18 Desa di Palas Belum Tersentuh Pembangunan

Melintas Jelas terlihat, satu unit mobil yang hendak masuk-keluar menuju ke wilayah 18 desa terisolir di daerah Kabupaten Palas, melintasi akses jalan via Desa Portibi, Kecamatan Portibi, Kabupaten Paluta. (medanbisnis/maulana syafii)

Palas. Masyarakat yang tersebar di 18 desa di dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Barumun Tengah (Barteng) dan kecamatan Sihapas Barumun, Kabupaten Padang Lawas (Palas), hingga saat ini merasa dianak-tirikan oleh Pemkab Palas dalam hal pemerataan pembangunan infrastruktur jalan.

Pasalnya, akses jalan penghubung melalui jalur darat dari dan menuju ke wilayah 18 desa di dua kecamatan itu, hingga menuju ke jalan lintas menuju Kota Sibuhuan, hingga kini kondisinya sangat amburadul, memprihatinkan dan terlihat jelas belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

Wilayah ke-18 desa itu, di antaranya tujuh desa berada di wilayah Kecamatan Barteng, terdiri dari, Desa Hutaruhom, Gading, Parannapa Jae, Parannapa Dolok, Bire, Sibottar, dan Desa Salean. Sedangkan 11 desa lagi, berada di wilayah Kecamatan Sihapas Barumun, merupakan daerah pemekaran dari Kecamatan Barteng, yakni, Desa Balangka Dolok, Ujungpadang, Balangka, Silenjeng, Tanjung Morang, Simaninggir, Ujung Gading, Padang Hasior Lombang, Sitadatada, Dusun Tamosu Desa Padanghasior Dolok dan Desa Lubuk Gotting.

Pantauan MedanBisnis saat mengunjungi lokasi desa-desa ini, bersama sejumlah mahasiswa putra asli dari daerah 18 desa yang meminta agar kondisi desa mereka dipublikasikan, belum lama ini, seperti terlihat pada kondisi Desa Parannapa Jae, dimana akses jalan ke luar masuk selalu buntu, dari arah manapun hendak dilalui untuk bisa menuju ke desa itu wilayahnya dikelilingi aliran sungai.

Baca Juga :  BUPATI BERANGKATKAN JEMA’AH CALON HAJI PADANG LAWAS MENUJU TANAH SUCI

Sedangkan, dari arah Padanghunik di Kecamatan Aeknabara Barumun (Akbar), kondisi jalannya buntu karena dihempang aliran Sungai Barumun. Sedangkan dari arah Desa Gading menuju Desa Parannapa Jae juga mengalami kebuntuan jalan, karena dihempang aliran Sungai Aek Sihapas, di wilayah Kecamatan Barteng. Secara geografis, wilayah ke-18 desa terisolir tersebut, sebenarnya memiliki potensi kekayaan alam, terutama di sektor pertanian, khususnya perkebunan karet dan kelapa sawit yang sangat produktif. Tetapi kawasan terisolir ini tidak mendapat perhatian yang sesungguhnya dari Pemkab Palas.

Akses satu-satunya untuk bisa masuk ke wilayah 18 desa ini harus melewati jalan Desa Purbabangun Kecamatan Portibi, Kabupaten Paluta. Praktis, hasil pertanian dan perkebunan masyarakat yang diproduksi dari wilayah 18 desa ini dijual ke sejumlah pembeli di sekitar kabupaten tetangga.

Para mahasiswa yang menemani MedanBisnis mengelilingi daerah 18 desa ini, antara lain, Pengurus IPPS Amrin, Wakil Ketua IPPPS, Mus Muliadi Siregar, Mahasiswa STAI BR Sibuhuan Emrin Safarin Siregar dan Presma STIT PL, Gunungtua, Timbul Pulungan.

“Bisa abang rasakan dan lihat sendiri keadaannya. Akses jalan darat untuk bisa ke luar masuk menuju ke 18 desa, tempat kami lahir dan dibesarkan ini, yang paling mudah dan dekat hanya melalui jalan dari Kabupaten Paluta,” ujar mahasiswa.

Kepala Desa Bire, Ali Arjun Siregar didampingi Kepala Desa Silenjeng, Arlin Hasibuan kepada MedanBisnis menyampaikan, harapan besar warga masyarakat dari 18 desa yang kini kondisinya terisolir itu, agar Bupati Palas H Ali Sutan Harahap dapat segera menepati janjinya pada saat kampanye dengan membangun jembatan beton, sehingga terbuka akses jalan darat untuk ke luar masuk ke lokasi desa mereka. (maulana syafii)

Baca Juga :  Putusan MK Soal Pemilukada Ulang Madina, Bupati Amru Daulay Minta Masyarakat Jaga Suasana Kondusif

MedanBisnis –

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*