan faktor yang menyebabkan terjadinya nikah paksa, di antaranya : pertama, pilihan yang di carikan orang tua adalah kerabat. Hal ini sudah termasuk dalam semi nikah paksa. Kedua, karena kecalakaan artinya mereka yang terpaksa menikah karena terlanjur melakukan hubungan intim lebih dahulu yang akhirnya terjadi kehamilan di luar nikah. Ketiga, nikah paksa murni atas kehendak orang tua tanpa melibatkan persetujuan anak terlebih dahulu dalam hal ini anak tidak bisa ikut andil memilih dan menentukan dengan siapa ia akan menikah seperti kasus di atas.

Sistem nikah paksa yang masih berlaku di dunia Islam membawa dampak yang jelas dengan konsep wali mujbir (wali seorang anak dari keturunan garis ayah keatas) yang berkembang dalam wacana hukum Islam. Wali mujbir tersebut punya otoritas menikahkan anaknya (gadis) meskipun ia menolak. Namun, meskipun demikian wali mujbir tetap memiliki syarat : pertama, kedua pihak harus sekufu (setingkat). Kedua, laki-laki harus membayar maskawin dengan tunai. Ketiga, tidak ada permusuhan antara kedua pihak. Keempat, tidak ada permusuhan pihak wanita dengan wali yang menikahkan.

Hukum nikah paksa dalam pandangan Islam adalah tidak di benarkan. Karena setiap gadis meupun janda punya hak atas dirinya oleh karena itu mereka berhak dimintai persetujuannya. Dan jika dilihat dari segi psikologis bahwasanya suatu hubungan yang dilandasi dengan keterpaksaan maka cenderung akan berakibat kurang baik, entah itu bagi suami maupun istri. Menurut A. Fatih Syuhud Secara umum, status perempuan terbagi dalam 3 kategori yaitu (a) gadis di bawah umur atau belum baligh, menurut sebagian pendapat, anak perempuan yang belum baligh boleh menikah dan ayahnya sebagai wali mujbir dengan menikahkannya denga pria yang dewasa baik dengan persetujuannya maupun tidak. Dengan landasan hadis di bawah ini : Ibnu Battal berkata: Boleh menikahkan anak perempuan kecil dengan pria dewasa secara ijmak. Walaupun masih dalam gendongan. Akan tetapi melakukan hubungan intim sampai pantas masa untuk itu. (b) wanita dewasa yang masih perawan, terdapat perbedaan pandangan ulama yang empat mengenai boleh tidaknya menikahkan anak perempuan baligh yang perawan secara paksa. Sikap ulama dalam soal ini dapat dikategorikan dalam dua pendapat. pertama, ayah boleh memaksa anak perawannya untuk menikah. Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid mengutip beberapa pendapat ulama yang membolehkan ayah memaksa nikah anak perempuan baligh yang perawan sebagai berikut:

Artinya : Ulama berbeda pendapat soal apakah ayah dapat memaksa anak perempuanya yang perawan dan baligh untuk menikah atau tidak. Imam Malik, Imam Syafi’i, Ibnu Abi Laila berpendapat boleh memaksa selagi pemaksaan itu tidak menimbulkan bahaya yang jelas baik pada anak perempuan yang masih kecil atau baligh. Alasan mereka adalah apabila ayah dapat menikahkan anak yang masih kecil, maka berarti boleh menikahkan saat mereka sudah besar.

kedua menyatakan bahwa ayah atau wali lain tidak boleh dan tidak berhak memaksa gadis perawan untuk menikah. Kalau hal itu terjadi, maka pernikahannya tidak sah.  Dan status pernikahannya menunggu ijin dari wanita yang bersangkutan.  Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan ulama madzhab Hanafi, Auza’i, Tsauri, Abu Tsaur, Abu Ubaid, Ibnu Mundzir dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Janda lebih berhak atas dirinya sedang perawan diminta ijinnya. Dan diamnya seorang perawan itu tanda persetujuan.

