Sofyan Tan dan Barack Obama

Pasca-pemilihan kepala daerah (Pilkada) Walikota Medan (12/5), hasil sementara telah dapat kita saksikan bersama-sama. Ada dua pasangan yang berada pada urutan dua besar, yaitu pasangan dr. Sofyan Tan-Nely Armayanti dan pasangan Rahudman Harahap-Zulmi Eldin. (Analisa, 13/5).

Kedua pasangan ini diperkirakan akan melaju ke putaran kedua. Pilkada walikota ditengarai akan berlangsung dua putaran, karena diperkirakan tidak ada satu pasangan pun yang dapat memenuhi syarat 30% suara.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk meramalkan siapa yang akan menjadi walikota Medan atau siapa yang akan maju ke putaran Kedua? Tidak juga bermaksud menjagokan salah satu pasangan untuk menjadi walikota Medan.

Tulisan ini hanya hendak berandai-andai. Berandai-andai itu mungkin menjadi kenyataan, boleh jadi hanya sekadar angan-angan. Bukankah Barak Obama juga bermimpi menjadi presiden ketika masa kanak-kanaknya? ” The Future belongs to those who believe in the Power of their dreams.”.

Itulah mimpi-mimpi Barack Obama kecil ketika bersekolah di SDN 01 Menteng. Barack Obama percaya kepada kekuatan mimpi, siapa yang memiliki mimpi suatu ketika dia dapat mewujudkan mimpi. Hal ini sudah direalisasikan oleh seorang Barack Obama. Tetapi, siapa yang tidak memiliki mimpi dan angan-angan maka sudah pasti dia tidak kehilangan apa-apa dan juga tidak akan mendapat apa-apa.

Demikianlah, penulis bermimpi suatu ketika dalam pilkada walikota Medan ada sebuah sejarah baru yang dapat dicatat dengan tinta emas. Sejarah baru yang dibuat di sebuah kota terbesar ketiga di Indonesia.

Di Kota Medan, tidak ada satu etnis pun yang mendominasi di kota metropolitan ini. Komposisi penduduk Medan, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) hasil sensus tahun 2001 adalah sebagai berikut: Suku Jawa 33,03%, Batak Karo 19,21%, Tionghoa 10,65%, Mandailing 9,36%, Minang 8,60%, Melayu 6,59%, Karo 4,10%, Aceh 3,78%, Nias 0,69%, Simalungun 0,69%, suku Pakpak 0,34%, dan lain-lain 3,96%. ( Prof.Dr. Subanindyo Hadiluwih, 2010: 128) .

Sofyan Tan dan Sejarah Baru

Berdasarkan data-data dari BPS tersebut di atas, jumlah penduduk suku Tionghoa di kota Medan kira-kira 10,65% dari jumlah penduduk 1.904.273 atau sekitar dua ratus ribu lebih jumlah. Jumlah penduduk suku Tionghoa adalah pada posisi ketiga terbesar, di bawah suku Jawa dan Batak Karo.

Baca Juga :  Pemeriksaan Ujian CPNS Diawasi Lima CCTV

Dari segi jumlah penduduk suku atau etnis Tionghoa tidak dapat dikatakan “minoritas”. Pengertian minoritas dalam arti harfiahnya, yakni minoritas dalam arti jumlah atau kuantitas. Meskipun, minoritas juga memiliki makna konotatif yaitu yang didiskriminasi.

Secara jujur kita harus mengakui, hampir seluruh negara di dunia ini memiliki suku-suku minoritas dan mayoritas. Kita ambil contoh di China, suku mayoritasnya Han dan suku minoritas suku Hui, Uighur, Tibet dan lain-lain. Di Thailand, suku mayoritasnya Siam, suku minoritasnya Melayu. Di kedua negara yang tersebut di atas, suku minoritasnya, sebagaimana kita baca di surat kabar, sering mengalami diskriminasi.,

Kota Medan adalah sebuah kota yang jauh dari konflik etnik, karena tidak ada satupun etnik yang mendominasi secara budaya, meskipun dari segi jumlah suku Jawa adalah suku mayoritas. (Prof. Dr. Subanindyo Hadiluwih, 2010: 7).

