Home » Kesehatan » Menjadikan DIABETES Sebagi Teman Baik, Maka Pengidap Diabetes Bisa Survive!

Menjadikan DIABETES Sebagi Teman Baik, Maka Pengidap Diabetes Bisa Survive!

diabetes Menjadikan DIABETES Sebagi Teman Baik, Maka Pengidap Diabetes Bisa Survive!

Foto: ilustrasi/thinkstock

Surabaya, Tak ada yang bisa sembuh total dari diabetes, termasuk penyandang diabetes tipe 2. Dokter pun mengatakan kuncinya adalah menjadikan kondisi ini sebagai ‘teman baik’. Apa maksudnya?

Karena akan hidup bersama si penyandang untuk seumur hidupnya, maka diabetes harus dikendalikan. Caranya adalah menjaga gula darah agar tetap terkontrol.

“Bila sudah ketahuan diabetes, kuncinya tidak hanya mengendalikan gula darah, tetapi juga tekanan darah, kadar lemak darah dan berat badan,” tegas dr Soewarno, SpPD dari RSAL Dr Ramelan Surabaya, Kamis (23/2/2017).

Apa indikator terkendali menurut medis? Pertama, kadar gula darah pasien saat berpuasa atau tidak makan mencapai 80-130 mg/dL; HbA1c-nya kurang dari 7; LDL kurang dari 100; HDL kurang dari 40 untuk pria dan kurang dari 50 untuk wanita. Aspek lainnya yaitu tekanan darah kurang dari 140/90 dan indeks massa tubuh (IMT) yang berkisar antara 18,5-23.

Dengan menjadikan diabetes ‘teman baik’, maka ini juga akan memotivasi sekaligus memudahkan seseorang untuk mengendalikan kondisinya. Lantas apa saja yang bisa menunjang upaya ini? Menurut dokter, apapun bisa dilakukan oleh penyandang diabetes, asalkan teratur dan terukur.

“Misal soal makanan, diabetes itu tidak ada pantangan makan tapi makannya memang harus teratur dan terukur. Ukurannya hanya dikurangi dari porsi biasa, karena ini juga menentukan kandungan kalorinya,” papar dr Soewarno.

Begitu juga dengan porsi olahraga dan istirahat. Bahkan untuk penyandang diabetes yang sudah masuk usia lanjut, mereka cukup tidur selama 3-4 jam saja, tak perlu sampai 8 jam, asalkan berkualitas (deep sleep).

Olahraganya juga tak perlu berat, bisa dengan jalan kaki, senam lansia, atau sepeda santai.

Sedangkan untuk pencegahan, dr Soewarno menyarankan agar setiap orang mulai memperhatikan gaya hidupnya per usia 30 tahun. Di antaranya memperbaiki pola makan dan menghentikan segala kebiasaan buruk seperti merokok, menurunkan tekanan darah serta berat badan.

“Kalau baru berubah ketika sudah lansia ya sudah nggak ada gunanya. Lagipula kebiasaan ini juga cocok dengan (upaya) pencegahan penyakit degeneratif dan memperpanjang umur,” pesannya.

Ditambahkan dokter yang juga berpraktik di RS Khodijah Sidoarjo tersebut, perubahan gaya hidup sulit dilakukan seorang diri. Bila ingin berhasil, semua pihak harus berperan, termasuk keluarga maupun masyarakat di sekitarnya, mengingat pengaruhnya sangat besar terhadap gaya hidup satu sama lain.

(lll/up)

REDAKSI, PENGIRIMAN BERITA dan INFORMASI PEMASANGAN IKLAN
HUBUNGI: apakabarsidimpuan@gmail.com.com

READ MORE

STOP-HIV-AIDS

Belum Ada Komentar

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.