Home » InfoUnik » Ular Cabe Merah Indonesia, Cantik, Mematikan, Tapi Juga Menyembuhkan

Ular Cabe Merah Indonesia, Cantik, Mematikan, Tapi Juga Menyembuhkan

Ular Cabe Merah Indonesia, Cantik, Mematikan, Tapi Juga Menyembuhkan

Ular Cabe Merah (Calliophis bivirgata)
Tom Charlton/University of Queensland

Sulit untuk menggambarkan keunikan ular cabe merah (Calliophis bivirgata). Ular yang tersebar di luas di Indonesia cantik, mematikan, namun juga sekaligus menginspirasi penyembuhan rasa sakit.

Bisa ular tersebut akan memicu kejang luar biasa dan paralisis. Jika digigitnya, manusia akan mengalami kematian yang mengerikan.

Namun, bila senyawa dalam bisa ular tersebut dipelajari, niscaya obat penyembuh rasa sakit yang lebih ampuh dari morfin akan didapatkan.

Bryan Fry, peneliti dari University of Queensland mengungkapkan, ular dengan garis biru serta kepala dan ekor merah itu adalah “pembunuh para pembunuh”.

“Ular ini punya spesialisasi membunuh ular berbisa lainnya, termasuk king cobra. Jadi menyenangi permainan mematikan,” jelasnya seperti dikutip Science Alert, Senin (31/10/2016).

“Ular itu juga punya kelenjar penghasil bisa terbesar di dunia, ukurannya mencapai seperempat panjang tubuhnya,” imbuh Fry.

Baru-baru ini, Fry meneliti kandungan pada bisa ular cabe merah. Ia menemukan senyawa yang mampu memengaruhi kerja saraf, disebut calliotoxin.

Calliotoxin inilah yang membuat ular cabe merah sangat mematikan. Racun itu mengganggu kanal sodium, sebuah jalur yang menyebabkan saraf tertentu aktif dan tidak aktif.

Calliotoxin akan membuat kanal sodium dalam jaringan saraf mangsanya terus hidup sehingga mengalami kram, kejang, dan paralisis.

Bagi Fry dan rekannya, Jennifer Deuis, cara kerja calliotoxin tersebut menarik. Sebab, kanal sodium jugalah yang memengaruhi munculnya rasa sakit yang dialami manusia.

“Menghambat kanal sodium adalah cara penyembuhan yang menjanjikan untuk mengatasi rasa sakit,” jelas Deuis kepada Washington Post, kemarin.

Calliotoxin juga menarik sebab berasal dari hewan bertulang belakang. Dengan demikian, senyawa itu bekerja pada sistem yang lebih mirip dengan manusia.

Jangan membayangkan pada masa depan ilmuwan akan “memera” bisa dari ular cabe merah. Bukan itu yang ada dalam bayangan Fry dan rekan. Fry mengatakan, yang akan dikembangkan adalah senyawa sintetis dari calliotoxin.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal Toxin minggu ini memberi gambaran betapa pun mematikan suatu makhluk, tetap saja ada manfaatnya.

“Jika saja kita menrusak keanekaragaman hayati itu, akan sulit untuk mendapatkan mafaat ekonominya.” kata Fry.


KOMPAS.com

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.