“Boroe Tapanoeli”, Trompet Kepoetrian dari Padang Sidempuan

Boroe Tapanuli

Sudah sejak awal, pergerakan perempuan menyadari arti penting keberadaan surat kabar sebagai alat perjuangan untuk menyemai gagasan-gagasan dan pendidikan demi kemajuan perempuan. Hal ini misalnya dapat dilihat dengan terbitnya surat kabar “Soenting Melajoe” di Padang pada 10 Juli 1912. Surat kabar yang terbit tiga kali seminggu itu merupakan pusat kegiatan pemudi, putri maupun wanita yang telah bersuami, berisi masalah-masalah politik, anjuran kebangkitan wanita Indonesia dan cara menyatakan fikiran para penulisnya dalam bentuk prosa dan puisi. Surat kabar ini berumur cukup lama, dari 1912 – 1921, pemimpinnya antara lain Ratna Djoeita dan Rohana Kudus.

Pada tahun 1914 di Jakarta terbit “Poetri Mardika” yang artikel-artikelnya ditulis dalam bahasa Belanda, Melayu dan Jawa. Isi “Poetri Mardika” antara lain membahas soal pendidikan, poligami, pemberian kebebasan lebih banyak pada para gadis, adat maju dan adat yang menghambat kemajuan. Di Semarang terbit “Estri Oetomo”, di Padang “Soeara Perempoean” yang dipimpin oleh Nona Saadah, seorang guru H.I.S., dan di Medan “Perempoean Bergerak” yang dipimpin Parada Harahap.

Sekitar tiga daswarsa setelah itu, gagasan untuk kemajuan kaum perempuan tampaknya tak pernah meredup. Di Padang Sidempuan, pada 10 Oktober 1940, terbit “Boroe Tapanoeli”. Terbitan berkala 10 hari sekali ini dipimpin oleh Awan Chatidjah Siregar, dengan anggota redaksi: Soemasari Rangkoeti, Roesni Daulay, Dorom Harahap, Marie Oentoeng Harahap dan Halimah Loebis. Sedangkan di bagian administrasi tercantum nama Siti Sjachban Siregar, Lela Rangkoeti dan Intan Nasoetion.

Jika surat kabar merepresentasikan situasi sosial masyarakat yang melingkupinya, maka apa yang dilakukan Awan Chatidjah Siregar dkk. di Padang Sidempuan pada tahun 1940, tidak terlepas kecenderungan umum yang dialami kaum perempuan saat itu. Khususnya posisi kaum perempuan yang “terjepit” diantara struktur sosial masyarakat yang patriarkhis dan ketika ide-ide tentang emansipasi perempuan tengah menguat akibat hadirnya institusi pendidikan modern sebagaimana disemai oleh R.A. Kartini.

“Boroe Tapanoeli, Terinspirasi Semangat Kartini?”

Dalam tajuk di edisi perdananya, Awan Chatidjah Siregar mengatakan bahwa “Boroe Tapanoeli” diterbitkan sebagai “loeboek tapian mandi tempat kaoem poetri berketjimpoeng dan djoega sebagai trompet kepoetrian Tapanoeli choesoesnja….. jaitoe oentoek mempertinggi deradjat kaoem poetri dengan berdasarkan kebangsaan, tapi tiada mentjampoeri politiek”.

Membaca tulisan-tulisan di “Boroe Tapanoeli” edisi perdana, kita memang akan memperoleh gambaran tentang kondisi kaum perempuan waktu itu yang masih banyak tertinggal di segala bidang dibanding kaum laki-laki. Faktornya beragam. Disebut-sebut misalnya soal sistem budaya atau adat yang meminggirkan perempuan. Juga soal keterbatasan akses terhadap dunia pendidikan (sekolah). Faktor lainnya adalah masalah kemiskinan.

