Home » Artikel, Headline, Tabagsel » Mafia Di Dunia Pendidikan, Sebuah Catatan Melawan Mafia Oleh Taufik Akbar Hasibuan, “ Mahasiswa Pascasarjana IAIN Padangsidimpuan ” Guru Belum Sertifikasi Di Palas

Mafia Di Dunia Pendidikan, Sebuah Catatan Melawan Mafia Oleh Taufik Akbar Hasibuan, “ Mahasiswa Pascasarjana IAIN Padangsidimpuan ” Guru Belum Sertifikasi Di Palas

%name Mafia Di Dunia Pendidikan, Sebuah Catatan Melawan Mafia Oleh Taufik Akbar Hasibuan, “ Mahasiswa Pascasarjana IAIN Padangsidimpuan ” Guru Belum Sertifikasi Di Palas

Taufik Akbar Hasibuan “Mahasiswa Pascasarjana IAIN Padangsidimpuan” Salah Satu Guru Yang Belum Sertifikasi Di Kabupaten Padang Lawas

Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang orang-orang di Sisilia memasuki pada Abad Pertengahan untuk tujuan perlindungan dan penegakan hukum sendiri (main hakim). Konfederasi ini kemudian mulai melakukan kejahatan terorganisir. Anggota Mafia disebut “mafioso”, yang berarti “pria terhormat”.

Mafia asal muasal kata dari Italia, adalah suatu organisasi rahasia pada umumnya bersifat kriminalistis. Ada pemimpinnya, biasa dijulukin “godfather” dan anggota nya di panggil “mafioso -atau mafiosi”. Pekerjaannya dulunya sebagai kelompok pemeras/preman, berkecimpung juga dalam prostitusi, perjudian, pengedar narkoba, menjadi organisasi ‘centeng’. Pokoknya pekerjaan cari nafkah secara kriminal.

Kini istilah itu jadi istilah umum pada bidang apa saja bila ada kelompok yang memeras, mengancam, dan mencari untung dengan cara-cara yang tidak umum, jahat, tidak halal, menistakan tatakrama dan hukum .disebut “mafia” atau “permafia’an” dalam perbendaharan kata dalam bahasa Indonesia. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Mafia, juga dirujuk sebagai La Cosa Nostra (bahasa Italia: Hal Kami), adalah panggilan kolektif untuk beberapa organisasi rahasia di Sisilia dan Amerika Serikat. Mafia melebarkan sayap ke Amerika Serikat melalui imigrasi pada abad ke-20. Kekuatan Mafia mencapai puncaknya di AS pada pertengahan abad ke-20, hingga rentetan penyelidikan FBI pada tahun 1970-an dan 1980-an agak mengurangi pengaruh mereka. Meski kejatuhannya tersebut, Mafia dan reputasinya telah tertanam di budaya populer Amerika, difilmkan di televisi dan bahkan iklan-iklan.

Bagaimana di dunia pendidikan? Dunia yang memiliki kompleksitas permasalahan, baik intren, atau extren. Apakah dunia Mafia ada dalam dunia pendidikan kita? Terlebih pasca Otonomi daerah? Berbicara tentang hal ini, tentu perlu penyelidikan lebih dalam tentang dunia mafia di dunia pendidikan kita saat ini, apalagi pendidikan di daerah Kabupaten/kota. Dimana Bupati/Walikota memiliki wewenang penuh untuk mengatur pegawai daerahnya, terkhusunya para guru-guru.

Merujuk pada pengertian umum di atas. Maka ada beberapa hal yang bisa kita jadikan asumsi awal dalam melihat lebih jauh organisasi massif atau aktif Mafia pendidikan di daerah, hal ini berdasarkan pengamatan di lapangan, dan juga kisah-kisah para guru yang menjadi korban kekejaman Mafioso. kelompok yang memeras, mengancam, dan mencari untung dengan cara-cara yang tidak umum, jahat, tidak halal, menistakan tatakrama dan hukum.

Inilah beberapa catatan saya
Sebagai pilar utama dalam pendidikan, Guru sangat berperan aktif maju mundurnya pendidikan, akan tetapi melihat data yang di keluarkan oleh Kementerian pendidikan hasil dari Uji Kompetensi Guru (UKG), untuk provinsi Sumatera Utara menempati pada posisi ke 23 dari tingkat nasional. Sedangkan Kabupaten Padang Lawas. Kompetensi Guru di Kabupaten Padang lawas menempati pada posisi ke 30 dari 34 Kabupaten/Kota Se-sumatera Utara.

Membaca data ini sebagai warga padang Lawas tentunya kita tercengang, dimana anggaran pendidikan kita di alokasikan 20 % untuk pendidikan, namun hasil yang di dapatkan sungguh sangat mengecewakan.

