Akbar : Tuntutan Masyarakat ke DPR Terus Meningkat – Sudah Saatnya DPR Terbuka ke Publik

JAKARTA – Kritikan tajam dalam beberapa pekan terakhir mengalir deras kepada anggota dewan di Senayan. DPR dinilai tidak menunjukkan transparansi, terutama dalam kegiatan kunjungan kerja dan pembangunan gedung baru DPR. Mantan Ketua DPR Akbar Tandjung menilai, di era sekarang, sudah saatnya DPR menjadi lembaga terbuka yang mengakomodasi keterlibatan publik. “Dalam sistem politik sekarang, tidak mungkin sesuatu itu ditutup-tutupi,” kata Akbar di Jakarta, Senin (16/5).
Menurut Akbar, kondisi DPR saat dia pimpin, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kondisi yang sekarang. Dua periode yang berbeda itu sama-sama berada di era reformasi. Namun, dinamika masyarakat saat ini berbeda. Aspirasi masyarakat terus meningkat menuntut adanya perubahan dari lembaga legislatif.  “Masyarakat mempunyai peranan besar dalam kehidupan politik sekarang,” ujarnya.

Jika tidak sejalan dengan tuntutan mereka, masyarakat saat ini tak segan menuntut aspirasi. Akbar mencontohkan, dalam hal pembangunan gedung, di periode kepemimpinannya memang wacana itu belum perlu. Namun, saat ini pembangunan gedung baru DPR dipandang sejumlah anggota dewan sangat penting dan urgen.    “Seberapa penting harus disampaikan, namun yang sekarang justru anggarannya dimulai triliunan rupiah,” sorotnya.

Setali tiga uang dalam hal kunker. Menurut Akbar, di eranya, kegiatan kunker di luar negeri memang ada, namun frekuensinya masih sedikit. Saat ini, intensitas kunker DPR keluar negeri sangat padat. Wajar jika publik menolak kegiatan yang dinilai pemborosan anggaran negara itu. “Tidak mungkin DPR terus menutupi, karena anggaran yang dipakai besar,” jelasnya.

Baca Juga :  Surya Paloh Siap Bantu Gaji SBY

Solusi yang ditawarkan, kata Akbar, DPR harus merumuskan kebijakan berbasis publik. Setiap kebijakan fraksi maupun pimpinan dewan harus dilihat dari sisi publik. Hal itu penting supaya publik merasa aspirasinya terakomodasi. “Terutama fraksi. Fraksi kan berkepentingan membuat pendekatan yang baik kepada publik,” tandasnya.

Ketua DPR Marzuki Alie mengakui, perlu adanya perubahan dari DPR. Dalam pandangannya, dibutuhkan sebuah infrastruktur baru yang bisa menunjang masuknya aspirasi rakyat kepada wakilnya. “Kita buka ruang melalui rumah aspirasi,” kata Marzuki.

Keberadaan rumah aspirasi itu, kata Marzuki, nantinya akan ditempatkan di daerah-daerah. Rumah aspirasi juga sudah menjadi bagian rencana strategis DPR untuk melakukan reformasi diri. “Kalau ada rumah aspirasi, bisa disampaikan langsung, sehingga tidak diwakilkan pihak lain, menghindari politik dagang sapi,” tandasnya.

Secara terpisah, kalangan LSM menegaskan bahwa kritik mereka terhadap DPR bukan untuk meruntuhkan citra pribadi anggota dewan, apalagi DPR secara kelembagaan. Kritik itu murni demi perbaikan parlemen  “Salah besar kalau kritik kami dicurigai untuk merusak DPR,” tegas Koordinator Advokasi dan Investigasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Uchok Sky Khadafi.

Menurut dia, kalangan LSM aktif mengkritik DPR agar DPR terdorong psikologisnya untuk lebih serius memelototi jalannya pemerintahan. “Bagi kami eksekutif lebih susah menjangkaunya. Sebaliknya DPR ini wakil kita. Jadi lebih gampang untuk mengajak diskusi dengan mereka,” katanya.

Baca Juga :  Anak Mbah Maridjan Diangkat Jadi Juru Kunci Merapi

Selama ini, LSM FITRA aktif menyoroti aktivitas kunker DPR ke luar negeri dan yang terakhir, “anggaran pulsa” para anggota dewan. Terkait anggaran pulsa, Uchok mengaku nomenklaturnya memang menyebut anggaran komunikasi intensif dan ini bukan “barang baru”.  Tapi, Uchok meyakinkan kalau kritik ini hanya untuk meningkatkan akuntabilitas laporan keuangan anggota dewan. “Soal pilihanya redaksional (menyebut anggaran pulsa, Red) supaya masyarakat lebh melihat saja,” kata Uchok. (bay/pri)

SUmber: jpnn.com
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*