Beragam faktor tersebut, membuat posisi perempuan menjadi serba tertinggal dibanding kaum laki-laki. Karena itu, walau banyak perempuan yang sudah tamat Mulo, H.I.S atau sekolah yang setingkat pada waktu itu, namun akhirnya mereka kembali ke rumah. Kembali mengurusi soal dapur. Seolah tanggungjawab perempuan hanya terbatas untuk mengurus rumah tangga dan membahagiakan suami. Bahkan ironisnya, walau tidak sedikit perempuan yang sudah bersekolah tinggi, dan secara ekonomi keluarganya tergolong berkecukupan, namun mereka akhirnya kembali juga ke dalam rumah: menunggu sampai disunting orang!

Bagi Awan Chatidjah Siregar dkk., kenyataan seperti itu tidak bisa diterima. Pengaruh gerakan emansipasi yang dicetuskan R.A. Kartini di Tanah Jawa, yang surat-suratnya kemudian dibukukan dan diterbitkan tahun 1912, tampaknya mewarnai semangat para pengelola surat kabar berkala ini. Para pengasuh “Boroe Tapanoeli” percaya bahwa rasa kebangsaan yang kuat hanya terjadi jika kaum perempuan dan laki-laki dapat bersatu dan bekerjasama. Karena itu mereka mengajak kaum perempuan agar tidak mudah menyerah kepada nasib dan meratapi adat/budaya yang mengekang.

Baca Juga :  Sejarah ‘Becak Vespa’ Padang Sidempuan: Suatu Inovasi Sosial-Ekonomi Alat Transportasi

Secara tegas, “Boroe Tapanoeli” mengajak kaum perempuan untuk keluar dari semua kungkungan berhenti itu. Kaum perempuan diajaknya agar berani menentukan nasibnya sendiri. “Kita mesti bersoeara! Mesti kita sendiri mengadakan perobahan nasib kita. Sekali2 djanganlah menjerah kepada takdir dan soeratan nasib belaka. Djangan lagi meratap dalam hati bahwa adat itoe pintjang, oendang2 itoe tiada adil atao doenia ini palsoe”.

Abad ke-20 adalah abad kemajuan, yang ditandai dengan semakin banyaknya kaum perempuan terdidik atau bersekolah tinggi. Karena itu kaum perempuan diharapkan tidak lagi menjadi kaum penakut dan pemalu. Para pengelola “Boroe Tapanoeli” percaya bahwa orangtua akan mengizinkan anak-anak perempuan mereka berjuang bersama anak-anak laki-laki. Adat dan agama juga tidak mendiskriminasi kaum perempuan guna memperoleh kemajuan. Karena itu “bangoenlah wahai saodarakoe, zaman soedah beredar, matahari lah tinggi, panas lah mendenting, bangoen, bersiaplah segera, mari ramai-ramai menoedjoe djalan perbaikan nasib kita.”

Untuk memotivasi kaum perempuan, pengelola “Boroe Tapanoeli” menganjurkan kaum perempuan untuk memasuki sekolah-sekolah yang mengajarkan kepandaian keputrian. Kaum perempuan juga dihimbau agar mengerjakan segala sesuatu yang bisa mereka kerjakan agar tidak menganggur. Mereka juga diminta agar bisa menjaga kehormatan mereka sendiri.

Pada edisi perdananya “Boroe Tapanoeli” juga memberitakan tentang kedatangan Raden Ajeng E. Djajadiningrat yang mengadakan pertemuan dengan Persatoean Kepoetrian Tapanoeli (KPT) dan Persatoean Anak Gadis (PAG). Pertemuan itu membahas soal-soal kesehatan, cara mendidik anak dan berbakti kepada nusa dan bangsa.  Ada juga berita soal 26 orang kaum ibu yang memperoleh pendidikan sebagai sopir mobil yang dilakukan General Motors, di Tanjoeng Prioek, Jakarta. Berita itu dikomentari oleh “Boroe Tapanoeli” sebagai hal yang tidak wajar karena akan membuat lengan kaum perempuan yang lembut menjadi kasar seperti lengan laki-laki!