Apa penyebabnya?

Apakah ada kaitannya dengan Mafioso?
Mari coba kita analisis lebih jauh!!!
salah satu cara meningkatkan mutu Guru adalah dengan melaksanakan kegiatan pelatihan-pelatihan secara berkala, pembentukan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Pemberian bantuan beasiswa bagi yang melanjutkan studi.

Bagaimana di Padang Lawas?

a. Pelatihan yang menambah ilmu, wawasan keguruan, mendatangkan narasumber yang kompeten adalah hal yang sangat jarang terjadi. Jikalau pun ada maka itu bisa di pastikan diakhir tahun, dengan pengadaan yang amburadul.

b. MGMP sebagai wadah para guru untuk menyamakan persepsi, mendiskusikan segala persoalan pendidikan di lingkungannya. Justru hingga hari ini MGMP belum terbentuk di Kabupaten Padang Lawas.

c. Gonta ganti pengambil keputusan di lingkungan sekolah, menjadi indikator sukses pendidikan tidak berjalan efektif. Dengan kata lain, kebijakan – kebijakan setiap kepala sekolah cenderung setengah hati, khawatir akan adanya reshuffle.

d. Politisasi kepala sekolah. Ketika dunia pendidikan di masuki kepentingan politik praktis, maka alamat hancurlah pendidikan. Maka tak ayal lagi pendidikan akan menjadi “ATM BERSAMA”.

e. Kualitas. Jangan sekali sekali menafikan kualitas, kemajuan lembaga pendidikan tidak terlepas dari kualitas dari pucuk pimpinannya. Jika hanya alasan ” dekat, dan pendekatan” menjadi pilihan utuk menempatkan Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah. Tanpa mempertimbngkan kualitas. Bak kata Rasulullah SAW ” maka tunggulah kehancuran”

Dengan kata lain inisiatif pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan masih jauh dari yang di harapkan. Soal anggaran tentunya sudah kita pahami bersama, seperti yang di sampaikan Presiden Jokowi : “dananya Ada, Masalahnya Mau tidak?” dananya di kemanakan?. Apakah Mafioso telah ikut andil di dalamnya?

Sekarang mari kita lihat dari Kesejahteraan Guru

Guru adalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan hidup seperti layaknya manusia lainnya. Artinya seorang guru juga perlu untuk mendapatkan kesejahteraan hidupnya, istri, anak dan seluruh keluarga yang jadi tanggung jawabnya.
Maka sangat ironis, ketika guru di grogoti lewat iuran-iuran yang tidak tahu ujung pangkalnya. Biaya-biaya tambahan dalam segala urusan administrasinya. Untuk SK Dirjen bagi guru yang telah sertifikasi harus mengeluarkan biaya yang aduhai.
Belum lagi ketika guru Miskin menerima tunjangan Tambahan Penghasilan, maka Tukang Sunat Musiman Akan bermunculan di Dinas Pendidikan. Inilah yang saya maksud sebagai Mafioso, di dunia pendidikan yang berimbas semangat guru untuk mendidik generasi masa depan, tidak lagi bereorientasi Kemaslahatan, akan tetapi telah berubah menjadi kecemasan.

Sekali-sekali kita perlu berkaca ke provinsi tentangga yaitu, Pekanbaru.
Nah bagaimana mengatasi itu semuanya, mofioso-mafioso yang telah tertanam di dunia pendidikan. Ada beberapa cara yang perlu kita lakukan, tentunya semua elemen masyarakat pendidikan harus bersinergi memberantas Mafioso ini. Saya kutip sebuah syair dari Whiji Tukul:

Aku ingin perubahan

Tapi!!!
Mana mungkin kalau aku sendirian
Aku ingin perubahan

Tapi !!!
Mana mungkin Kalau diam
(tentang perubahan)

Dengan kata lain. Segala bentuk mafia-mafia yang memeras, mengancam, dan mencari untung dengan cara-cara yang tidak umum, jahat, tidak halal, menistakan tatakrama dan hukum. Harus kita lawan bersama-sama. Caranya “jangan Mau”. Ingatlah filsofi Sapu Lidi. Maka ketika kita telah bersatu memberantas ini, mafia-mafia di dunia pendidikan akan bisa kita lawan.

Semoga sistem pendidikan dan kualitas pendidikan di Padang Lawas ini Kedepanya akan semakin meningkat. Amin

Penulias : Taufik Akbar Hasibuan
“Mahasiswa Pascasarjana IAIN Padangsidimpuan”
Salah Satu Guru Yang Belum Sertifikasi Di Kabupaten Padang Lawas

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.