Seorang Ayah Bunuh Diri Karena Tak Mampu Sekolahkan Anaknya

Wu Jingmin (36), istri mendiang Wang Guangrong, bersama tiga putri dan seorang putranya. Wu Jingmin berkata suaminya akan bahagia karena saat ini anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

BEIJING, KOMPAS.com – Seorang ayah empat anak di China nekat bunuh diri setelah dijatuhi hukuman denda karena melanggar kebijakan satu anak yang diterapkan di negeri itu.

Wang Guangrong (37), yang berprofesi sebagai petani di desa Wantun, Provinsi Guizhou, memiliki satu putra dan tiga orang putri. Dia sangat membanggakan keluarganya ini namun tidak demikian dengan pejabat setempat.

Seperti halnya keluarga miskin lainnya, Wang melihat anak sebagai aset berharga dan memutuskan untuk melanggar kebijakan pemerintah itu.

Namun yang sedikit membedakan Wang dari warga miskin lainnya adalah dia sangat bertekad memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Sayangnya, Wang harus kecewa karena saat mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah pada Maret lalu, Wang harus membayar uang sebesar 2.000 poundsterling atau sekitar Rp 39 juta untuk biaya pendidikan.

Tak mampu membayar biaya sekolah anak-anaknya dan tak mau membesarkan anak-anaknya tanpa mendapat pendidikan, Wang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

“Dia tak tahan lagi. Sebelum mengiris urat nadinya, dia berkata kepada saya buat apa melahirkan anak-anak jika akhirnya mereka bodoh seperti ternak. Saya tak bisa hidup melihat anak-anak saya menjadi orang bodoh,” kata Wu Jinmin (36), istri Wang.

Baca Juga :  Lagi...., Obama Batal ke Indonesia, Obama Sampaikan Penyesalan Mendalam

Kabar bunuh diri Wang ini ternyata membuat pemerintah setempat malu sehingga mereka memutuskan untuk memberikan kompensasi kepada keluarga Wang sebesar 20.000 poundsterling atau hampir Rp 390 juta.

Selain itu, pemerintah setempat juga menjanjikan sebuah rumah baru untuk Wang dan keempat anak-anaknya.

“Pemerintah mengatakan setelah kematian suami saya bahwa kelebihan anak, meski tak disarankan, tak boleh membuat mereka tak mendapat pendidikan,” kata Jinmin.

“Saya harap suami saya masih ada, namun saya kira dia kini bahagia karena tahu anak-anaknya akan bersekolah meski kami tidak,” tambah dia.

Meski kemungkinan mendapat pendidikan kini terbuka, namun hilangnya sosok ayah membuat anak-anak Wang Guangrong bersedih. “Anak-anak sangat merindukan ayahnya. Mereka semua sangat sedih,” tambah Jinming.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*