3 Desa di paluta itu masih bernafas dalam gelap

GELAAAAAP....

www.waspada.co.idARMANSYAH ABDI

Walau telah menjadi daerah otonom baru sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan, tetapi tidak sedikit warga di Kabupaten Padanglawas Utara belum turut merasakan dampak rentetan dari pemekaran wilayah itu.

Contohnya warga di tiga desa tertinggal, yakni Desa Silangge, Si jara-jara dan Desa Baringin, Kecamatan Dolok Sigompulon. Hingga saat ini masyarakat di sana belum tersentuh kehadiran infrastruktur penerangan dari PLN. Gelapnya malam hingga kini masih menyelimuti warga tiga desa di sana. Mendapatkan penerangan listrik PLN bagi warga tiga desa itu menjadi impian yang terus dipupuk agar berbuah kenyataan. Akhirnya listrik telah menjadi barang yang amat mewah bagi mereka.

Salah seorang warga Desa Silangge, Manan Rambe, 48, saat ditemui Waspada, Kamis (28/1) di desa setempat, mengungkapkan, warga tiga desa khususnya Silangge mengimpikan penerangan PLN ibarat seorang pemuda merindukan kehadiran seorang gadis idamannya dapat direngkuh dalam pelukannya.

“Entah kapan lagi kami bisa merasakan listrik PLN, rasanya kami masih belum merdeka. Sebab kalau merdeka itu kan berarti menikmati fasilitas dan layanan yang cukup seperti tersedianya listrik,” ujar Manan.

Sementara tokoh masyarakat Desa Janji Manahan, Kecamatan Bilah Hulu, Kab. Labuhanbatu, HM Husni Thamrin Hasibuan yang jarak Janji Manahan hanya sekitar 7 kilometer dari desa tertinggal di Paluta ketimbang jarak ke tiga desa itu ke Gunung Tua, ibu kota Kab. Paluta yang jaraknya lebih jauh, secara senada menggambarkan hal yang sama dengan Manan.

Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Daarul Muhsiniin, Janji Manahan, kepada Waspada di tempat terpisah, mengatakan, jaringan listrik sebenarnya sudah ada hingga di Desa Bahab dan yang dibutuhkan untuk sampai ke Desa Si Jara-jara lebih kurang 1,5 kilometer lagi. Jika jaringan listrik sudah terkoneksi ke Si Jara-jara, maka jaringan ke Baringin dan Silangge sudah tinggal disambung dari Si Jara-jara.

Baca Juga :  Stok Beras di Tabagsel Aman, Madina Terbanyak Utang Raskin

“Padahal menurut warga sudah pernah diusulkan ke PLN agar tiga desa itu mendapat listrik, tetapi usulan itu tidak direspon PLN hingga saat ini,” keluh Husni Thamrin seraya menyebutkan, untuk bisa merasakan listrik, beberapa warga di tiga desa itu terpaksa menggunakan mesin genset sehingga menguras penghasilan warga yang tergolong petani gurem itu.

Mantan ketua SPSI L.Batu ini juga mengeluhkan PLN Wilayah Sumatera Utara. Sebab, di Kab. Labuhanbatu Selatan (Labusel), tepatnya di Dusun Simpang Maropat, Desa Sampean, Kec. Sungai Kanan, hingga saat ini belum juga mendapat listrik PLN walau sudah diusulkan ke PLN Wilayah Sumut.

Jaringan listrik PLN hanya sampai di Desa Patihe yang berjarak sekitar 4-5 kilometer ke Dusun Simp. Maropat yang dihuni sekira 250 kepala keluarga (KK) itu.

Baik Silangge yang ditinggali sekira 50 KK, Si Jara-jara + 200 KK dan Baringin + 100 KK di Paluta maupun Dusun Maropat di Labusel tidak ada kendala untuk memperoleh akses listrik PLN. Sebab, tidak ada warga yang menjadi penghambat karena kebunnya akan ditumbang untuk pemasangan jaringan listrik.

“Warga bersedia kebun-kebun mereka ditumbang agar jaringan listrik masuk ke desa mereka. Jadi tidak ada kendala di internal warga di kedua kabupaten itu, yang jelas kendala itu ada di PLN, BUMN tidak ada kehendak untuk memajukan rakyat” cetusnya.

Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRDSU Mulkan Ritonga yang merupakan anggota DPRD Sumut daerah pemilihan Sumut 6 menyatakan, akan mempertanyakan hal itu ke pihak PLN Sumut. Dia menilai dengan banyaknya pembangkit listrik yang sudah dibangun pemerintah termasuk di Labuhan Angin, Tapanuli Tengah, mengapa masih ada rakyat yang bernafas dalam gelap.’’Rakyat sudah merelakan tanahnya untuk ditanam tiang listrik, mengapa PLN tidak merespon. Saya akan menyampaikan hal itu melalui Fraksi Partai Golkar dan rekan-rekan fraksi di komisi terkait untuk mempertanyakan itu kepada PLN,’’ demikian Mulkan Ritonga, Kamis (28/1) yang dihubungi berada di kawasan Batangtoru untuk menyerap aspirasi pemilihnya.

Baca Juga :  PT Mosase Harus Prioritaskan Putra Daerah Sebagai Pekerja di Tambang Minyak

Impian, harapan dan keketusan yang disampaikan Husni Thamrin itu mewakili warga di 3 desa di Paluta dan L.Batu dan juga desakan dari Mulkan Ritonga, anggota DPRDSU yang seharusnya tidak didiamkan PLN. Rakyat menderita karena masih bernafas dalam gelap.
(dat04/wsp)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*