KPU Harusnya Minta Maaf ke Publik Bukan Minta Gedung Baru

JAKARTA – Permintaan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mendirikan gedung baru dinilai mengabaikan penderitaan rakyat. Setelah DPR mengajukan anggaran perbaikan dan pembangunan gedung, sekarang lembaga-lembaga lain berlomba-lomba mengajukan anggaran pembangunan yang sama, dan itu yang kini dilakukan KPU.

“Permintaan KPU ini sendiri menambah deretan pengabaian derita rakyat. APBN dikuras untuk memenuhi hasrat para elite bersenang-senang. Tak peduli rakyat miskin dan menderita, asal elite-nya dapat sejahtera dan bermewah-mewah dengan berbagai fasilitas, ” ujar Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti kepada Tribunnews.com, Selasa(19/10/2010).

Semestinya, menurut Ray KPU meminta maaf kepada publik atas catatan buruknya di Pemilu 2009 lalu, dan bukannya malah meminta pembangunan gedung baru.

“Pembangunan gedung baru tidak dengan sendirinya akan mengubah kinerja mereka. Apalagi alasan permintaan dana tersebut tak disertai dengan kajian sejauh apa kemajuan yang akan dicapai. Oleh karena itu, permintaan dana buat gedung itu harus diabaikan dan sebaliknya kita menuntut KPU meminta maaf atas buruknya kualitas Pemilu 2009 dan pelaksanaan pilkada di banyak daerah, ” tandasnya.

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum(KPU) mengajukan anggaran Rp 100 miliar ke DPR untuk pembangunan gedung baru.

Menurut Sekjen KPU Suripto Bambang Setyadi yang disampaikan dalam rapat konsultasi anggaran dengan Komisi II DPR, Senayan, Jakarta, Senin kemarin gedung lama tersebut sudah masuk cagar budaya, sehingga lebih baik dimanfaatkan untuk tempat Pusdiklat Kepemiluan atau museum arsip.(*)

Baca Juga :  Diberhentikan Sementara, Kartini dan Heru Tak Terima Gaji

Sumber: http://www.tribun-medan.com/read/artikel/7577/KPU-Harusnya-Minta-Maaf-ke-Publik-Bukan-Minta-Gedung-Baru

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*