‘Rokkap’: Batak dan Wajah Buruk Film Indonesia

Menonton film ‘Rokkap’ yang mengambil setting di daerah perbukitan di tepi Danau Toba membuat saya yakin bahwa yang dibutuhkan oleh film drama yang baik adalah skenario yang baik. Namun sayangnya, film ini tidak bisa memenuhi syarat tersebut.

Foto : Rokkap (ist.)

‘Rokkap’ (dari bahasa Batak, arti Indonesianya perjodohan) merupakan sebuah drama percintaan yang memiliki keinginan menyajikan setting dan karakter yang berbeda dari film-film drama yang banyak mewarnai layar film maupun televisi Indonesia. Film ini bercerita tentang seorang fotografer, Bonaventura Christopher (diperankan oleh Alex Abbad) yang memiliki banyak masalah dengan pacarnya yang tinggal di Bali.

Karena harus memotret bulan madu temannya di Danau Toba, ia bertemu dengan Lingga (diperankan oleh Kinaryosih), seorang gadis cantik yang buta, namun berhati mulia, pandai melukis dan memainkan gitar tradisional Batak. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, sementara ayahnya sangat ketat melindunginya.

Tentu saja Bow (panggilan singkat Bonaventura) langsung jatuh cinta pada Lingga. Dan Lingga pun membalasnya. Namun, ayah Lingga ternyata sangat menentang hubungan ini karena ketakutannya kehilangan anak yang paling ia cintai. Sementara, Bow harus menyelesaikan persoalan dengan pacarnya yang mulai membuatnya jengah. Meski tampaknya mendapatkan banyak tentangan, mereka akhirnya berhasil menikah dengan adat Batak.

Lingga pun diboyong ke Jakarta untuk menyaksikan pameran perdana foto-foto Bonaventura yang menampilkan gambar-gambar Lingga dan keluarganya. Tetapi malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kebahagiaan pasangan ini ternyata tak bisa berlangsung lama.

Baca Juga :  Perssik Takut Minta Lagu ke Dhani

Film ini berpaku pada hukum film-film (melo)drama, yakni pengambaran karakter-karakter realistis manusia yang berkonflik dengan diri mereka sendiri, dengan orang lain, atau pun dengan kekuatan di luar mereka. Karena menggambarkan karakter manusia, film drama biasanya diwarnai dengan plot dramatik. Karakter digambarkan memiliki persoalan emosional, seperti cinta, sedih, benci, marah, dan lain-lain.

Dalam film-film seperti ini, dialog, akting, dan pengadeganan menjadi kunci keberhasilan film. Salah satu bapak film drama Indonesia, Teguh Karya lewat filmnya ‘Secangkir Kopi Pahit’ (1984) menunjukkan bahwa persoalan-persoalan emosional yang biasa bisa jadi menarik ketika dibawa ke layar film.

‘Secangkir Kopi Pahit’ menggunakan setting tanah dan kebudayaan Batak, sesuatu yang juga digunakan film ‘Rokkap’. Namun dibandingkan film Teguh Karya, film ini menggunakan setting dan karakter Batak secara artifisial.

Memang, terlihat ada upaya untuk memberikan alternatif representasi atau penggambaran masyarakat lain di luar Jakarta. Namun, karena skenario yang sangat lemah, film yang disutradarai secara beramai-ramai ini (Bm Joe, Ginanti Rona Tembang Asri dan Hendray ‘Pay’ tercatat di kredit sutradara) tidak mampu menyumbang gambaran yang baik terhadap film Indonesia.

Veronika Kusumaryati, belajar di Departemen Kajian Film Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Ia adalah salah seorang pendiri  Klub Kajian Film IKJ. Kini bekerja sebagai kurator film.
(mmu/eny)

Sumber : detik.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  "YKS" Trans TV dihentikan Komisi Penyiaran Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*