Air Panas Sipoholon, Salak Angkola dan Durian Sidimpuan

Jika ke Sumatra Utara, jangan lewatkan Danau Toba. Jangan mati sebelum berkunjung ke Danau Toba. Kedua pernyataan tersebut adalah benar adanya. Sebab Danau Toba adalah keindahan yang tiada tara. Namun keindahan Sumatra Utara bukan sekedar Danau Toba. Masih banyak tempat yang bisa dinikmati di Sumatra Utara. Di Kota Medan ada Istana Maimun. Belum lagi Berastagi yang sejuk dengan puncak Sibayaknya.

Bagi yang menyukai wisata alam, kuliner dan buah-buah eksotik, Sumatra Utara adalah salah satu tempat yang perlu diperhitungkan. Berikut adalah paparan dari perjalanan saya selama seminggu dari Medan sampai Sidimpuan.

Mendekati Pematang Siantar di sore hari, kita bisa menikmati sajian burung ayamayam di sebuah restoran. Setahu saya sajian burung ayam-ayam hanya ada di jalur Serdang sampai Siantar saja. Di restoran ini kita bisa mendapatkan setidaknya tiga jenis menu dari burung, yaitu burung ayam-ayam, burung belibis dan burung puyuh goreng. Menikmati menu burung ditemani juice terong belanda adalah sebuah sensasi menjelang malam. Bekal makan malam cukup untuk menjaga kehangatan tubuh ketika menginap di Parapat.

Ketika melintas Siborong-borong (siborong-borong artinya adalah kumbang besar), kita disuguhi gulai kuda. Gulai kuda di Siborong-borong dagingnya empuk. Sebab memang diambil dari kuda muda yang diternakkan untuk diambil dagingnya. Berbeda dengan yang ada di Jogja, daging kuda diambil dari kuda yang sudah tua dan tidak kuat bekerja lagi. Kota Siborong-borong sekarang ini menjadi terkenal karena disiapkan untuk menjadi Ibukota Propinsi Tapanuli, yang masih menunggu persetujuan. Dari Siborong-borong kita bisa berkunjung ke Makam Sisingamangaraja.  Sayang, ketika kami melintas, hari masih terlalu pagi. Jadi kami urungkan untuk menyantap gulai kuda. Kami berhasil mengabadikan sang surya yang keluar dari selimut malam, membawa kehidupan di persawahan.

Air Panas Sipoholon

Salah satu obyek wisata di Tapanuli Utara, tepatnya di Sipoholon adalah Permandian Air Panas. Sumber air panas Sipoholon adalah kehangatan di kesejukan. Sipoholon terletak antara Siborong-borong dan Kota Tarutung.

Sumber mata airnya sungguh indah. Ada gua kecil didekat sumber mata air utama. Di dalam gua ini kita bisa lihat stalaktit yang masih aktif dan air panas yang mengalir di dasarnya. Selain sebagai tempat wisata, lokasi ini juga merupakan tambang belerang. Masyarakat sekitar Sipoholon mengumpulkan belerang untuk dijual.

Anda bisa berenang di kolam yang sudah disediakan. Setelah puas mandi jangan lupa menikmati kopi Sipoholon dan kacang garing Sihobuk yang gurih dan renyah. Anda bisa menikmati kopi dan kacang Sihobuk di kedai-kedai tepat didepan permandian air panas.

Setelah puas menikmati air panas Sipoholon dan nyeruput kopi pahit, kami menuju ke Kampung Hutagalung. Di Kampung Hutagalung ada restoran di tengah empang yang menyajikan bebek sambal goreng. Anda harus pesan sebelumnya kalau tak ingin lama menunggu. Sebab di restoran ini, bebeknya baru ditangkap ketika ada tamu yang memesan. Jadi bisa menunggu sekitar 1,5 jam sampai siap disajikan. Bebek sambal goreng adalah daging bebek yang digoreng kemudian diolesi sambal. Jadi bukan sambal goreng seperti yang di Jawa itu. Bebek sambal goreng disajikan dengan mentimun dan tomat yang diiris. Sangat sederhana. Namun kelezatannya jangan ditanya.

Baca Juga :  Komplek Jagung Bakar Padangsidimpuan

Jalan Kemenyan dan sunset di Pantai Sibolga

Dari Tarutung menuju Sibolga adalah menyusuri jalan kemenyan. Disebut sebagai jalan kemenyan karena jalan ini dulu dipakai oleh Belanda untuk mengirimkan kemenyan dari wilayah Silindung ke Sibolga. Jalannya kecil dan berkelok-bengkok. Pantat kijang kami belum ikut belok, kepala kijang sudah menuju ke arah lain. Awas jangan melihat ke sisi kiri. Sebab jurang yang menganga dan dasarnya tak terlihat akan membuat ngeri. Dari salah satu bukit, anda bisa menyaksikan Kota Tarutung yang berada di lembah nan asri.

Jika anda adalah penggemar durian, sepanjang jalan akan anda temukan pohon durian yang penuh dengan buah yang bergelantungan. Kami berhenti di Adian Koting untuk mencoba lezatnya durian koting. Meski kawan dari Medan mengingatkan bahwa durian koting tidak seenak durian Sidimpuan, kami tetap mencobanya. Enak.