Perlu dicatat, bahwa perbedaan pendapat ulama tentang boleh tidaknya wali memaksa nikah tersebut terbatas pada wali mujbir yakni ayah dari perempuan. Sedangkan wali non-mujbir, maka ulama sepakat tidak boleh menikahkan perempuan perawan tanpa ijin dari wanita tersebut. Dan  (c) perempuan janda, Adapun tentang perempuan janda, maka ulama dari keempat madzhab  sepakat tidak bolehnya wali mujbir untuk melakukan nikah paksa tanpa ijin dari yang bersangkutan. Hal itu karena jelas dan eksplisitnya hadits Nabi yang menyatatakan: (janda lebih berhak atas dirinya sedangkan perawan dimintai izinnya). Hal ini juga sesuai dengan firman Allah QS Al-Baqarah 2:232

 Artinya : maka janganlah kamu para wali menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan diantara mereka.

Maka dari itu sudah sangat jelas dalam perihal ini, wali mujbir tidak diperbolehkan memaksa seorang janda untuk melakukan nikah paksa dikarenakan atau dengan asumsi janda itu telah bisa menentukan pilihannya sendiri.

Pernikahan yang dilakukan dengan secara paksa yang pada dasarnya tidak ada rasa cinta diantara kedua belah pihak akan menjadi letak titik kesulitan dalam menjalani kehidupan bersama. Dengan demikian dapat memicu faktor terjadi hal-hal yang tidak baik, seperti kurangnya rasa tanggung jawab dari kedua belak pihak. Sehingga dalam menjalani kehidupan itu akan terjadi sikap yang egoisme atau individualisme. Nikah paksa juga memiliki dampak negatif dalam  jangka panjang yakni dapat menimbulkan perselingkuhan dan tak jarang juga sampai kepada perceraian.

Nikah paksa selain dampak negatif juga memiliki dampak positif. Dampak positifnya adalah jika dijalani dengan ikhlas maka lambatlaun akan menjadikan atau memberikan kebahagiaan untuk kedua belah pihak, karena hal tersebut adalah pilihan yang terbaik yang dipilihkan oleh orang tua dan juga sanggup membuat orang tua bahagia. Namun, meskipun demikian pilihan terbaik dari orang tua belum tentu terbaik buat anaknya yang hendak menikah. Oleh karena itu semuanya harus dikembalikan kepada hukum syar’i.

 

  1. Kesimpulan

Masalah nikah paksa merupakan trend baru yang sering di perbincangkan akhir-akhir ini walaupun sebenarnya masalah tersebut merupakan masalah klasik. Namun, faktor pernikahan paksa pada saat ini lebih kepada masalah perekonomian yang berujung kepada perdangan anak. ini lebih sering didengar dengan sebutan nikah pesanan. Bahkan di negara tertentu memiliki seorang anak perempuan merupakan aset tersendiri bagi para orang tua. seperti halnya kasus yang di sebutkan di awal pembahasan. Menurut analisis penulis hadis tentang hadis yang pertama bahwa janda wajib di mintai ijinnya intinya seorang janda lebih berhak atas dirinya dari pada orang tuanya sedangkan seorang gadis tidak karena dalam hadis di atas jelas dibedakan antara janda dan gadis (perawan). Hal tersebut sesuai dengan pendapat imam syafi’i dan pada awalnya hak wali mujbir itu hanya kepada ayah saja. Karena ayah sang gadis lebih tahu yang terbaik buat anaknya. Namun kasus di atas bertentangan dengan pendapat ini yang menyatakan bahwa seorang ayah akan memberikan yang terbaik kepada anaknya. Dimana seorang anak sering dianiaya oleh ayahnya sendiri.


*) Mahasiswa UIN SUNAN KALIJAGA Yogyakarta – Berasal dari Padang Lawas Sumatera Utara

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.