200 Hektare Sawah Terancam Kekeringan

(Analisa/istimewa) IRIGASI JEBOL: Saluran irigasi di Huta Manik Desa Pegagan Julu VII Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi longsor akibat curah hujan tinggi, Selasa (18/11). Lumpur pun sempat menutupi akses transportasi umum berposisi di bawah. Sekitar 200 hektare lahan terancam kekeringan.

Sidikalang, Irigasi permanen di Huta Manik Desa Pegagan Julu VII Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi jebol, Senin (17/11) malam. Konstruksi berada sekitar enam meter di atas permukaan badan jalan.

Herman Siagian (55), petani padi sawah di sana menjelaskan, sekitar 200 hektare persawahan terancam kekeringan. Saat ini, 50 persen areal telah selesai tanam dan lainnya sedang tahap pengolahan. Kebutuhan pada pada kondisi itu cukup tinggi. Bila tidak segera ditanggulangi, tentu berdampak pada hasil panen berikut. Diharap, pemerintah turut membantu dan warga siap mengerahkan tenaga melalui gotong royong.

Hotmin boru Sijabat (43) membenarkan, memang pada malam kejadian, guyuran hujan cukup deras. Bahkan, ada lagi getaran gempa bumi. Dia tidak tahu pasti, apakah ada hubungan langsung kedua faktor di atas. Warga lainnya menduga, longsor bangunan diduga sebagai ekses pelebaran jalan oleh Dinas Bina Marga Sumut belum lama ini.

Staf Dinas Bina Marga, Esron Samosir melalui telepon, Selasa (18/11) menepis dugaan dimaksud. Irigasi pecah bukan lantaran kegiatan pelebaran jalan. Dari pantauan mereka, rembesan air memang sudah terlihat lama. Bantingan curah hujan dan terjadi setiap hari membuat bobot tanah kian berat serta daya ikatnya melemah. Hal itu membuat konstruksi mudah rubuh. Itu hukum gravitasi. Kalau makin berat, tentunya makin mudah jatuh.

Baca Juga :  Pemenang Paket Proyek Total Rp 4,3 M di Dinas Pendidikan Sibolga Diumumkan

Dijelaskan, pihaknya telah mengerahkan alat berat guna normalisasi arus lalu lintas. Lumpur sudah dibersihkan. Jalur itu diketahui menghubungkan Kecamatan Sumbul menuju Tigalingga-Tanah Pinem dan Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara.

Staf Bidang Pengairan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Provet Sitanggang mengatakan, peninjauan bersama tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah dilakukan. Rehabilitasi segera dilaksanakan mengandalkan Dana Tidak Terduga.

Diakui, lahan sangat perlu air untuk pertumbuhan anakan dan pengolahan lahan. Solusi cepat adalah memindahkan saluran air minimal 10 meter agar lebih aman. Pemerintah daerah cukup respons terutama menyangkut kepentingan petani dan penguatan ketahanan pangan sebagai salah satu program nasional. (ssr)

/(Analisa)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*