Home » Berita, Tabagsel » Palas Daerah Potensial Tapi Warganya Hidup Menderita

Palas Daerah Potensial Tapi Warganya Hidup Menderita

AKS,PALAS- Kabupaten Padang Lawas (Palas) merupakan daerah yang menyimpan potensi sumber daya alam terutama potensi agraris yang sudah tidak diragukan lagi. Malah kabupaten yang terbentuk dari hasil pemekaran kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) ini merupakan kawasan penyumbang kontribusi terbesar bagi devisa saat menjadi bagian dari kabupaten Tapsel sebelum menjelang akhir tahun 2007 yang silam.

Terkait dengan potensi dan kekayaan alam yang dimiliki Padang Lawas, itu sungguh kenyataan. Lihat saja potensi alam yang meliputi sektor perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan dan pertambangan. Potensi-potensi tersebut terdapat hampir merata di seluruh kecamatan se-Kabupaten Palas. Bahkan kabupaten Tapsel dulu terkenal secara nasional salah satunya adalah berkat potensi alam yang dimiliki kawasan Barumun Raya ini.

Berbicara tentang potensi dan kekayaan alam yang dimiliki Padang Lawas, itu sungguh kenyataan. Lihat saja potensi alam yang meliputi sektor perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan dan pertambangan. Potensi-potensi tersebut terdapat hampir merata di seluruh kecamatan se-Kabupaten Padang Lawas. Bahkan Tapanuli Selatan (Tapsel) dulu terkenal secara nasional salah satunya adalah berkat potensi alam yang dimiliki kawasan Barumun Raya ini.

Potensi perkebunan dan pertanian, misalnya terlihat seperti di kecamatan Sosa, kecamatan Hutaraja Tinggi, di kecamatan Batang Lubu Sutam, kecamatan Sosopan, kecamatan Barumun Tengah dan kecamatan Huristak. Khusus sektor perkebunan besar jenis kelapa sawit telah membuat kecamatan Sosa dan sekitarnya, kecamatan Barumun Tengah, kecamatan Huristak, Lubuk Barumun dan kecamatan Barumun menjadi penyumbang kontribusi besar terhadap daerah Tapsel dulunya dan Palas sekarang.

Selain potensi di bidang perkebunan dan pertanian, Palas juga memiliki potensi alam yang kaya di sektor pertambangan seperti Batu Bara di kecamatan Sosopan dan Sosa. Timah hitam di kecamatan Batang Lubu Sutam, Ulu Barumun, kecamatan Sosa dan Sosopan. Kemudian minyak bumi di kecamatan Barumun Tengah (Lapangan Tonga I dan Lapangan Tonga II). Itu ditambah lagi dengan bahan galian non logam seperti kapur, marmer, granit dan batu gamping di kecamatan Sosopan serta Pasir Kuarsa di kecamatan Huristak dan kecamatan Barumun Tengah.

Potensi dan kekayaan lain yang dimiliki Padang Lawas adalah di sektor pariwisata yang baru saja ditemukan, memiliki prospek dan peluang untuk memaksimalisasi pemasukan devisa untuk daerah Palas sendiri dan kemudian mengantarkan warga di daerah ini terlepas dari cengkeraman kemiskinan. Objek wisata itu adalah lokasi Aek Milas di desa Paringgonan, kecamatan Ulu Barumun, kabupaten Palas ini berasal dari panas bumi. Aek berarti air, sedangkan milas berarti panas.

Objek wisata lain adalah Danau Gayambang sebagai salah satu potensi daerah kabupaten Palas di bidang pariwisata terutama wisata bahari. Danau ini terletak di desa Ujung Batu, kecamatan Sosa. Kemudian Aek Siraisan yang selama ini banyak dikunjungi para wisatawan lokal karena mengenal tempat ini sebagai pemandian alam yang telah dijadikan sebagai objek wisata dimiliki kabupaten Palas. Objek wisata ini terletak di desa Siraisan, kecamatan Ulu Barumun. Dengan pemandangan alam yang masih perawan serta kejernihan air sungai merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi para pengunjungnya.

Dua batu besar mengapit sebuah sungai di desa Lubuk Koman kecamatan Lubuk Barumun untuk selanjutnya disebut Objek Wisata Batu Nadua, salah satu dari potensi wisata air yang dimiliki kabupaten Padang Lawas. Keunikan objek wisata yang satu ini, itu tadi terdapat dua batu besar yang mengapit daerah aliran sungai (DAS) Barumun.

Hidup Miskin
Upaya mewujudkan pengentasan kemiskinan sebagai program nasional tekesan tidak menjadi skala prioritas sama sekali di kabupaten Palas. Ini ditandai dengan penanganan kawasan terisolir seperti sengaja diabaikan oleh pemerintah kabupaten Palas terutama tahun-tahun terakhir ini. Penanganan kawasan terisolir dengan solusi pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan tidak dikedepankan, tetapi fasilitas kaum pejabatnya seperti menunjukkan daerah terisolir semuanya sudah ditangani dan hasilnya termssuk fasilitas kenderaan mewah untuk pejabat dan wakil rakyatnya.

