Aek Latong Itu Noktah Buruk Indonesia

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)

Macet, Antri, dan Kecelakaan... Pemandangan Biasa Di Aek Latong

Puluhan nyawa manusia menjadi korban sia-sia di Aek Latong. Kejadian terbaru adalah terperosoknya Bus ALS jurusan Medan-Bengkulu tanggal 26 Juni 2011 pagi tadi. Ini dosa siapa? Bukan pemerintahan SBY? Bukan dosa pemerintahan SYAMPURNO? Bukan dosa pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan? Dosa rakyat yang masih mau melintasi wilayah pembantaian itu?

Meskipun benar, namun tidak etis menuduh ada pihak yang mengambil keuntungan dari buruknya kondisi alam di desa Aek Latong. Tidak etis menuduh ada pihak yang berkolaborasi menyandra kepentingan umum untuk perolehan ”upeti” yang tidak sepantasnya, yang seolah-olah sebagai imbal-jasa atas pertolongan memudahkan pengguna jalan di Aek Latong. Tidak etis menuduh ada ”mafia” yang tetap menginginkan kondisi buruk jalan di desa Aek Latong untuk kepentingan melawan hukum. Tidak etis menyimpulkan bahwa jika pemerintah pernah kehilangan kewibawaannya berhadapan dengan konspirasi politik lokal yang memusuhi kepentingan rakyat, Itu terjadi di Sumatera Utara, yakni di desa kecil bernama Aek Latong.

Bahwa jalinsum amat dipentingkan oleh para pelaku pasar, terbukti dengan aktivitas berbagai perusahaan angkutan yang tetap memilih jalur ini sebagai primadona hingga hari ini. Tentulah harus dipercaya bahwa bahasa pasarlah bahasa yang paling objektif untuk melukiskan fungsi-fungsi sosial dan efek ekonomi dari jalinsum bagi kalangan yang luas. Capital return (pengembalian modal) dari investasi untuk ini dipercaya bisa berlangsung dalam tempo relatif singkat, di samping multiplier effect yang dipastikan besar bagi masyarakat terutama di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padangsidempuan, Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Tapanuli Utara.

Demikian Sekretaris Umum Majelis Pengurus Pusat Persatuan Luat Pahae Indonesia (MPP-PLPI) yang juga Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya (’nBASIS) kepada pers Minggu sore.

Dikatakannya, elit Tapanuli boleh lebih siap mempertaruhkan segalanya untuk kekuasaan melalui pemekaran provinsi. Tetapi ini bukti nyata Aek Latong menunjukkan secara jelas bahwa orang-orang kerdil di balik ide pemekaran tidak pernah ingin memaslahatkan rakyat. Anda pasti tahu dan pasti ingat siapa-siapa anggota legislatif (Pusat dan Daerah) yang Anda pilih mewakili “Daerah Pemilihan Aek Latong”. Cemoohlah mereka sebab tak pernah terpikir selain mengamankan kekuasaan mereka.

Ketidakberdayaan Rakyat. Menurut sebuah kajian, selama 7 tahun (2002-2009) kerugian di daerah ini sudah mencapai 7 milyar rupiah. Kajian tahun 2009 itu memprediksi pula bahwa jika tak diperbaiki akan mengakibatkan akumulasi kerugian sebesar 10 milyar rupiah pertahun. Kajian-kajian seperti ini dianggap sepi oleh pemerintah dan elit politik, dan lebih mementingkan urusan adhock masing-masing ketimbang kemaslahatan masyarakat.

Baca Juga :  Menangkal Money Politic Dalam Pilkada ?

Adalah ketidak-berdayaan yang cukup lama membuat semua kita harus kalah pada nasib. Nasib beroleh pemerintahan yang tidak tanggap. Nasib memperoleh pemerintahan yang tidak jujur dan tidak adil. Mengenang upaya-upaya yang pernah dilakukan bersama kelompoknya, Shohibul Anshor Siregar menyebutkan bahwa pada periode pertama pemerintahan SBY mereka pernah menyurati banyak pihak. Mulai dari Menteri PU sampai kepada masing-masing pemerintahan Tapanuli Utara, Tapanuli selatan, Padangsidimpuan dan Madina. Juga kepada semua DPRD di daerah-daerah itu. Tembusan juga dikirimkan kepada Ketua DPR-RI, Ketua DPD-RI dan Presiden. Ya, Presiden Republik Indonesia, tegasnya.

