10 Detik, Peringatan Dini Gempa di Jepang!

Lantas INDONESIA kapan…? dan Kota Padangsidimpuan yang mulai Rawan Gempa Kapan…? Apakah harus Jatuh Korban Dulu Baru Tiru… Jepang….?

Kompas.com/Kristianto Purnomo Petugas melakukan evakuasi di Hotel Ambacang, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (3/10)

BANDUNG, KOMPAS.com — Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa yang besar, sistem peringatan dini (early warning system) tentunya menjadi hal yang sangat penting. Di Jepang, sistem peringatan dini tentang terjadinya sebuah gempa besar diklaim tercepat di dunia, yaitu dalam hanya 10 detik, masyarakat sudah bisa tahu.

Hal itu disinggung pakar gempa dari Universitas Kyoto Jepang, Prof Jim Mori, di dalam acara The 5th Kyoto University Southeast Asia Forum, Kamis (7/1/2010) di Campus Center Institut Teknologi Bandung. Pertemuan ini bertajuk “Conference of the Earth and Space Sciences”.

“Dengan peringatan ini, dalam rentang waktu sekian detik gempa menjalar dan sampai, maka masyarakat masih bisa melakukan penyelamatan diri, yaitu dengan cara merunduk atau berlindung di bawah meja,” tutur seismolog Jepang yang pernah bekerja di United States Geological Survey (USGS) ini.

Hebatnya, pengumuman itu disebarluaskan melalui televisi. Dan, yang tidak kalah canggih, sistem peringatan dini yang dijalankan ini secara otomatis mampu mematikan saluran atau listrik sehingga mengurangi risiko bencana kebakaran akibat gempa.

Inilah yang menjawab mengapa ketika terjadi gempa besar di Jepang, jatuhnya korban jiwa bisa diminimalisasi, bahkan ditekan hingga nol. Tentunya, selain ketentuan struktur bangunan tahan gempa yang dipatuhi dengan baik.

Baca Juga :  Bertambah, korban WNI meninggal akibat insiden di Mekah

Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? “Informasi terjadi gempa kan rata-rata baru diterima, misal lewat ponsel, empat menit setelah kejadian. Itu pun di ponsel saya, belum di punya Anda-anda sekalian,” tutur Sri Widyantoro, pakar gempa dari ITB, kepada pers.

Menurutnya, sistem peringatan dini di Indonesia tidak secanggih Jepang, salah satunya karena sistem ini mengacu pada sistem di Jerman. “Padahal, di Jerman kan justru jarang terjadi gempa,” selorohnya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*