Mesjid dan Polisi Diserang Karena Dianggap Thogut

TEMPO Interaktif, Jakarta – Pengamat Intelijen Dynno Chressbon menyatakan serangan bom bunuh diri di Masjid Attaqwa kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon siang ini bukanlah sesuatu yang baru. Masjid dan polisi dijadikan target sasaran karena dianggap sebagai thagut atau berhala yang layak untuk dihancurkan dalam persepsi para teroris tersebut.

“Mesjid itu milik pemerintah, polisi itu bagian pemerintah. Apapun terkait pemerintah dan polisi dianggap sebagai thagut. Dalam persepsi teroris berarti boleh dihancurkan,” ujar Dynno, Jumat (15/4).

Penyerangan terhadap mesjid bukanlah sesuatu yang baru, bahkan para teroris sempat berlatih untuk mengebom Mesjid Agung Cirebon pada tanggal 27 Februari 2010 lalu. Pada Desember 2010 mereka juga melakukan teror bom di Mesjid Yogyakarta. “Dan 1998 Masjid Istiqlal juga sempat diteror,” kata dia.

Mesjid yang diserang para teroris itu adalah mesjid yang dibangun dan dimiliki, didanai, dirawat pemerintah. Para teroris tak pernah mengakui sistem pemerintahan negara ini. Penduduk sipil maupun polisi yang beribadah di mesjid tersebut juga dinilai sebagai pendukung setia thagut atau penyembah berhala sehingga halal dibunuh. “Jadi tak ada alasan bagi mereka untuk tak meneror mesjid maupun yang sedang ibadah di dalamnya,” kata Dynno.

Seperti diketahui, siang ini terjadi ledakan di Masjid Attaqwa dalam kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon. Ledakan berlangsung sebelum salat Jumat dilaksanakan, akibat ledakan tersebut sekitar 28 orang mengalami luka-luka. Sedangkan, pelaku pemboman diketahui tewas.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  FPI: Indonesia dan Malaysia Tidak Boleh Perang

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*