2 Anak Diduga Lumpuh Layuh di Siharang Karang, Kel. Lembah Lubuk Manik, Kec. Padangsidimpuan Hutaimbaru

Kamis, 07 Januari 2010 – www.metrosiantar.com

Lumpuh Layuh, (Photo: hanya Ilustrasi)

SIDIMPUAN-METRO; Dua anak di Siharang Karang, Kelurahan Lembah Lubuk Manik, Kecamatan Padangsidimpuan (Psp) Hutaimbaru, Kota Psp menderita kelumpuhan yang diduga penyakit lumpuh layuh. Rahmat Dalimunthe (10) lumpuh ketika sudah berusia 6,5 tahun lalu akibat demam, sedangkan Elnisra Boru Sihombing (14) mengalami kelumpuhan sejak lahir.

Muba Dalimunthe (34) dan Tiromala boru Harahap (33), orangtua Rahmat Dalimunthe kepada METRO, Rabu (6/1) mengatakan, anak satu-satunya tersebut ketika lahir tidak ada mengalami gangguan apapun dan sehat seperti anak yang lainnya. Dan ia sempat sekolah di tingkat anak-anak, namun menjelang masuk ke sekolah dasar pada usia 6,5 tahun, tiba-tiba Rahmat mengalami gejala demam tinggi yang disertai tubuhnya mengalami kejang-kejang dan seketika lumpuh. Karena ketakutan, akhirnya keduanya memanggil bidan setempat dan dinyatakan mengalami demam tinggi dari dalam tubuhnya dan harus ditangani lebih lanjut.

Keduanya mengatakan, saat itu mereka tidak langsung membawa anaknya berobat ke dokter, melainkan ke orang pintar, namun tidak ada perubahan. Selang dua hari kemudian, karena kondisinya semakin payah dan seluruh tubuhnya tidak bisa lagi digerakkan, akhirnya Rahmat dibawa berobat ke RSUD Psp. Dari hasil pemeriksaan dokter, ujar keduanya, Rahmat mengalami komplikasi penyakit yakni paru-paru dan gizi buruk serta demam yang tinggi. Rahmat pun sempat dirawat selama dua bulan dengan menggunakan kartu miskin.

Karena tak kunjung sembuh, akhirnya kedua orang tuanya memutuskan untuk membawa korban pulang ke rumahnya di karenakan ketidakmampuan biaya lagi untuk berobat, hingga akhirnya hanya berobat sekadarnya saja di rumah dari pengobatan tradisional.

Muba yang sehari-harinya bekerja menderes ini menambahkan, sudah lebih dari setahun lamanya Rahmat tidak pernah lagi dibawa berobat. Saat ini kondisinya t kurus kering dan hanya tinggal tulang saja dengan kepala membesar dan pantat mengkeriput. Kemudian kedua tangan dan kaki mengecil, serta yang nampak hanya tulang-tulangnya saja.

Baca Juga :  Jalinsum Paluta terparah di Sumut

“Makannya harus dilumat dengan menggunakan blender, sedangkan buang air besar dan mandi selalu dibawa ibunya ke kamar mandi. Dan yang paling parah, jika sebelumnya saya mendengar Rahmat mampu bicara dan memanggilnya, namun kini yang terdengar hanya erangan dan suara tangisan saja,” ujarnya.

Sementara Tiromala dengan deraian air mata menuturkan, diakuinya bahwa imunisasi anaknya tersebut tidak lengkap. Karena melihat ketika lahir anaknya tidak mengalami keanehan apapun, dirinya sama sekali tidak menyangka anaknya akan mengalami kelumpuhan. Padahal dari silsilah keluarganya dan suaminya tidak ada yang mengalami kejadian seperti itu, ditambah untuk biaya berobat selama 2,5 tahun, harta benda yang mereka miliki terjual.

“Kini kami hanya berharap kesembuhan anak kami. Semoga saja pemerintah maupun dermawan mau membantu pengobatan anak kami ini,” ujarnya.

Sementara itu, Mawardi Sihombing (56) dan Roima (50), orangtua dari Elnisra Boru Sihombing yang juga tetangga Muba Dalimunthe kepada METRO, mengatakan, kelumpuhan yang dialami anaknya tersebut sudah berlangsung sejak anaknya lahir atau sekitar 14 tahun lalu.

Roima menerangkan, anaknya yang keenam dari delapan bersaudara tersebut saat dalam kandungannya tidak merasa keanehan apapun. Namun ketika lahir, dirinya melihat kedua kaki putrinya tersebut saling menjepit dan badannya lemah dan tidak bisa digerakkan.

Bulan berganti bulan makin diketahui bahwa putrinya tersebut memang tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Dan ketika berumur satu tahun lebih tidak juga bisa berjalan dan berbicara sebagaimana mestinya anak-anak belajar jalan dan belajar berbicara. Padahal dari sejarah keluarga mereka dari dua belah pihak, tidak ada yang mengalami seperti itu.

Meski sudah berungkali dibawa berobat ke bidan, puskesmas, bahkan orang pintar, namun tidak ada perkembangan berarti. Hingga akhirnya ketika anaknya berumur 6 tahun, karena penghasilan keduanya hanya bertani dan hanya cukup untuk makan sehari-hari, maka diputuskan tidak membawa putrinya berobat lagi.

“Kalau makan disuapi, mandi dan buang air besar harus diangkat ke kamar mandi, ngomong tidak jelas apa yang dikatakannya, tahunya cuma duduk saja tapi tidak bisa bergerak lebih dari itu. Tidak tahu lagi mau bagaimana,” keluhnya.Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Psp melalui Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK), dr Aminuddin kepada METRO menanggapi masalah tersebut menerangkan, untuk kasus Rahmat, jika dikarenakan akibat demam tinggi dapat merusak syaraf otak si anak seperti meningitis atau radang selaput otak dan enselafitis atau radang otak yang dapat menimbulkan kecacatan permanen.

Baca Juga :  Dari Festival Band Gaul di Plaza City Walk Padangsidimpuan - Sabet Juara Satu, Tye Nourse Berharap Masuk Dapur Rekaman

“Kepada orangtua si anak dianjurkan untuk membawanya dan dirawat di RSUD Psp dan ditangani oleh dokter spesialis syaraf anak secara intens dan dalam waktu yang lama. Namun kemungkinan untuk sembuh seperti sedia kala sangat kecil. Karena biasanya jika gejalanya dimulai akibat demam panas tinggi, maka akan menimbulkan kecacatan permanen karena menyerang syaraf otak. Sedangkan untuk kasus yang dialami oleh Elnisra dan melihat sejarah klinisnya, kemungkinan besar memang sudah bawaan lahir. Kita akan meminta kepada kepala puskesmas untuk menceknya langsung ke lapangan, untuk diketahui tindakan apa yang bisa kita lakukan nanti,” pungkasnya. (phn)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*