Ahli Gizi: Biasakan Sarapan agar Anak Tak Tergoda Jajan Sembarangan

Yogyakarta, Banyaknya makanan kemasan, terutama yang dijual sebagai snack atau camilan untuk anak mau tak mau meresahkan para orang tua. Apalagi dengan kandungan bahan pengawet dan pewarna yang terkadang berlebihan.

‘Kalau anaknya masih 1-3 tahun tidak usah khawatir mereka akan jajan. (Bila muncul keinginan untuk jajan) semua itu tergantung orang-orang di sekitarnya. Kalau memang orang tua ‘terpaksa’ meminta bantuan baby sitter atau pengasuh (untuk menjaga si anak), kemudian penting diketahui bagaimana orang tua memberikan pendidikan kepada baby sitter tadi,” saran Prof Dr Ir H Hardinsyah, MS.

Akan tetapi lain halnya dengan anak-anak usia sekolah. Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB itu sepakat bila anak usia sekolah cenderung lebih suka membeli makanan di luar. Lantas bagaimana menjaga agar anak terlindungi dari dampak negatif jajan sembarangan?

“Pertama, membiasakan sarapan. Kalau anak sudah biasa sarapan, bisa di rumah atau dibawakan bekal, maka laparnya akan tertunda hingga jam 9-10,” katanya.

Kedua, orang tua perlu mendukung adanya kantin sehat di sekolah. Hanya saja hemat Prof Hardin upaya ini membutuhkan kerjasama dari semua pihak, baik antarorang tua, guru dan pihak sekolah, termasuk Pemda setempat.

“Ciri-ciri kantin sehat dan tata cara (mendirikannya) tinggal berkonsultasi ke puskesmas setempat dan mereka memang punya tugas untuk membina warung sekolah,” tegasnya.

Baca Juga :  5 Manfaat Hebat Tersenyum

Bila orang tua fleksibel dan memperbolehkan anak untuk jajan maka yang tak kalah penting adalah memilih produk camilan yang berkualitas.

“Pastikan tiap produk makanan yang dikonsumsi sesuai standar dan aman. Caranya, setiap produk yang beredar di Indonesia, terutama yang dikemas harus mendapat ijin dari BPOM sesuai peraturan Kemenkes,” tutur Prof Hardin dalam talkshow Vitalac dengan 5 Star Nutri ‘Nutrisi Berkualitas Internasional untuk Anak Indonesia’ di Hotel Phoenix dan ditulis Kamis (29/5/2014).

Setelah itu bila produknya sudah terbukti bagus, hal lain yang ikut menentukan bergantung pada perlakuan konsumen terhadap produk makanan itu sendiri. Hal ini dikatakan Prof Hardin ikut menentukan kualitas produk yang dimaksud.

“Misal untuk produk susu, apakah ini dibuka disimpan terbuka berhari-hari, dikocokin kemudian didiamkan selama berjam-jam. Ya sendoknya harus bersih, gelasnya harus bersih, kalau pake dot, dotnya harus bersih. Jadi kalau terjadi yang nggak aman, jangan disalahkan produknya, bisa jadi dalam proses menyiapkannya (ada kesalahan),” tutupnya. /detik.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*