Ada “Bali” di Sumatera Utara

Oleh : Fifin Nurdiyana *)

Mau makan di restoran Padang Bukan berarti harus ke … Padang
Cukup ada di sini dekat kita sendiri
Kita tinggal menikmati
Mau makan nasi gudeg Jogja Bukan berarti harus ke … Jogja
Cukup ada di sini dekat kita sendiri
Kita tinggal menikmati….

Pernah dengar lagu itu ? itu cuplikan lirik lagu Enno Lerian jaman dulu…lagu anak-anak yang menceritakan betapa kaya dan suburnya Indonesia akan budaya dan sumberdaya alam di semua sudut wilayahnya, sehingga apapun yang kita inginkan, semua hampir ada disekitar kita…

Berbicara pariwisata maka kita akan berbicara kebudayaan. Sebab pariwisata merupakan salah satu bentuk refleksi bagaimana mengetahui dan mempelajari suatu budaya tertentu dan sejarahnya melalui berbagai kegiatan yang bersifat rekreasi.

Pariwisata adalah salah satu upaya cerdas untuk mengembangkan dan melestarikan kekayaan budaya di Indonesia, bukan hanya dipandang dari segi ekonomi tapi juga pada segi sosial budayanya. Melalui pariwisata, sebuah kebudayaan akan terangkat dan menjadi kredit poin bagi pemerintah setempat dalam memaksimalkan potensi kearifan budaya lokal yang ada.

kegiatan voluntourism di Kampung Bali Pegajahan (dok:pribadi)

Berbagai kendala terkait dengan upaya pengembangan dan pelestarian pariwisata budaya sebenarnya telah banyak dikupas di berbagai seminar baik lokal maupun nasional. Namun, saya melihat ada beberapa persoalan yang masih tersembunyi dan hampir tidak pernah tersentuh baik oleh pemerintah maupun para stakeholder yang ada, yaitu bagaimana masyarakat Indonesia masih memiliki mindset “mengkotak-kotakan” setiap budaya yang ada.

Contohnya, ketika kita berbicara Bali maka kita akan berbicara Pulau Bali. Ketika kita menceritakan Batak maka kita akan bercerita tentang Sumatera Utara. Pengkotak-kotakkan ini akan berdampak pada penyempitan potensi budaya di setiap wilayah Indonesia. Padahal, kenyataannya masyarakat dan budaya Bali tidak hanya ada di Pulau Bali. Masyarakat suku Batak tidak hanya berdiam di Sumatera Utara. Mereka tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Bukankah potensi akulturasi budaya ini akan menjadi keunikan tersendiri dan tentu saja memiliki nilai jual terutama dalam mendukung pengembangan pariwisata di Indonesia ?

Anyway, saya punya cerita yang menarik tentang potensi kekayaan budaya Indonesia yang berbasis pada akulturasi budaya. Sebuah pengalaman pribadi melihat bagaimana masyarakat suku Bali mempertahankan eksistensi mereka sebagai minoritas di wilayah Pegajahan kabupaten Serdang Bedagai provinsi Sumatera Utara.

berinteraksi dengan masyarakat Bali Pegajahan (dok:pribadi)

Masyarakat Sumatera Utara menjuluki daerah kecil Pegajahan ini sebagai “Kampung Bali”. Di sini tinggal sekitar 30-an masyarakat suku Bali yang pada sejarahnya mereka merupakan perantauan sebagai buruh di perkebunan Kelapa Sawit akibat terjadinya bencana alam meletusnya Gunung Agung di Pulau Bali yang meluluhlantakkan rumah dan pekerjaan mereka di Pulau Bali. Dari penelusuran saya, dari ratusan masyarakat Bali yang merantau ke Pegajahan Sumatera Utara, kini hanya tinggal 30-an saja yang masih memilih tinggal di Pegajahan Sumatera Utara. Ternyata seleksi alam melalui proses akulturasi budaya yang menjadi alasan mereka untuk tetap tinggal di Pegajahan atau memilih kembali ke Pulau Bali. Mereka yang masih tinggal di Pegajahan sebagai minoritas penduduk adalah mereka yang berhasil dalam melalui proses akulturasi budaya, sedangkan mereka yang meninggalkan Pegajahan adalah mereka yang gagal melalui proses akulturasi budaya.