Sejarah baru yang penulis maksudkan dan mimpikan adalah dr. Sofyan Tan berhasil menjadi walikota Medan. Sofyan Tan dengan basis etnis Tionghoa sekitar 10,65% berhasil meraih sekitar 21,68% suara (hasil sementara). Hal ini bermakna perolehan suara Sofyan Tan tidak mengandalkan isu priomodialisme. Kalau itu yang dijualnya, maka tidak mungkin ia akan meraih sebanyak itu.

Saudara J. Anto dalam sebuah tulisannya di harian Analisa, bertanya apakah suara etnis Tionghoa pecah?

Meskipun, J. Anto sebenarnya tidak bermaksud menjawab pertanyaan itu dalam tulisannya, tetapi mendeskripsikan kepada kita, bagaimana dan betapa tidak berpengalamannya etnis Tionghoa dalam berpolitik. Tetapi, tulisan itu sangat menggelitik penulis selaku pribadi. Melalui sms, penulis katakan kepada J. Anto, bahwa sesungguhnya suara etnis Tionghoa itu tidak pernah bulat, bagaimana mungkin bisa pecah?.

Dari berita-berita di surat kabar dan realitas yang ada, kita mengetahui bahwa etnis Tionghoa adalah tidak homogen, heterogen baik dalam bahasa, agama, apalagi dalam kepentingan politik. Dan yang pasti suara etnis Tionghoa terbagi-bagi kepada beberapa kandidat walikota. Ini merupakan sebuah fenomena yang terang-benderang, yang telah diketahui masyarakat umum.

Sofyan Tan dan Barack Obama

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama adalah presiden dari keturunan Afro-Amerika. Kemenangan Obama menjadi presiden AS merupakan sebuah sejarah baru di negara adidaya tersebut. Dalam sejarah AS, baru pernah kali diperintah oleh seorang presiden yang berkulit hitam.

Baca Juga :  Beranikah PEMDA TAPSEL, KANTOR POLISI, KANTOR TNI DAN DIREKSI PERUSAHAAN TAMBANG di Kec. Batangtoru Menjadikan air Limbah Menjadi Kebutuhan sehari-hari????

Kemenangan Obama dalam pilpres juga dapat dimaknai sebagai suatu kemenangan upaya memberantas diskriminasi ras di dunia. Kemenangan Obama memberikan sebuah inspirasi bagi minoritas dalam berpolitik ditengah-tengah mayoritas.

Negara demokrasi terdepan di dunia telah memberikan teladan dalam hal ini, Negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia, barangkali, juga boleh terinspirasi akan hal ini.(Yusrin, Analisa: Opini 2010).

Sofyan Tan diharapkan juga dapat mengikut jejak Obama, membuat sejarah yang dicatat dengan tinta emas di Ibukota Sumatera Utara, kota Medan. Kalau Obama berhasil menjadi Presiden AS, maka Sofyan Tan diimpikan memimpin kota Medan. Belum pernah dalam sejarah, kota Medan dipimpin oleh seorang dari etnis Tionghoa.

Kalau Obama memiliki mimpi dan percaya pada kekuatan mimpi, maka Sofyan Tan tentu juga memiliki mimpi dan percaya pada kekuatan mimpi. Dan sebahagian mimpi Sofyan Tan telah berhasil direalisasikan.

Melalui buku Biografi, Dokter Penakluk Badai, yang ditulis J. Anto, kita mengetahui bagaimana seorang Sofyan Tan, jatuh bangun, membangun sekolah pembaurannya, Sultan Iskandar Muda (YPSIM) dari mimpi. Mengapa penulis katakan mimpi?

Ya, bagaimana mungkin membangun sebuah sekolah dengan berutang? Kalau membangun sebuah perusahaan yang sifatnya mendapatkan laba, masih mungkin. Tetapi, membangun sekolah yang nirlaba?

Bagaimana mengelola sekolah dengan berutang dan menolong anak-anak miskin untuk bersekolah di sekolahnya, sedangkan dia sendiri juga harus menolong dirinya sendirinya?

Tetapi, itulah Sofyan Tan, dia berhasil menaklukkan badai. Mudah-mudahan dia berhasil “menaklukkan badai” dalam pilkada walikota Medan kali ini. ***

Oleh : Yusrin

Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=54930:sofyan-tan-dan-barack-obama&catid=78:umum&Itemid=139

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*