Akibat Aek Sibisa Meluap – 600 Ha Sawah Rusak Irigasi & Jembatan Hancur

Sekitar 600-an hektare areal persawahan di Kecamatan Panyabungan Selatan, Madina, luluh-lantak dihantam luapan air sungai Aek Sisida. Selain mengancurkan areal persawahan, sejumlah fasilitas turut hancur, seperti irigasi, tanggul, jalan, dan jembatan.

146469629a76727ece9144070d55ab7d0e36eae0 Akibat Aek Sibisa Meluap 600 Ha Sawah Rusak Irigasi & Jembatan Hancur
USAI BANJIR: Sekitar areal persawahan yang luluh lantak usai dihantam banjir belum lama ini. Bencana alam ini menghancurkan sawah dan jembatan.

Areal persawahan yang diterjang air tersebar di lima desa, yakni, Pagaran Galagala, Tano Bato, Roburan Dolok, Roburan Lombang, dan Kayu Laut. Luapan air yang menerjang beberapa waktu lalu, menyisakan bekas di pinggir sungai. Saat banjir terjadi ketinggian air mencapai 2,5 meter dan membanjiri lahan persawahan.

Zulfahmi Lubis, warga Pagaran Galagala mengatakan, peristiwa banjir terjadi Rabu (7/9) lalu sekitar pukul 01.00 WIB. Curah hujan tinggi yang mengguyur Panyabungan Selatan, menyebabkan satu-satunya sungai yang mengairi lahan persawahan di kecamatan itu meluap. Bukan hanyan luapan air, di lahan masyarakat juga berserakan kayu-kayu besar yang dihanyutkan banjir sehingga warga kesulitan melanjutkan masa tanamnya.

“Saat ini masyarakat dalam masa tanam. Sebagian sudah ada yang mulai menanam padi. Namun akibat hujan lebat dan banjir yang terjadi bibit dan lahan sawah sudah diterjang banjir sehingga ratusan hektare lahan masyarakat gagal tanam,” katanya.

Diakuinya, banjir kali ini pertama kali terjadi sejak puluhan tahun terakhir. Kejadian ini sangat merugikan masyarakat. Sebab, failitas umum semisal jembatan penyebarangan juga ikut rusak begitu juga dengan bendungan pengairan.

Dikatakannya, saat ini warga hanya bisa bergotong-royong dengan melibatkan beberapa desa untuk mengangkut tumpukan kayu besar yang masih tersisa di badan sungai. Sementara itu, Bupati Madina melalui Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina, Syamsir Lubis, didampingi sekretaris Zulkahiri Pulungan, saat melakukan peninjauan di lapangan, mengatakan, penyebab banjir adalah curah hujan yang tinggi, sehingga kedalaman air dari biasanya meningkat. Diungkapkannya, atas kejadian ini banyak fasilitas dan sarana infrastruktur yang rusak seperti bendungan irigasi air di Saba Jambur Dolok, bendungan irigasi air di Saba Tarutung Gaja, irigasi air di Saba Tano Bato, kemudian rusaknya tanggul sungai Aek Sisida, jalan dan jembatan juga turut rusak akibat banjir itu.

Baca Juga :  Sengketa Tanah, Polisi: Penangkapan Warga Sesuai Prosedur

“Bencana ini berdampak pada sumber pertanian masyarakat sejumlah desa. Sesuai perkiraan, lahan sawah masyarakat yang rusak mencapai 600-an hektare. Apabila tidak diatasi secepat mungkin warga akan terancam gagal tanam,” sebut keduanya.
Dijelaskan Zulkhairi, di sekitar lokasi banjir mulai dari 2 kilometer dari pemukiman masyarakat ditemukan banyak tumpukan kayu-kayu besar yang dibawa air saat sungai meluap. Sebagian besar, tumpukan kayu itu berada tepat di badan sungai sehingga dikhawatirkan membahayakan keselamatan jiwa warga sekitar.

Sebab, tidak tertutup kemungkinan apabila sungai meluap akan menghanyutkan tumpukan kayu besar itu ke pemukiman warga, sehingga bisa saja menghantam rumah penduduk. ”Tumpukan kayu itu sangat membahayakan nyawa warga sekitar. Apabila air sungai meluap bisa saja menghanyutkan kayu besar yang ada di badan sungai itu, artinya kondisi ini harus segera ditangani,” tambahnya.

Sejauh ini, sambungnya, tindakan yang telah dilakukan adalah berkoordinasi dengan muspika kecamatan Panyabungan Selatan agar mengarahkan warga untuk gotong-royong membersihkan tumpukan kayu besar di sekitar badan sungai. BPBD dalam hal ini sudah menyuplai alat-alat yang dibutuhkan seperti cinsaw dan lain sebagainya. ”Kita juga telah memberikan bantuan operasional bagi warga yang gotong-royong agar tetap mau membersihkan tumpukan kayu itu. Alat berat tak bisa mencakup semua tumpukan kayu tersebut,” tambahnya.

Camat Panyabungan Selatan Liliana Asaliyah Lubis menambahkan, pihaknya sudah melakukan musyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat agar mengarahkan warganya bergotong-royong membersihkan tumpukan kayu. “Sejak beberapa hari terakhir warga telah bekerja membersihkan tumpukan kayu akibat banjir Aek Sisida. Dan, warga yang bekerja sebanyak 50 orang setiap hari karena tumpukan kayu itu tercecer di sepanjang badan sungai sekitar 2 kilometer,” tandas Lili. (wan)

Baca Juga :  Orgtua Murid Resah Maraknya Peredaran Narkoba Di Tabagsel

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*