16 Tahun dipasung karena rebutan warisan, Ardika akhirnya bebas

Tidak hanya seluruh staf dinas sosial dan kesehatan yang menitikkan air mata, bahkan, petugas Satpol PP yang berbadan tegap turut menangis tatkala laki-laki yang dituding gila itu berhasil dikeluarkan dari sekapan dan pasungan keluarganya. Drama pembebasan Ketut Ardika di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, kabupaten Jembrana di Bali, Selasa (11/11) sangat alot.

Setelah mendapat pengertian dari berbagai pihak dan warga adat, akhirnya laki-laki yang dikenal nama Ardana ini ternyata punya nama asli Ketut Ardika.

“Tolong Saya Pak..tolong. Saya tidak gila, saya tidak gila. Saya tidak mau lagi, Saya mau pulang,” isak tangis Ardika memohon dalam rumah yang dipagari bak penjara itu.

Selama 16 tahun terpasung, di saat dirinya harus menikmati keremajaannya kala itu. Tentu membuat dirinya gangguan mental. Saat warga bersama pejabat pemerintah menemui Ardika. Nampak senyum dan sambil menangis terpancar di wajah laki-laki berkulit putih bersih ini.

Pemkab Jembrana melalui Kadis Kesehatan dr Putu Suasta langsung mengambil keputusan untuk mengeluarkan Ardika, setelah sempat melihat kondisi kejiwaannya. “Demi hukum, kalau bapak akan keluarkan kamu sekarang juga,” kata dr Suasta di hadapan Ardika.

Bahkan dengan jiwa besar, Ardika yang terus ngoceh dengan bahasa Bali tidak akan balas dendam kepada sembilan saudaranya yang telah membuat dirinya kehilangan masa depan selama 16 tahun. “Saya mau keluar, tidak mau apa-apa,” hanya itu yang keluar dari kata-kata Ardika, Selasa (11/11).

Baca Juga :  Puluhan Orang Diduga Tertimbun Tanah Longsor di Agam

Saat ditanya nama ibunya, Ardika menjawab bahwa ibu kandungnya bernama Nyoman Bakti sedangkan ayahnya Ketut Nirta. “Saya mau jalan-jalan, keluar..keluar,” pinta Ardika.

Kedatangan dr Suasta dan sejumlah tenaga medis tersebut adalah untuk mengecek perkembangan kejiwaan lelaki berumur 40 puluh tahun lebih itu. Di samping itu, juga untuk melakukan pendekatan kepada pihak keluarga agar bersedia membebaskan Ardana dari tempat pemasungan guna memudahkan dalam pemeriksaan kesehatan yang bersangkutan.

“Dia (Ardana-red) harus mendapatkan perawatan yang intensif dan perkembangannya harus dipantau terus. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah membebaskan dia dari pemasungan karena pemasungan dan pengrangkengan sangat mempengaruhi psikologisnya,” terang Swasta.

Sebelumnya pihaknya juga telah mengunjungi yang bersangkutan dan telah berusaha meminta pihak keluarga agar bersedia memberlakukan Ardana lebih manusiawi. Namun pihak keluarga menolak keras membebaskan Ardana dengan alasan keselamatan. “Bagaimanapun ini pelanggaran HAM dan harus dihentikan,” tegasnya.

Pantauan merdeka.com, semua bersorak dan mengusap tisu mengusap air mata, terharu saat Ardika menangis sejadi-jadi bersujud ke pertiwi layaknya seorang Napi yang bebas. Selama ini Ardika dihukum 16 tahun tanpa sidang tanpa hakim tanpa pembelaan. Ardika dipasung diduga karena rebutan warisan.

/Merdeka.com 

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Guru Besar Universitas Hasanuddin Ditangkap "Nyabu" Bareng Mahasiswinya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*