Home » Tabagsel » Tuntut Pelayanan Maksimal PLN – Aksi Massa Paluta Berakhir Ricuh

Tuntut Pelayanan Maksimal PLN – Aksi Massa Paluta Berakhir Ricuh

(Analisa/tohong p harahap) BENTROK: Massa PP Paluta saat bentrok dengan polisi di halaman Kantor PLN Gunung Tua, Kamis (3/12).

Paluta, Aksi massa yang tergabung dalam Satuan Mahasiswa Pan­casila (SAPMA PP) Kabupaten Paluta menuntut pelayanan maksimal PLN terhadap konsu­men di wilayah Simangambat dan sekitarnya, berakhir ricuh dengan pihak kepolisian di halaman Kantor PLN Unit Gunung Tua, Kamis (3/12).

Awalnya massa yang menggelar aksi di depan kantor PLN Gunung Tua berjalan dengan tertib dengan pengawalan ketat dari Polres Tapsel dan Satpol PP Paluta. Namun disaat Manager PLN Gunung Tua menyahuti aspirasi massa, tiba-tiba aksi dorong-dorongan antara massa dan Polres Tapsel pun terjadi sehingga membuat suasana sedikit gaduh.

Aksi dorong antar polisi dan maha­siswa yang menolak untuk mundur pun tak bisa dihindari. Akhir­nya aparat kepolisian dengan jumlah yang lebih banyak berhasil memukul mun­dur massa keluar dari halaman Kantor PLN Gunung Tua.

Dalam aksinya, pimpinan aksi Yusuf Fajar Siregar mengungkapkan listrik telah menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Tak hanya perkantoran, kampus, sekolah, rumah sakit dan bisnis jasa tetapi sebagian besar fasilitas public hingga usaha ekonomi kecil dan kon­sumen rumah tangga bergantung sepenuhnya pada akses listrik dari PLN.

Lanjutnya, pemadaman listrik yang terus terjadi pada hari Sabtu dan Minggu begitu juga diwajibkan pada tanggal 10, 20 dan 30 tiap bulannya membawa dampak begitu besar pada banyak sektor kehidupan masyarakat di 12 desa di Kecamatan Simangam­bat, Ka­bu­paten Paluta.

Selain itu, tidak mak­simalnya pelayanan PLN terhadap konsumen di Paluta khususnya di Kecamatan Simangambat, maka SAPMA PP Paluta sebagai jaringan solidaritas dari or­ganisasi yang mewadai para pelajar, mahasiswa, pemuda dan 12 warga desa yang terkena dampak pema­daman listrik menyampaikan tuntutan.

Pertama, SAPMA PP Paluta men­duga akar utama dari persoalan pema­daman listrik yang sering terjadi di 12 desa dan sekitarnya adalah unsur kesengajaan yang dilakukan pihak PLN Gunung Tua terha­dap masyara­kat pelanggan.

Kedua, dalam analisis dan investi­gasi ke lapangan, pohon kelapa sawit milik PT ANJ adalah pemicu terjadi­nya pe­madaman listrik di 12 desa yang dikarenakan pohon kelapa sawit tersebut telah mengganggu aliran listrik dan telah diberikan tanda merah oleh pihak PLN.

Ketiga, PLN juga telah mengang­kangi UU No. 30 tahun 2009 pasal 27 ayat 1 dengan isi kepentingan umum, pemegang izin usaha penyedia tenaga listrik dalam menja­lankan usaha berhak untuk melintasi di atas atau di bawah bangunan yang di bangun di atas atau di bawah tanah, selanjutnya di pasal 1 huruf G dikatakan bahwa izin usaha pe­nyediaan tenaga listrik dalam men­ja­lankan usahanya berhak untuk mela­kukan pemotongan atau penebangan pohon yang mengha­langinya.

Namun nyatanya, pohon kelapa sawit yang sudah diberi tanda merah oleh pihak PLN milik PT ANJ belum juga di tebang, padahal itu merupakan salah satu penyebab tergang­gunya aliran listrik di 12 desa di Kecamatan Simangambat.

Senada disampakan koor­dinator lapangan Fahrur Rozi Harahap. Ia mendesak PLN Gunung Tua untuk segera menebang pohon kelapa sawit milik PT ANJ seluas 120 Ha yang mengganggu arus listrik di 12 desa sesuai dengan UU Nomor 30 tahun 2009 tentang ketenagalistrikan.

Kemudian, mendesak agar mana­ger PLN Gunung Tua untuk turun dari jabatannya karena diduga kuat telah sengaja mem­backup PT ANJ dalam memulus­kan aktivitas perusa­haan yang telah mengganggu kepenti­ngan umum.

“Kami menduga adanya du­gaan praktek suap yang dilakukan PT ANJ kepada PLN Gunung Tua agar pohon kelapa sawit tersebut serta mendesak DPRD Kabupaten Paluta untuk me­mang­gil manager PLN Gunung Tua dan PT ANJ untuk meminta pertang­gung­ja­waban atas diskrimi­nasi yang di­la­kukan PLN Gunung Tua,” teriaknya.

Terpisah, Ketua SAPMA PP Kabupaten Paluta Gontar Alam­syah Siregar sangat menya­yangkan sikap pihak pengamanan yang diberikan oleh Polres Tapsel padahal apa yang SAPMA PP Paluta suarakan itu merupakan untuk kepentingan masya­ra­kat yang berada di 12 desa di Ke­camatan Simangambat.

Bantah

GM PT ANJ AGRI Kebun Binanga Nurwachid dikonfirmasi wartawan membantah bahwa pihaknya melaku­kan pembiaran kebun sawit sehingga terjadi gangguan listrik di wilayah Sima­ngambat. Bahkan menurutnya, PT ANJ AGRI secara rutin melakukan pembersihan sawit yang menganggu areal listrik disepanjang kebun peru­sahaan. (ong)


(Analisa).

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.