Home » Sumut » Petani Karet di Tapteng Meratap

Petani Karet di Tapteng Meratap

 Meratap Dua orang petani sedang menimbang getah sisa sadapan minggu lalu. Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Tapteng sepekan terakhir, menyebabkan para petani karet tidak bisa memanen getah karetnya. (medanbisnis/putra hutagalung)


Meratap Dua orang petani sedang menimbang getah sisa sadapan minggu lalu. Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Tapteng sepekan terakhir, menyebabkan para petani karet tidak bisa memanen getah karetnya. (medanbisnis/putra hutagalung)

Kolang. Cuaca buruk berupa hujan deras disertai angin kencang yang melanda kawasan pantai barat Sumatera Utara (Sumut), khususnya wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) selama sepekan terakhir, terutama tiga hari terakhir, mengakibatkan terkendalanya aktifitas para petani karet. Akibat hujan badai itu, mereka tidak dapat menyadap getah untuk dijual guna memenuhi belanja kebutuhan setiap hari.

“Susah kalau sudah begini, hujan terus, kita tidak bisa apa-apa. Bisa dibilang, kondisi ini membuat kami meratap. Bagaimana tidak, pendapatan dari penjualan karet merupakan sumber penghasilan kami satu-satunya di sini. Kalau hujan, karet tidak akan bisa disadap secara maksimal. Kalaupun dipaksakan, kualitasnya akan sangat rendah sehingga tidak laku,” ujar Riri Mendrofa, petani karet warga Aek Raso, Kecamatan Kolang, saat ditemui disalah satu warung, Kamis (25/8).

Terpisah David Zebua, penyadap karet warga Desa Kebun Pisang, Kecamatan Badiri, menuturkan perekonomian para petani karet di daerah tersebut dalam kurun waktu dua tahun terakhir selalu tertekan, seiring harga getah karet yang masih sangat rendah disusul cuaca yang kerap tidak berpihak kepada para petani.

“Harga karet saat ini hanya Rp 4.000/kg, paling tinggi itu Rp 6.000-an/kg yang kualitasnya sudah bagus. Sejak akhir tahun 2014 lalu harganya begitu-begitu aja, tidak ada kenaikan harga signifikan. Bila hujan terus menerus begini, kami pasti makin susah. Bagaimana kami mau makan, apalagi menyekolahkan anak kalau kondisi cuaca masih hujan deras terus melanda, apalagi disertai angin kencang yang bisa mengancam keselamatan,” keluh David kepada MedanBisnis dihari yang sama.

Sementara itu informasi diperoleh awak koran ini dari pihak Balai Besar Meteorologi Klimatologidan Geofisika (BMKG) Wilayah I, cuaca hujan disertai angin kencang atau badai masih cenderung mendominasi wilayah pantai barat Sumut dalam sepekan ini.

“Adanya gangguan cuaca berupa tekanan rendah di wilayah Laut China Selatan membawa angin barat melewati wilayah Sumbagut. Kondisi demikian dapat memicu pertumbuhan awan di daerah tersebut. Cuaca umumnya berpeluang hujan pada sore atau malam hari dengan intensitas ringan hingga lebat untuk wilayah Sumut disertai guntur dan angin kencang. Waspada terjadinya hujan yang disertai angin kencang dan guntur,” himbau petugas Prakiraan (Forecaster) BMKG Wilayah I Endah Paramita saat dikonfirmasi melalui ponselnya.

(putra hutagalung) – medanbisnisdaily.com

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.