30 Tahun Mengabdi tidak Dihargai

(Analisa/rhinto sustono) MENGGANTUNG HARAPAN: Dua pensiunan karyawan PTPN2, Nurli dan Mariono menggatungkan harapan agar uang pensiunan tidak hilang. Keduanya ikut dalam aksi demo di Kandir PTPN2 Tanjung Morawa, Senin (12/5).

Oleh: Rhinto Sustono. NURLI (60) adalah salah seorang dari ribuan pensiunan karyawan PTPN2 yang berdemo menuntut haknya. Betapa tidak, karyawan golongan 2A yang pada 2010 lalu mengakhiri masa kerjanya, hingga kini belum menerima santunan hari tua (SHT). Padahal, setiap bulan selama 30 tahun kurang setengah bulan mengabdi di BUMN itu, gajinya dipotong untuk membayar dana pensiun ke lembaga Dana Pensiunan Perkebunan (Dapenbun).

Padahal, kalau SHT itu keluar, ia bisa hidup tenang di usia lanjutnya. “Kalau dibayar, yah kira-kira dapat Rp25 juta lebih, Mas,” katanya kepada Analisa saat berteduh dari guyuran hujan di bawah pohon beringin, di lingkungan Kandir PTPN2 Tanjung Morawa, Senin (12/5).

Tubuh mungilnya yang sudah termakan usia,  memang tidak tahan berdiri di bawah guyuran hujan untuk melebur  dengan ribuan pensiunan karyawan yang berdemo saat itu. Apalagi, selama menjadi karyawan ia hanya sebagai kuli kasar di Kebun Besilam, Langkat.

Jangankan berharap SHT puluhan juta itu, meskipun ia sudah golongan 2A, saat memasuki pensiun dulunya ia hanya mendapatkan upah setara golongan 1C senilai Rp800 ribuan. Jadi antara golongan dan gaji yang diterima saja sudah tidak sesuai.

Ketidak sesuaian itu pun berlangsung hingga ia pensiun. Meskipun ia menjalani pensiun sejak 4 tahun lalu, uang pensiun yang diterimanya setara dengan karyawan yang pensiun pada 2002, yakni hanya Rp240 ribuan. “Bisa membeli apa dengan uang segitu? Untuk makan saja tidak cukup,” keluhnya.

Baca Juga :  Gunung Sinabung Kembali Meletus

Dari informasi sesama pensiunan, jumlah yang diterimanya itu akibat uang beras dihilangkan perusahaan.  Bahkan sejak 2005, medali emas seberat 10 gr juga tidak lagi diterima para pensiunan. Semuanya hilang tanpa alasan dan penjelasan dari manajemen PTPN2.

Nurli juga curhat soal penghargaan jubelium 25 tahun mengabdi yang dibayarkan secara cicilan. “Tiga kali dibayar, Mas. Tapi jumlahnya tidak sesuai, hanya Rp1,2 juta. Begitu setengah bulan mau masuk 30 tahun, eh malah dipensunkan.”

Rumah dinas

Nasib sama dialami Mariono (58) yang pensiun pada 2011. Semasa bekerja, keduanya menempati rumah dinas. Begitu memasuki masa pensiun, Nurli dan Mariono harus menendatangani surat perjanjian untuk mengosongkan rumah dinas. Kalau tidak, keduanya tidak bisa mendapatkan haknya, mencairkan santunan hari tua (SHT).

Namun janji manis perusahaan BUMN itu sudah membuyarkan impian keduanya. Bertahun-tahun setelah pensiun, keduanya tidak pernah menikmati SHT yang dicicil melalui iuran setiap bulannya.

“Kalau saya “˜golongan habis”™, Mas. Sudah golongan 2B9 dengan gaji terakhir Rp1,2 juta. Tapi ya itu, cuma dapat uang pensiun Rp 480-an ribu perbulan.”

Dengan uang pensiun yang minim itu, Mariono menjalani masa tua yang serba pas-pasan.

Padahal semasa bekerja, ia menjadi orang kepercayaan manajer kebun. “Saya supir manajer. Paling jatuh ya jadi supir asisten. Semua rahasia pinpinan ada di tangan saya, dulunya.”

Baca Juga :  Bea Cukai Medan Gagalkan Penyelundupan Sabu Senilai Rp. 4 Miliar Oleh Seorang Wanita Asal Vietnam

Dua pensiunan karyawan itu merupakan potret buram nasib pensiunan karyawan PTPN2 yang hingga kini terkatung-katung menantikan haknya. Rasa miris itu kian bertambah, sebab pada September 2012 silam, Dapenbun mengultimatum tidak membayar uang pensiun mereka akibat tunggakan iuran yang belum dibayarkan PTPN2.

Bukan tanggung, saat ultimatum itu saja, tunggakan iuran pensinan sudah mencapai Rp 935,8 miliar lebih. Kini mendekati setahun berlakunya ancaman Dapenbun itu (pada Februari 2015), tunggakan membengkak menjadi Rp1,255 triliun lebih.

Ironis memang, bagaimana mungkin direksi BUMN bisa tidak membayarkan iuran pensiunan yang dipotong dari gaji karyawannya setiap bulan? Mungkinkah adanya penyimpangan sehingga tunggakan itu semakin menggunung?

Kini, para pensiunan hanya bisa berdoa. Secuil harapan mereka: uang pensiun tidak hilang, SHT tidak melayang,  dan hak mereka tidak menggantung di awing-awang.

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*