Akibatnya Palas hingga sekarang masih terpuruk jika ditinjau dari potensi dan kekayaan alamnya yang begitu besar. Daerah kaya dan potensial ini ternyata memiliki 85.000 jiwa lebih atau lebih dari 35 persen dari 206.286 jiwa jumlah penduduk Palas masih hidup miskin. Mereka yang tidak beruntung ini adalah kebanyakan penduduk kawasan terisolir seperti kecamatan Sihapas Barumun, sejumlah desa di kecamatan Barumun Tengah yang berbatasan dengan kecamatan Sihapas Barumun, kawasan desa Siborna Bunut, kecamatan Sosa, 11 desa di kawasan Pulo Bariang, kecamatan Huristak.

Terkait dengan hal ini, Amrin Hasibuan, aktifis peduli kawasan terisolir Palas kepada Perjuangan Baru via telephon selular, Selasa (19/4) petang mengatakan hal itu terjadi jelas sebagai akibat tidak adanya komitmen pemkab Padang Lawas mewujudkan perubahan nyata yakni menggali potensi daerah, dari potensi di sektor pertanian dan perkebunan, pertambangan sampai potensi di sektor pariwisata untuk kemudian dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Palas melalui penggunaan anggaran daerah untuk membuka akses ke kawasan terisolir tersebut.

“Kecuali mereka hanya lebih fokus terhadap upaya memperkaya diri, ramai-ramai menikmati gelimang fasilitas yang dibeli dari uang rakyat seperti mobil mewah dan tunjangan-tunjangan lainnya tetapi mereka meninggalkan rakyat. Akibatnya sebagian besar masyarakat menilai bahwa pemekaran Tapsel yang membentuk Palas sebagai kabupaten baru itu belum membawa manfaat apa-apa bagi kehidupan masyarakat luas di daerah tersebut,” tegas putra desa Balangka, kecamatan Sihapas Barumun itu.

Bahkan ada sinyalemen yang mengatakan bahwa kawasan ini justru terpuruk setelah menjadi Palas sebagai kabupaten tersendiri. Indikasinya adalah kondisi sejumlah kawasan terisolir yang tidak pernah menjadi fokus perhatian dari pemerintah Palas, tetapi perhatian terhadap kawasan-kawasan itu justru ada sewaktu kawasan ini menjadi bahagian dari kabupaten Tapsel di bawah kepemimpinan Bupati Ongku P. Hasibuan pada masa bhakti 2005 – 2010.

Salah satu contoh adalah kecamatan Batang Lubu Sutam yang kemudian disebut-sebut sebagai kecamatan paling miskin sejak dulu mendapat perhatian dari Pemkab Tapsel pada tahun 2007. Siborna berpenduduk 1.700 jiwa lebih menghuni enam lorong di sana merasakan belum adanya nikmat kemerdekaan di usia 66 tahun lebih RI Merdeka ini.

Di kecamatan Huristak, dari Pasar Huristak ibukota Kecamatan melalui desa Tanjung Morang menuju desa Tanjung Baringin sampai desa Sigading hanya sejauh sembilan kilometer juga hingga saat ini belum pernah tersentuh pembangunan sejak kawasan ini menjadi kabupaten Padang Lawas.

Sejumlah problema yang menghempang perjalanan Palas di atas itulah yang dituntut masyarakat untuk secepatnya dituntaskan. Masyarakat sudah lama menanti perubahan dari problema kawasan terisolir menjadi kondisi Padang Lawas yang benar-benar menjadi kabupaten yang terbebas dari problema yang intinya untuk mengantar masyarakatnya lepas dari cengkeraman kemiskinan.

Kapan kehidupan warga Palas itu bebas dari penderitaan yang selama ini mereka jalani ? Jawabannya tentu dengan kemampuan pengambil keputusan di Palas untuk berbuat tidak untuk memperkaya diri, tetapi demi kepentingan rakyat dan daerah. Keinginan itu tidak akan terwujud jika masih menganggap sosial kontrol pers dan aktifis peduli Palas sebagai gangguan terhadap pemerintahan di daerah ini. Kiranya perubahan itu secepatnya menjadi kenyataan. Semoga !!!

Satu unit kenderaan roda empat (pick up) tumpangan warga kecamatan Sihapas Barumun terpaksa dibantu dorong memakai tenaga penumpang sendiri saat melewati jalan yang kupak-kapik. Foto diambil Rabu, 27 Januari yang lalu.
Penulis laporan : BALYAN KADIR NASUTION

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.