Tergolong Moderat

Dalam banyak hal, “Boroe Tapanoeli” memang tidak memilih pendekatan yang frontal dalam memperjuangkan harkat kaum perempuan. Dalam batas-batas tertentu, sebenarnya mereka juga ikut meneguhkan peran domestik kaum perempuan. Misalnya sebuah tulisan yang ditulis N.A. Harahap mendorong kaum perempuan agar menjadi “poetri sedjati.” Yang dimaksud putri sejati adalah: (i) terpelajar, dalam arti paham dan mengetahui segala teori dan praktek dalam hal urusan rumah tangga; (ii) mampu membangun suasana kegtembiraan di rumah; (iii) menyenangkan hati suami karena sudah bekerja keras di luar rumah; (iv) mengasuh dan mendidik anak dengan budi pekerti, dan (v) mampu menanamkan sopan santun pada anak-anak.

Sejak awal, “Boroe Tapanoeli” juga tidak berniat untuk “mentjampoeri politiek”. Dalam arti surat kabar ini tidak hendak dijadikan media perlawanan terhadap pemerintahan Belanda. Pendirian semacam ini dapat dimengerti mengingat para pengelola surat kabar pada masa-masa kolonialisme umumnya berasal dari kalangan pribumi, khususnya mereka yang tergolong kaum ningrat. Mereka adalah kelompok masyarakat yang memiliki kesempatan memperoleh akses pendidikan dari sekolah-sekolah yang didirikan Pemerintah Belanda maupun dari ormas-ormas pergerakan berbasis agama seperti Muhammadyah. Mereka adalah kelompok baru dalam masyarakat yang telah tercerahkan.

Baca Juga :  MANGKOBAR DI ADAT MANDAILING

Golongan ini, karena status sosial dan tingkat pendidikan yang dimiliki, di satu sisi tetap mewarisi beberapa perangkat kebudayaan elite tradisional, tetapi di sisi lain mempunyai pandangan, cita-cita, dan nilai-nilai baru terhadap realitas dan perubahan sosial yang diharapkan. Cita-cita golongan elite modern itu, dalam konteks zamannya berkisar pada konsep “kemadjoean”. Untuk mencapai “kemadjoean” itu, mereka mengusakan proses penyadaran sosial dan pendidikan bagi anggota masyarakat kebanyakan. Mereka menggunakan modus operandi baru dengan cara membentuk organisasi modern dan pers sebagai salah satu sarana komunikasinya (Andi Suwirta: 2000).

Menurut Castle (2001) ada 3 (tiga) pergerakan yang pada tahun 1930-an masuk ke Tapanuli Selatan. Ada gerakan politik yang ingin bebas dari Belanda. Ada gerakan keagamaan yang ingin membersihkan pelaksanaan Islam dari unsur-unsur tambahan dan berbagai penyimpangan. Ada juga gerakan sosial kaum muda dan lain-lain lagi yang tidak senang pada status mereka yang rendah dan di bawah adat, dan menentang para pemimpin dan tetua berikut berbagai pengekangan yang mereka berlakukan.

Awan Chatidjah Siregar dkk., barangkali masuk dalam kategori yang ketiga. Walau ia memilih berkecimpung dalam dunia persuratkabaran, namun pendekatan yang dipilih sangat moderat: memuat tulisan-tulisan dengan gaya bahasa santun, dan jauh dari provokatif. Barangkali hal ini tidak terlepas dari penerapan delik pers yang waktu itu diberlakukan sangat ketat oleh pemerintah Belanda. Beberapa jurnalis seperti Parada Harahap (Sinar Merdeka di Sibolga) dan H.M. Manullang (Soeara Batak di Tarutung), pernah terkena pers delik yang membuat mereka akhirnya dipenjara. .

Penutup

Walau bukan tergolong surat kabar berkala yang digunakan untuk kepentingan politik dalam mengobarkan perlawanan terhadap pemerintah Belanda, namun sumbangan para pengelola “Boroe Tapanoeli” yang menjadikan koran mereka untuk mendukung kemajuan kaum perempuan di Padang Sidempuan, layak untuk dihargai. Setiap jaman memang akan melahirkan tokoh-tokoh sejarah yang memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

** Tulisan ini dimuat di harian Analisa, 21 April 2008

Disalin dari : www.buntomijanto.wordpress.com.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*