Isi surat itu ialah pemaparan fakta buruknya infrastruktur jalan dan jembatan di Sumatera Utara, tak terkecuali di sekitar Aeok Latong yang sudah semacam atau menjadi legenda nasional kebobrokan infrastruktur jalan itu. PLPI juga mengemukakan makna penting normalisasi hubungan antara daerah-daerah khususnya Tapanuli Utara dan tapanuli Selatan dengan perbaikan jalan Aek Latong. Dengan membuka jalan baru sebagai pengganti melalui Sipahutar di Tapanuli Utara menembus vias Silantom ke Tapanuli Selatan, bukan saja akan terdapat stagnasi cukup lama. Kan tidak mungkin ndonesia merubah watak cepat dalam bekerja karena tak biasa tanggap atas persoalan rakyat? Bukankah sembari menuggu jalur baru itu kebutuhan transportase melintasi jalanlintas Sumatera (jalinsum) via Pahae tetap amat diperlukan?

Akan ada resiko ekonomi yang cukup besar bagi Pahae dan juga sebagian Tapsel jika benar-benar jalur Aek Latong akan dibunuh. Ini tidak boleh terjadi. Waktu itu mantan Kadis PU Sumatera Utara memberi data tentang keculitan alamiah berhubung wilayah itu adalah garis patah sesar semangko. Biayanya akan sia-sia. Diperbaiki hari ini besok bisa runtuh lagi, sama seperti selama ini.

MPP-PLPI Menolak. Tetapi PLPI tidak mau menerima alasan seperti itu. Bagi mereka di negeri ini malah dua pulau pun sengaja dijembatani dengan biaya sangat mahal adalah bukti bahwa soal kondisi alam tidak boleh jadi dalih untuk tak bertanggungjawab. Jangan ada perasaan bukan indonesia di wilayah Tapanuli karena dianggap kebutuhan perbaikan jalan mereka terlalu mahal hingga pemerintah pusat merasa tak perlu dikerjakan. Ini soal-soal lama yang melukiskan rendahnya apresiasi pemerintah pusat yang menyebabkan perasaan didiskriminasi oleh daerah. Jangan katakan Jawa sudah jenuh, sehingga kita perlu mengembangkan ke daerah. Itu amat tak sesuai dengan Jiwa Indonesia merdeka yang antara lain dinukilkan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya (Bangunlah Jiwanya//bangunlah Badannya//Untuk Indonesia raya).

Baca Juga :  Reshuffle, Struktur Gemuk dan Inefisiensi

Bahwa jalinsum amat dipentingkan oleh para pelaku pasar, terbukti dengan aktivitas berbagai perusahaan angkutan yang tetap memilih jalur ini sebagai primadona hingga hari ini. Tentulah harus dipercaya bahwa bahasa pasarlah bahasa yang paling objektif untuk melukiskan fungsi-fungsi sosial dan efek ekonomi dari jalinsum bagi kalangan yang luas. Capital return (pengembalian modal) dari investasi untuk ini dipercaya bisa berlangsung dalam tempo relatif singkat, di samping multiplier effect yang dipastikan besar bagi masyarakat terutama di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padangsidempuan, Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Tapanuli Utara.

_____________________________________________________________________________

*) Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum nBASIS

n’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.
_____________________________________________________________________________

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. http://nbasis.wordpress.com/2013/05/06/fraksi-aspirasi-lokal/

  2. Ise-ise do dongan Anggota DPRD Tapanuli Selatan, Anggota DPRD Sumatera Utara dohot Anggota DPR-RI “Daerah Pemilihan Aek Latong?”. Ise muse de anggota DPD na sian Aek Latong? Palalu hamu jolo kirim solom aso dipalalu halai hancit ni partinaonan ni rakyat Aek Latong tu bapak Presiden.

    Andigan de Pemilu?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*