Hal ini menjadi fakta sejarah budaya yang menarik bagi saya, terutama nilai bagaimana suku Bali di Pegajahan dapat menjaga dan mempertahankan eksistensinya diantara penduduk mayoritas suku Batak. Bahkan, meski mereka telah beralkuturasi, mereka tetap mempertahankan identitas diri mereka sebagai suku Bali seperti mendirikan Pura, memakai baju khas Bali, merayakan upacara adat dan keagamaan, beritual Hindu-Bali dalam keseharian sampai memasak masakan khas Bali.

mendengar dan mencatat cerita masyarakat Bali Pegajahan (dok:pribadi)

Kelihatannya sederhana, tapi jika kita mau mengkaji lebih dalam tentu ini menjadi peluang untuk mengembangkan serta melestarikan pariwisata Indonesia terutama di bidang wisata budaya yang punya karakter unik dan berbeda.

Baca Juga :  KPK Tetapkan Gubernur Sumut dan Istrinya sebagai Tersangka

Saya sempat datang berkunjung dan tinggal selama beberapa waktu di Kampung Bali ini. Pertama datang, saya cukup kagum melihat “Bali” ada di “Sumatera Utara”. Desa kecil ini seperti disulap menjadi “Bali Look”. Hampir di setiap sudut desa menggunakan ornamen Bali. Kesan pertama, saya merasa seperti sedang di Pulau Bali !

Saya bukan hanya datang untuk berkunjung dan sekadar kagum, tapi saya punya misi untuk mengetahui lebih mendalam tentang kebudayaan disini, mencoba menangkap potensi wisata budaya yang ada dan dan telah melakukan aksi dengan berinteraksi langsung serta bergiat sosial melalui pemberdayaan seni budaya di Kampung Bali Pegajahan ini.

Berinteraksi dan berkomunikasi serta menyelami tentang kehidupan mereka secara langsung memberikan pesan edukatif kepada saya tentang bagaimana toleransi merupakan hal terpenting dalam menjaga keharmonisan hidup di tengah Negara yang multikultur. Selain itu, kepatuhan mereka terhadap ajaran agama dan budaya membuat mereka memiliki nilai dan norma yang tinggi.

mensosialisasikan pemberdayaan budaya kepada masyarakat Bali Pegajahan (dok:pribadi)

Kegiatan sosial yang saya lakukan yaitu berbagi pengetahuan dan keterampilan dalam membuat kerajinan tangan dari bambu dan daun, memasak makanan serta mengajarkan mereka bagaimana mengelola hasil kreasi kerajinan tangan dan makanan sehingga menjadi produk yang menghasilkan. Saya juga berkomunikasi dengan Pembina Koperasi Desa setempat untuk dapat membuka jalan bagi distribusi penjualan produk lokal masyarakat Bali Pegajahan, baik melalui etalase koperasi sendiri maupun menyampaikan ide mengenai keikutsertaan produk kreatif Bali Pegajahan di event-event pameran, dsb.

berbagi ilmu dan keterampilan dengan masyarakat Bali Pegajahan (dok:pribadi)

Masyarakat suku Bali di Pegajahan ini sangat ramah dan bersahabat. Mereka menyadari bahwa membuka diri dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan sekitar adalah hal paling penting dalam mempertahankan eksistensi mereka. Bukan hanya itu, mereka juga mengenalkan budaya Bali melalui beberapa kegiatan kesenian dan keagamaan seperti Pagelaran Seni Tari Bali dan upacara perayaan Hari Besar. Meski belum diapresiasi secara maksimal tapi mereka tidak patah semangat, masyarakat Bali di Pegajahan ini terus mengupayakan prestasinya terutama di bidang kesenian.

