20 Daerah di Sumut Endemis Malaria

Medan, (Analisa). Dari 33 kabupaten/kota di Sumut, 20 di antaranya termasuk wilayah endemis penyakit malaria. Pemerintah memperioritaskan penanggulangannya. Apalagi malaria salah satu penyakit menular langsung.

Demikian dikatakan Plt Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Sumut, Sukarni, Rabu (1/5).

Di Sumut, katanya, setidaknya ada 20 daerah yang endemis malaria. Di antaranya, Madina, Palas, Tapsel, Paluta, Labuhan Batu, Deli Serdang, Tapteng, Langkat, Samosir, Nias.

Pengamat kesehatan Sumatera Utara, dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI menjelaskan, ada lima jenis malaria, yakni, plasmodium falciparum, plasmodium vivax, palsmodium ovale, plasmadoium malariae dan palsmodium knowlen.

Menurut Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi ini, jenis plasmodium falciparum dinilai lebih berbahaya. Soalnya, infeksinya paling berbahaya dan memiliki tingkat komplikasi yang tinggi. “Semua ada di Indonesia kecuali plasmodium malariae,” jelas Umar Zein.

Sebenarnya, sebut Umar lagi, upaya penanggulangan malaria, dilakukan sejak zaman Belanda. Akan tetapi, tidak dilakukan kontiniu dan banyak faktor yang menyebabkan tidak berhasil seperti faktor manusia, nyamuk dan lingkungan serta faktor resisten parasit malaria terhadap obat.

Sekarang, lanjutnya, obat kina, sudah resisten termasuk di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan, sekarang ada obat baru, tetapi menurut laporan WHO sudah ada daerah yang resisten. “Jadi dari parasit sudah sulit ditanggulangi dan sudah bagus dengan adanya upaya mengendalikan angka kematian dan menurunkan jumlah kasus,” ujarnya.

Baca Juga :  Ratusan Supir Angkot Datangi Polres Sidimpuan

Dia menilai, program bebas Malaria 2015 itu yang dicanangkan pemerintah sulit akan tercapai. Soalnya, satu desa saja susah membebaskannya. “Penanggulangan tidak hanya mengobati pasien, tetapi membasmi nyamuk dan menata lingkungan yang bersih. Waktu 10 tahun mengeliminasi malaria juga tidak mungkin kalau tidak dilakukan secara kontiniu,” tegasnya.

Terbukti, belum lama ini dia melakukan penelitianlalu di Nias Selatan dari pemeriksaan darah massal terhadap 102 orang dardi tiga desa, diketahui 100 orang positif malaria. “Kita tanya apa ada program, mereka bilang tidak ada, juga tidak ada pemberian kelambu. Sementara basis Malaria kan di desa. Ini satu bukti tapi tidak tahu bagaimana sekarang,” katanya.

Untuk efektifnya pengendalian malaria, dia mencontohkan seperti di Madina, Tapsel dan Nias, harus dilakukan pengendalian secara kontiniu, dan melakukan pemetaan setiap tahun lalu dilakukan penilaian. (nai)

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*