DEMOKRASI (Bag-1) – ASUMSI TAMBAH ASUMSI

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)
Bagian #1 dari 9 Tulisan

Demokrasi boleh jadi sebuah obsesi yang mesti diawali dengan malapetaka besar. Setidaknya itu untuk pengalaman Indonesia. Dalam percakapan ini Petruk, Gareng dan Semar tak habis-habisnya berpikir mengapalah model ini menjadi pilihan.  Martabat hilang, yang datang Cuma Si Bolis Na Burju dalam jubah kebesaran Jahatokrasi.

Konon ada seorang pintar bernama Robert Dahl. Ia orang jauh, Amerika. Orang ini merasa amat yakin dunia ini bisa dirubah lebih baik dan lebih maju untuk semua bidang kehidupan. Ya tatanan sosialnya, ya ekonominya, ya hukumnya. Pokoknya makmurlah, sebagaimana dicita-citakan oleh semua pendiri negara di dunia.

Baik Petruk, Gareng, maupun Semar tidak mengenal Robert Dahl dan sama sekali tidak pernah bertemu. Bahasanya pun lain, bahasa Inggeris. Karena itu Petruk, Gareng dan Semar tak mungkin tahu jalan pikiran Robert Dahl, karena itu hanya mungkin mereka dapatkan jika mereka membaca pikiran tertulis Robert Dahl yang tinggal jauh. Bagaimana mungkin? Bahasanya saja Inggeris (dalam persepsi Petruk, Gareng dan Semar, Robert Dahl itu Londo dan berbahasa Londo).

Asumsi Tambah Asumsi

Robert Dahl (google)

Si Robert Dahl merasa yakin atas keunggulan demokrasi. Lagi pula ide ini semakin terterima dan kini semakin meluas dianut oleh pemerintahan dunia. Indonesia salah satunya, negeri yang sedang belajar berdemokrasi dengan segala macam catatan menggelikan atau bahkan memalukan. Menggelikan dan memalukan tentu tidak diukur dari alam pikiran Petruk, Gareng dan Semar. Bukan.

Memang, dengan menyimpang jauh dari pengetahuan yang digariskan oleh Robert Dahl, Indonesia kini sedang mempertontonkan dirinya sebagai boneka mainan demokrasi. Elitnya amat sederhana berpikir, dan tak mau repot-repot. Jika anda mengatakannya tidak negarawan, memang ada benarnya. Mereka seakan cuma mampu bekerja dengan kata kunci ”pokoknya”.

Pokonya demokrasilah. Pinomat (paling tidak) namanya saja dulu, soal isinya nantilah. Pinomat kekuasaanya dululah digenggam, soal adil dan berguna buat rakyat, itu masalah nanti sajalah. Pinomat pemilunya saja dululah, soal jujur dan adil perkara nanti sajalah.  Pinomat kewenangan merampok dan korupsinya dululah, soal dosa dan nerakanya kan urusan nanti. Begitulah kira-kira.

Baca Juga :  Bencana Asap Buatan Manusia di Provinsi Riau

Diasumsikan bukan saja demokrasi membantu mencegah tumbuhnya pemerintahan kaum otokrat yang kejam dan licik, tetapi juga menjamin warga negara menikmati sejumlah hak asasi yang umumnya tidak dapat diberikan oleh sistem-sistem yang tidak demokratis. Kebebasan pribadi yang lebih luas merupakan keuntungan lainnya, karena diyakini bahwa pemerintah demokratis dapat membantu perkembangan kadar persamaan politik yang relatif tinggi. Lagi pula fakta hari ini sulit dibantah bahwa negara-negara dengan pemerintahan yang dilabeli demokratis cenderung lebih makmur daripada negara-negara dengan pemerintahan yang tidak demokratis.

Tetapi sebagaimana dapat disaksikan di berbagai belahan bumi ini, kebanyakan dari harapan-harapan itu hanyalah isapan jempol semata. Jeratan sistem dunia yang berakar pada kepentingan kamuflatif negara-negara maju terlalu sukar dibantah, dan mereka hanya menjadikan isyu-isyu central demokratisasi dan HAM sebagai alat untuk lebih memastikan hegemoni. Lho, begitu buruk dan begitu jahat? Tentu saja Obama yang datang baru-baru ini ke Indonesia tidak akan mengakui itu. Ia hanya akan berbicara baik-baik, bahkan memuji enaknya bakso, sate, kerupuk dan emping.

Memang Obama Presiden Amerika itu orang jahat? Tunggu dulu. Ia memang anak angkat Lolo Sutoro. Ibunya pun lama bekerja di Indonesia, konon giat mendorong ekonomi kerakyatan paling tidak di sektor tugasnya di sekitar Yogyakarta. Tetapi Obama orang Amerika. Amerika itu ada di setiap peristiwa kerusuhan bahkan berdarah di dunia ini. Amerika senang jika ada pertempuran. Amerika tak perlu berkawan dengan Iran maupun Irak jika kedua negara itu tak mau bagi-bagi keuntungan hasil minyak, dan apalagi Iran itu konon dituduh mengembangkan nuklir untuk maksud yang tak disukai Amerika. Amerika tak suka ada  nuklir di Iran, tetapi ia sendiri tak boleh diprotes orang, sebagaimana halnya ia tak juga ribut soal nuklir di korea dan juga India.

Baca Juga :  Watak Bimbang Pemerintahan SBY-Boediono

Nah, sampai di sini Petruk, Gareng dan Semar sudah mulai bantah-bantahan. Mereka berbeda pendapat soal cita-cita ”gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerta raharja”, yang mereka warisi dari para leluhur. Alam fikiran mereka mulai terkondisi saling menyalahkan, di tengah suasana saling ingin lagak pintar dalam fakta keawaman terwariskan turun temurun. Mereka seperti sedang berhadapan dengan VOC yang kabar-kabarnya sedang berusaha mendarat dengan tongkang raksasa di suatu tepi perairan Indonesia dengan nyiur melambai.

(Bersambung)

Baca kelanjutannya:

  • DEMOKRASI (bag-2):  Tak Unitarisme, tak Federalisme: Yogya Diusik (pending: 08 Januari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-3):  Bangkrut Untuk Demokrasi (pending: 15 Januari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-4):  Rangkaian Pemilihan Yang Bukan Pemilihan (pending: 22 Januari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-5):  Pelajaran Dari Tirai Bambu (pending: 29 Januari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-6):  Singapura (pending: 05 Pebruari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-7):  Teori Pembangunan = Teori Penjajahan (pending: 12 Pebruari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-8):  Liberalisme (pending: 19 Pebruari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-9):  Meratapi Nasib (pending: 26 Pebruari 2011)

*) Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
sohibul DEMOKRASI (Bag 1) ASUMSI TAMBAH ASUMSIn’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*