Ahmadiyah: Tidak Mungkin Kami Menantang

Lokasi kejadian pascapenyerangan terhadap warga yang diduga Ahmadiyah di Cikeusik-Banten. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO Interaktif, Jakarta – Juru bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Ahmad Mubarik, menyatakan jumlah anggota Ahmadiyah di wilayah Cikeusik, Pandeglang, sangat sedikit. Karena itu, dia membantah tuduhan bahwa anggota Ahmadiyah telah menantang warga sekitar, sehingga terjadi bentrokan.

“Kami ini minoritas, tidak mungkin menantang, apalagi di kampung orang,” kata Mubarik melalui telepon kemarin. Menurut Mubarik, anggota jemaah Ahmadiyah di Cikeusik hanya 10 sampai 20 keluarga.

Mubarik menanggapi pernyataan Kepala Kepolisian Resor Pandeglang Ajun Komisaris Besar Alex Fauzy Rasyad. Menurut Alex, sebelum insiden kemarin pagi, masyarakat sekitar Cikeusik sebenarnya tenang-tenang saja. “Tapi, karena ada pernyataan bernada menantang dari jemaah Ahmadiyah, akhirnya warga terpancing,” kata Alex seperti dikutip dari Antara.

Alex menjelaskan, awalnya warga setempat memang ingin mengusir anggota Ahmadiyah yang dipimpin mubalig bernama Parman itu. Warga pun telah meminta Parman membubarkan Ahmadiyah dan tidak menyebarkan ajarannya. “Parman malah mengatakan, ‘Lebih baik mati daripada membubarkan diri,'” kata Alex.

Menurut Alex, warga kembali terprovokasi ketika pagi kemarin datang sekitar 20 anggota Ahmadiyah dari luar Cikeusik. “Mereka mengeluarkan pernyataan siap mempertahankan Ahmadiyah sampai titik darah penghabisan,” kata Alex. “Warga kembali terbakar emosinya.”

Mubarik tidak menyangkal tentang kedatangan rombongan Ahmadiyah dari luar Cikeusik. Namun dia mengaku belum tahu persis jumlah anggota Ahmadiyah dari Bogor, Jawa Barat, itu. “Yang jelas, tidak mungkin kami ke sana untuk berperang.”

Baca Juga :  Polisi Tangkap 2 Terduga Teroris di Benhil, Jakarta Pusat

Warga Ahmadiyah yang menjadi korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Malingping sekitar pukul 12.30 WIB. “Tiga orang sudah meninggal karena luka parah,” ujar petugas keamanan RSUD Malingping, Ali Sofyan. Korban meninggal adalah Roni dan Mulyadi, warga Umbulan, Cikeusik, serta Tarno, warga Bekasi.

Korban tewas mengalami luka bacok hampir di sekujur tubuh. Berdasarkan catatan medis RSUD Malingping, Roni tewas dengan luka bacok pada bagian dagu, kepala bagian belakang, leher, pelipis kanan, pinggang kanan, dan punggung.

Mulyadi terluka pada bagian dada kanan dan kiri, lengan kiri, pipi kiri, belakang bagian kepala, dan pinggang kanan. Sedangkan Tarno mengalami luka pada dada, perut, pinggang kanan, dan kepala bagian belakang.

Selain tiga korban tewas, lima korban terluka parah dibawa ke RSUD Malingping. Mereka adalah Pipip, Feradias M., Zafarullah, M. Ahmad, dan Deden Dermawan.

Tadi malam, sekitar pukul 21.00 WIB, semua korban dipindahkan dari RSUD Malingping. Korban meninggal dibawa ke RSUD Serang, sedangkan korban luka dibawa ke RS Sari Asih, Serang. “Korban luka membutuhkan perawatan intensif,” kata Ali.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*