25 Persen Pengungsi Merapi Alami Iritasi Mata

Sekitar 25 persen dari ribuan jiwa pengungsi Merapi di beberapa barak pengungsia mengalami iritasi mata (Konjugtivitis). Hal itu disebabkan oleh abu vulkanik dari erupsi merapi yang terjadi sejak Selasa (26/10/2010) hingga Sabtu (30/10/2010).

“Hasil pemeriksaan mata yang kita lakukan hingga hari Minggu 31 Oktober kemarin, sekitar 25 persen mengalami iritasi mata. Jumlah ini bisa bertambah karena Senin siang Merapu kembali erupsi,” kata ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) DIY Prof.Dr. dr. Suhardjo, S.U.,Sp. M (K) di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur Yogyakarta, Senin (1/11/2010).

Suhardjo mengatakan tim dokter spesialis mata dar Fakultas Kedokteran UGM ?bersama Perdami DIY dan RS Mata dr Yap Yogyakarta telah melakukan pemeriksaan mata di sejumlah barak pengungsian. Pemeriksaan dintaranya dilakukan di balai desa Wukirsari Cangkringan dan Hargobinangun Pakem Sleman. Hasil sebagian besar pengungsi mengalami iritasi mata (konjugtivitis).

Dari pengungsi yang memerikasakan matanya tersebut, tidak ditemukan kasus
berat. Hujan abu yang melanda daerah kawasan lereng Merapi juga tidak menyebabkan adanya persoalan serius.

“Memang belum semua barak pengungsi kita periksa. Namun kebanyakan yang kita periksa hanya mengalami iritasi. Ada satu dua orang yang kemasukan pasir, tapi sudah kita keluarkan dari matanya,”  ungkap Hardjo panggilan akrabnya.

Meski abu vulkanik mengandung unsur kimia berupa sulfur dan senyawa lainnya kata Hardjo, hal itu tidak terlalu membahayakan kesehatan mata. Dia menyarankan agar pengungsi selalu memeriksakan matanya apabila terjadi gejala-gejala sakit mata.

Baca Juga :  Cuaca Buruk Hambat Evakuasi Jenazah Korban AirAsia QZ8501

“Kita siap membantu, bila terasa ada sesuatu yang mengganjal di mata, terasa
gatal, penglihatan agak kabur dan mata merah, segera untuk diperiksa dan segera kita obati,” katanya. (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*