27 Daerah di Sumut Endemis DBD (Demam Berdarah Dangeu)

Dari 33 kabupetan/kota di Sumatera Utara, 27 daerah di antaranya endemis Demam Berdarah Dangeu (DBD). Sejak April, sudah tujuh warga dinyatakan tewas. Sementara, lima daerah di Pulau Nias dan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang aman dari DBD, tapi rawan terhadap malaria.

%name 27 Daerah di Sumut Endemis DBD (Demam Berdarah Dangeu)

Untuk itu, pengasapan (fogging) harus segera dilakukan. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumut dr Chandra Syafii mengatakan, daerah endemis DBD di Sumut sepanjang 2010, meningkat cukup drastis.

“Penyebabnya karena suhu udara yang tidak menentu. Saat pagi cuaca panas, namun siang sampai malam, cuaca hujan. Kondisi seperti ini, kerap menyuburkan perkembangan kasus, sehingga perlakuan fogging harus digalakan,” kata Chandra, Selasa (1/6).

Ia menjelaskan, tahun 2009, wilayah endemis masih 20 daerah, 13 daerah lain rawan malaria. Namun sejak April 2010, wilayah endemis DBD menjadi 27 daerah, dan enam daerah rawan malaria. Keenam daerah rawan malaria tersebut, yakni Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Selatan, dan Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Dari 27 daerah endemis DBD, korban meninggal dunia sudah tujuh orang. Yakni empat korban di Kota Medan, dan tiga korban lain dari Kabupaten Langkat.

Di Kota Medan, dari 21 kecamatan, enam di antaranya sangat tinggi kasus DBD sejak Januari-April 2010.  Yakni Medan Amplas 64 kasus, Medan Helvetia 55 kasus, Medan Tembung 53 kasus, Medan Johor 51 kasus, Medan Denai 50 kasus, dan Medan Timur 49 kasus.

Baca Juga :  Ketua KPK belum terima kasus Rahudman

Sedangkan tiga korban meninggal dari Kabupaten Langkat, berasal dari Desa Halaban, Kecamatan Besitang, dengan jumlah warga menjalani perawatan sebanyak 17 orang.

Menurut Chandra, penanganan kasus DBD hanya efektif melalui fogging. Karenanya, upaya pencegahan tersebut sangat digantungkan kepada keseriusan dinas terkait di kabupaten/kota daerah endemis DBD.

Sedangkan penanganan malaria, diakui Chandra harus lebih serius lagi. Sebab, gerakan menguras, menimbun, dan mengubur (3M) tidak lagi mampu mengatasi pengembangbiakan nyamuk Aedes Aegpty (jentik nyamuk malaria).

Hal yang harus dilakukan dengan kelambunisasi. Untuk itu, sudah ada bantuan Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis, and Malaria (GFATM) sebesar 72,9 juta dolar AS. “Saat ini sudah disebar 20 ribuan kelambu ke daerah endemis malaria. Karena nyamuk malaria yang menempel dikelambu, akan seketika mati,” jelasnya.

Sumber: http://batakpos-online.com/content/view/14646/38/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*