This is a great opportunity ! rasanya tidak ada alasan bagi Pemerintah Daerah ataupun para stakeholder untuk tidak “melirik” Kampung Bali Pegajahan ini sebagai salah satu spot unggulan pariwisata budaya di Sumatera Utara. Tentu saja “melirik” bukan hanya sebatas “pengakuan” bahwa memang ada Kampung Bali di Pegajahan Sumatera Utara, tapi lebih dari itu, yaitu bagaimana mengelola potensi ini semaksimal mungkin sehingga menjadi salah satu destinasi wisata yang berkarakter unik dan berbeda.

Guna mendukung pengelolaan potensi wisata budaya di Kampung Bali Pegajahan Sumatera Utara ini, selain beraksi sosial, sedikit sumbangsih saya coba tuangkan dalam beberapa ide dibawah ini :

1. Mindset

Ubah mindset kita tentang “pengkotakan” potensi budaya yang ada di Indonesia. Kekakuan dalam melihat potensi budaya akan menyebabkan sempitnya pandangan dan berbagai ide untuk memajukan serta mengembangkan pariwisata di Indonesia. Kita akan terkungkung pada satu titik saja tanpa melihat bahwa sebenarnya ada titik yang lain. Mari kita sama-sama membuka diri melihat peluang besar wisata budaya Indonesia yang luar biasa unik dan menarik. Satu contoh : jangan hanya mengupas Bali di Pulau Bali, karena nyatanya ada Bali di Sumatera Utara, dan seringkali tanpa disadari ini adalah peluang besar dalam mengembangkan pariwisata budaya di Indonesia.

2. Ekonomi

Setiap membuka peluang, apapun itu pasti dibutuhkan “modal” untuk membangun infrastrukturnya. Maka kepedulian Pemerintah Daerah (melalui APBD) dan stakeholder dalam hal ekonomi sangat diperlukan guna menunjang terwujudnya pariwisata budaya Kampung Bali Pegajahan.

3. Perencanaan Wilayah dan Konsep Wisata

Perencanaan wilayah ini sangat penting terutama untuk memetakan potensi suatu wilayah sehingga pengembangan dapat dilakukan secara maksimal. Selain itu dengan perencanaan wilayah yang matang juga dapat disusun bagaimana konsep wisata yang akan dikembangkan.

Baca Juga :  Gangguan Katup Gas Sebabkan Pemadaman Listrik di Sumut-Aceh

4. Kesenian dan Sosial Budaya

Memajukan kesenian dan sosial budaya masyarakat Bali Pegajahan. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan mereka pada event-event kesenian dan mereka diberikan kesempatan untuk menampilkan seni budaya mereka, misalnya dengan pagelaran seni dan budaya.

5. Sumberdaya Alam

Sumberdaya alam adalah salah satu titik utama bagi pengembangan potensi wisata. Pengembangan sumberdaya alam dapat dilakukan dengan pelestarian kekayaan alam yang ada dengan perlakuan konservasi alam secara baik dan benar.

6. Sumberdaya Manusia

Potensi budaya tidak akan memiliki nilai jika tidak ditunjang dengan fasilitas pendidikan yang memadai. Untuk mencapai masyarakat Bali Pegajahan yang berdaya tidak hanya dibutuhkan skill dasar, tapi juga pengajaran bagaimana skill tersebut dikembangkan dan dikelola sedemikian rupa sehingga menghasilkan. Karena itulah pengembangan sumberdaya manusia dapat dilakukan diantaranya melalui pendidikan formal maupun informal misalnya pelatihan-pelatihan, kursus keterampilan dan seminar-seminar serta forum diskusi tentang ekonomi kreatif.

7. Aksesibilitas

Kemudahan akses harus menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting. Mulai dari akses jalan, komunikasi, transportasi dan sanitasi. Hal ini sudah harus dipikirkan secara serius, sebab akses inilah yang nanti akan “mendatang” kan wisatawan baik domestik maupun mancanegara terutama ke titik wisata yang jauh dari perkotaan.

8. Promosi Wisata

Promosi wisata dapat dilakukan dengan membuat brosur-brosur, peta potensi dan wilayah dan bekerjasama dengan tour and travel untuk menempatkan Kampung Bali Pegajahan sebagai salah satu destinasi wisata di Sumatera Utara.