Dari Adian Koting, jalan terus menurun sampai kami menyaksikan Kota Sibolga dari atas bukit. Kami berhenti dan mengabadikan pemandangan indah ini. Kota Sibolga di latar depan berdampingan dengan laut luas yang dijaga oleh pulau-pulau kecil. Saya khawatir tidak akan mendapat sunset di Sibolga. Sebab waktu sudah menunjukkan 17.30 ketika kami masuk kota. Pak Sitorus, sopir kami, menjelaskan bahwa sunset di Sibolga baru terjadi jam 18.30. Benar saja. Setelah masuk hotel, saya segera berlari kearah pantai. Menunggu sunset. Perpaduan matahari yang malu-malu dibalik awan tipis, pulau-pulau yang hitam dan perahu-perahu nelayan yang hilir mudik menampilkan suasana sorgawi. Indah luar biasa.

Vescak, Salak Angkola dan Durian Sidimpuan

Salah satu keunikan Kota Padang Sidimpuan adalah alat pengangkutan dalam kota. Kalau di Siantar ada becak mesin yang menggunakan motor BSA tua, di Sidimpuan VESCAK (vespa becak).  Mereka menggunakan vespa sebagai mesin penarik becak. Vescak bukan hanya sebagai sarana pengangkut manusia, tetapi juga mengangkut barang apa saja.

Durian Lumut dan Ikan sale

Esok harinya kami melanjutkan perjalanan dari Sibolga menuju Padang Sidimpuan. Dua hal yang tak boleh dihindarkan adalah durian Lumut dan gulai ikan sale. Saya menyebutnya durian lumut karena lokasinya di Kecamatan Lumut, dekat dengan Bandara Pinangsori. Dagingnya tidak berlumut dan tidak menyerupai lumut. Jika durian koting saya beri nilai satu, enak, maka durian lumut harus kami beri nilai dua, enak-enak.

Ikan sale adalah ikan yang diasap. Ada satu jenis ikan sale yang khas di daerah ini, yaitu ikan sale yang dibuat dari sejenis ikan lele rawa. Kami menikmati gulai ikan sale di sebuah restoran tepi sungai di Batangtoru. Malamnya kami mencobanya lagi di Kota Padang Sidimpuan. Sayang kami hanya mendapat satu piring gulai ikan sale saja. Padahal kami berempat. Untunglah ketiga kawan kami mengalah dan menyerahkan sepiring gulai tersebut kepadaku. Nyam….

Baca Juga :  Yuk, Nikmati Durian Campur Lemang di Warung Mardiana - Simaninggir Kec. Siabu

Sebagai seorang berlatar belakang pertanian, saya sangat tertarik untuk melihat kebun salak di Angkola. Meski perjalanan kali ini tidak berurusan dengan pertanian sama sekali, saya memaksa teman-teman saya untuk berhenti melihat kebun salak. Kebetulan teman yang dari Jakarta berminat untuk membeli salak sebagai oleh-oleh. Salak merupakan salah satu hasil pertanian dari Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Namun tidak semua wilayah Tapsel menghasilkan salak. Hanya di daerah Angkola saja yang kualitas salaknya bagus.

Salak Angkola rasanya memang beda. Jika salak pondoh di Jogja atau salah lumut di Malang rasanya manis saja, salak Angkola masih menyisakan rasa sedikit sepat yang merupakan rasa asli salak. Meski sedikit sepat tapi tidak membuat kelat. Manis, berair, renyah , berdaging tebal adalah ciri khas salak Angkola. Hampir semua keluarga di Angkola mempunyai kebun salak. Banyak penduduk di Kecamatan ini yang berhasil mengirim anaknya kuliah di Medan atau ke Jawa dari hasil tanaman salak. Salak Angkola dipasarkan sampai ke Medan, Aceh dan Pekanbaru.

Sebagai menu terakhir kami adalah menikmati durian Sidimpuan. Kami menuju Batang Angkola untuk mencari durian yang menurut teman kami yang dari Medan adalah durian terbaik di Sumatra Utara. Benar saja. Durian Sidimpuan mempunyai berbagai rasa. Bagi anda yang bukan penikmat durian, sebaiknya tidak ikut mencobanya. Sebab rasanya memang nendang; pahit, beralkohol dan menghangatkan perut. Kulit buahnya tipis, daging buahnya tebal dan bijinya kecil. Setelah mencicipi durian Sidimpuan kami harus katakan bahwa durian Thailand adalah seperti permen durian saja. Kalah jauh.

Minat terhadap salak dari negara-negara tetangga adalah sangat besar. Kendala ekspor salak kita hanyalah masalah rusaknya pucuk salak dan menjadi busuk saat diangkut. Kendala ekspor durian bukan karena kualitas rasa, tetapi disebabkan karena kulitnya sudah keburu pecah di pengangkutan.Seandainya masalah kebusukan pucuk buah salak sudah bisa dipecahkan oleh peneliti kita. Seandainya buah durian yang pecah di pengangkutan sudah juga teratasi, maka kita akan bisa menemukan salak Angkola dan Durian Sidimpuan di supermarket Tokyo, Hongkong, Taipeh dan Bangkok. Bukan malah menyaksikan Durian Thailand di supermarket dan kedai buah kita. Kalau Thailand bisa, kenapa kita tidak?

Penulis : Handoko Widagdo – Solo
Sumber: Kompas
Foto : Handoko Widagdo

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*