Akibat Aek Latong Macet Lagi, TOKE MERUGI Warga Kelaparan

Macet lagi, macet lagi. Itu lah keluhan mayoritas pengguna jalan yang terjebak macet di Jalinsum Aek Latong, kemarin. Keluhan mereka bukan tidak berdasar. Sebab, tiga hari terakhir, ratusan kendaraan selalu antre di jalur itu. Dampaknya, toke merugi dan warga kelaparan. Mengapa?

Sejumlah pengguna jalan yang ditemui METRO di Aek Latong, Rabu (9/11), mengisahkan duka mereka terjebak di jalur itu. Ironi, di sana tidak ada sinyal handphone sehingga sulit komunikasi.

15020036654f37383816cbe671bb0e83ab11f567 Akibat Aek Latong Macet Lagi, TOKE MERUGI Warga Kelaparan
LAGI-LAGI MACET: Ratusan kendaraan kembali terjebak macet di Aek Latong, kemarin. Mulai Senin, Selasa, dan Rabu kemacetan sudah terjadi. Akankah hari ini macet lagi?

Lokasi yang berada di sekitar hutan menyebabkan makanan sulit didapat kalaupun ada harganya melambung. Belum lagi cuaca dingin. Dab, yang paling parah barang bawaan terlambat sampai ke tujuan. Bahkan, ada yang rusak.

Di antara ratusan kendaraan yang antre itu, rata-rata bermuatan barang-barang cepat membususuk seperti sayur, cabai, dan jeruk. Nah, dengan kondisi ini pemilik (toke) barang-barang tersebut dipastikan merugi.

Sopir Truk pembawa jeruk, Pendi (45), kepada METRO, Rabu (9/11), mengatakan, kemacetan yang dialaminya saat ini adalah yang paling parah. Mereka terjebak macet tengah malam. Dan, dari jam 00.00 WIB hingga pukul 05.00 subuh, kendaraan mereka sama sekali tidak bergeser. Padahal, sesuai jadwal mereka harus sampai di tujuan (Bengkulu) dengan waktu 48 jam perjalanan, kalau tidak maka jeruk akan busuk.

“Tak bergeser satu senti pun. Kami diam saja di dalam. Makanan pun sulit. Kami hanya tidur. Jam 5 subuh baru bergeser sekitar 100 meter. Sinyal pun tak ada. Padahal target waktu dari Berastagi ke Bengkulu hanya 48 jam,” terang Pendi yang mengaku berangkat dari Berastagi, Selasa (8/11) pukul 4 sore.

Dengan kondisi ini, sambungnya, pemilik barang bawaan yang menunggu di Bengkulu akan rugi. Ia, selaku pengemudi angkutan yang dipercaya membawa jeruk tentunya akan mendapatkan citra kurang baik. “Ini akibat tak ada sinyal sehingga kita tak bisa komunikasi dengan pemilik. Takutnya kita dicap yang tidak baik,” katanya.

Baca Juga :  Duo Spanyol Klub Terkaya di Dunia

Hal senada juga dikatakan beberapa pedagang sayur yang menuju Gunungtua, “dang huboto be manang boha on amang (saya tak tahu lagi bagai mana barang dagangan saya ini nanti nak). Nunga siang hian (sudah kesiangan tentunya pasar akan bubaran),” kata salah seorang pedagang sayur boru Hombing dari Siborongborong.

Warga lainnya, Hasan (39), mengaku sangat kecewa dan jenuh. “Bosan. Tak bisa bergerak,” katanya
Pengguna jalan lainnya, Hutasoit, lebih memilih putar balik menuju Tarutung dengan mengoper seluruh penumpangnya. “Saya lebih baik putar kepala lae. Lebih baik istirahat dulu. Lebih rugi lagi nanti dipertahankan di sini. Toh, antrean masih panjang, dan kondisi jalan malah semakin buruk,” katanya.

Pantauan METRO, kendati cuaca lebih cerah dari kemarin. Kondisi jalan tetap saja berlumpur dengan ketebalan sekitar 10 cm hingga 20 cm. Dua alat berat disiagakan untuk membersihkan lumpur dari jalanan. Namun, hasilnya tetap minim.
Sebelumnya, antrean kendaraan sepanjang tiga km terjebak selama 15 jam, mulai Senin (7/11) sekitar pukul 22.00 WIB hingga Selasa (8/11) jam satu siang. Padahal, ratusan kendaraan baru saja terbebas macet pada Senin pukul 15.00 sore, setelah sempat terjebak selama 18 jam.

Menyikapi kondisi ini, pengguna jalan yang melintas di Jalinsum Aek Latong mengaku takut bila melalui jalur ini. Jalur ini dianggap sebagai momok yang paling menakutkan, karena bagi mereka untuk melewatinya seolah menuju gerbang kematian.

Hal ini dikatakan beberapa pengemudi kendaraan, di antaranya; Surya (53) dan Bahran Siregar (35), kepada METRO, Selasa (8/11), saat terjebak macet di Aek Latong.

Baca Juga :  Melihat Perjuangan Bestari Pohan, Satu-satunya Srikandi Terpilih di Pilkades Tapsel

Selaku pengguna jalan yang selalu melintas di jalur tersebut, mereka bahkan menilai, penanganan terhadap jalur Aek Latong terkesan lamban. “Padahal jalur ini sangat sering kami lalui, namun dari tahun ke tahun kondisinya justru semakin parah,” kata mereka.

Menurut mereka, kondisi Aek Latong hanya bisa dibilang lebih baik pada lebaran yang lewat. “Kalau lebaran yang lewat memang tak ada hambatan. Dan, lebih baiklah jika dibandingkan dengan situasi sebelum dan sesudahnya,” sebut Bahran.
Bahran yang merupakan pengemudi truk jurusan Medan-Padang mengaku kecewa dengan penanganan jalur Aek Latong yang lamban. Untuk itu ia berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi kerusakan di jalur tersebut.

“Saya rutin 2 kali seminggu melintasi jalur ini. Memang untuk memasukinya harus siap mental dan siap segalanya, ibaratnya memasuki gerbang kematian,” ungkapnya. (ran)

metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*