9. Website Resmi

Di era internet, keberadaan website tentu sangat membantu dalam upaya memperkenalkan Kampung Bali Pegajahan ke seluruh penjuru dunia. Sebab dari website inilah, jendela dunia terbuka dan secara praktis dapat mempromosikan sebuah lokasi wisata.

10. Produk Lokal

Memamerkan produk lokal Kampung Bali Pegajahan adalah keharusan. Caranya dapat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah, Koperasi dan Stakeholder melalui pameran, membuka lahan sentra industri, kegiatan bazaar, dll

Jika ke-10 ide ini diupayakan, saya yakin pariwisata dan kebudayaan di Indonesia akan semakin maju dan berkembang. Sebab bagaimanapun, memajukan, mengembangkan serta melestarikan budaya melalui sektor pariwisata harus didukung dari segala penjuru. Dan ini bukan hanya menjadi tanggungjawab Pemerintah semata tapi juga menjadi tanggungjawab kita bersama melalui aksi sosial maupun menuangkan ide-ide yang membangun.

Let’s be an voluntourism, guys ! because Indonesia is wonderful !

Melalui kegiatan voluntourism, saya membuktikan bahwa langkah nyata kita dalam mendukung kemajuan pariwisata dan budaya Indonesia dapat membantu “memunculkan” potensi-potensi budaya yang selama ini kurang mendapat perhatian dan mengubahnya menjadi sebuah peluang pariwisata budaya yang dapat diandalkan.

Pura Pegajahan sebagai landmark Kampung Bali di Pegajahan Sumatera Utara (dok:pribadi)

At last, saya sudah menjadi voluntourism di Kampung Bali Pegajahan-Sumatera Utara dan melalui tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa :

“kalau kita ingin menikmati sajian wisata budaya Bali, nggak harus pergi ke Pulau Bali kan ? karena (ternyata) ada Bali di Sumatera Utara…”

———— 0 0 0 ————

*) Fifin Nurdiyana – Aparatur Sipil Negara, Mahasiswa Pasca Sarjana USU Ilmu Komunikasi, Istri dari Prasetyo Mimboro, karyawan BUMN, mahasiswa Pasca Sarjana IPB Ilmu Tanah dan Ibu dari tiga anak hebat
www.kompasiana.com/fienprasetyo

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Selamat sore mbak Fifin.
    Perkenalakan saya Anna. Saya tertarik dengan informasi yang mbak Fifin sampaikan ini. Saya juga pada dasarnya berdomisili di Sumatera Utara, hanya saja saat ini sedang menjalani kegiatan akademisi di Perguruan Tinggi Negeri di Bogor. Saya juga baru mengetahui keberadaan “Kampung Bali” ini dari tulisan mbak.
    Kalau boleh saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan informasi lainnya terkait keberadaan “Kampung Bali” ini:
    1. Apakah keberadaan masyarakat komunitas Kampung Bali ini pernah atau sedang memperoleh kegiatan pemberdayaan masyarakatnya, baik itu pembinaan atau jenis lainnya?
    2. Jika ya, apakah pihak mana yang memberikan kegiatan pemeberdayaan tersebut?
    3. Bisa di ceritakan jumlah rumah tangga yang ada dalam komunitas tersebut dan hubungan sosial yang terjalin didalamnya?

    Maaf, jika saya bertanya terlalu banyak, saya berharap mbak Fifin berkenan untuk meresponnya. Respon mbak Fifin sangat berarti untuk mendukung proses penjajakan lokasi lebih lanjut untuk proses akademisi akhir yang saya jalani saat ini. Disisi lain, informasi yang diberikan juga dapat menambah wawasan saya secara pribadi, dan mungkin pembaca lainnya.

    Ditunggu responnya ya mbak Fifin,
    Terimakasih mbak Fifin.

    • Hai romanna,
      So sorry baru tau komen kamu ini…
      Setau aku blm ada pmberdayaan yg khusus ya…hanya mgkn kalo kunjungan dan kgiatan voluntorism kyk yg aku lakukan ada atau research…jumlahnya krg lbih 30an kk…hub sosial cukup baik…sbg minoritas eksistensi mrk cukup baik…
      Btw, mau research kah ? Ttg kajian budaya kah ?
      Salam kenal ya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*