Akibat Kabut Asap – Warga Alami Mata Perih dan Sesak

(Analisa/yudi arisandi nasution) KABUT ASAP: Pengendara roda dua di Kabupaten Tapteng sekitarnya mulai merasakan mata perih dan sesak nafas sejak hampir sebulan daerah setempat dilanda kabut asap. BMKG memprediksi kabut asap sulit hilang di daerah itu bila tidak terjadi hujan deras disertai angin kencang.

Tapanuli Tengah, Kabut asap berkepanjangan saat ini telah menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat, terutama pengelihatan dan pernafasan. Warga pantai barat Sumatera Utara sekitarnya mulai merasakan mata perih dan sesak nafas.

Parahnya lagi, jarak pandang di daerah setempat Karena kabut asap sudah semakin turun bahkan menghalangi jarak pandang di Kabupaten Tapanuli Tengah dan sekitarnya sejak sepekan terakhir hanya mencapai 500 meter, jarak pandang diperparah pada pagi hari kurang dari 300 meter.

Sejumlah warga Lisna Situmorang dan Erlizar Matondang penduduk Pandan, Kabupaten Tapteng ditemui Analisa, Jumat (23/10) di Pandan mengaku sangat resah dengan kondisi saat ini. Sebab, masker saja sebagai pelindung pernafasan dirasa tidak cukup, sementara mereka juga alami mata perih.

“Matahari saja tidak seperti biasa memancarkan sinarnya akibat ditutupi asap. Menggunakan masker sebenarnya tidak ada pengaruh apa-apa, karena nafas juga terasa sesak bila beraktivitas di luar rumah. Seharusnya pemerintah cepat tanggap menuntaskan persoalan ini, tanpa dipengaruhi kepentingan politik atau golongan. Masyarakat sudah bosan,” ketus ibu rumahtangga ini.

Mereka mengaku, merasakan perih mata sejak sepekan terakhir. Semula, hal itu dianggap hanya kurang tidur atau gejala sakit mata. “Ternyata setelah diperiksa ke dokter akibat iritasi,” ucap Erlizar.

Mengantisipasi iritasi akut, ia mengatakan, selalu menggunakan obat herbal dengan daun sirih. “Sekarang ini kami sekeluarga sangat rajin membersihkan mata dengan menggunakan ramuan daun sirih yang diremas lalu dicampur dengan air hangat. Itu sangat membantu. Setidaknya meringankan mata perih dan selalu konsumsi buah-buahan,” tukasnya.

Baca Juga :  Tambang Emas di Tapsel Kerja Sama dengan USU

Erlizar memgaku heran, karena Indonesia tak mampu menuntaskan kabut asap. “Katanya, Indonesia banyak orang pintar hingga gelar doktor bahkan profesor, tapi kenapa soal kabut asap saja tidak bisa diatasi hingga berbulan-bulan? Gimana mau bersaing ke pasar global atau dihargai dunia internasional, semua sibuk memikirkan kepentingan politik semata,” ketusnya lagi.

Kerugian

Terpisah, keluhan kabut asap juga dirasakan pengelola otoritas Bandara FL Tobing Pinangsori, seluruh kegiatan penerbangan lumpuh total. Di samping dipicu terjadinya kerugian total dalam mendapatkan pajak pengguna jasa airport tax yang diperoleh dari calon penumpang, juga aktivitas tampak lengang.

Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) Pinangsori, M Rumahorbo melalui Forecasternya, Dewi Anastasia Sidauruk mengatakan, prakiraan cuaca di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga saat ini (22-23/10) berawan, hujan sedang serta suhu antara 23-33 derajat celicus dengan kelembaban antara 66 hingga 92 persen. Kecepatan angin berkisar 20 km/perjam arah angin barat daya.

Untuk prakiraan cuaca di perairan Sibolga-Nias kondisinya berawan hujan dengan arah angin barat laut dan timur laut dengan kecepatan angin sekitar 5 hingga 10 knot serta tinggi gelombang 1,2-2,0 meter.

Titik hotspot yang menjadi penyuplai asap saat ini masaih dari daerah Sumsel, Jambi dengan jumlah titik api sebanyak 500-700 titik dan Riau yang terendah sekitar 37 titik.

Langkat

Kabut asap juga cukup pekat menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Langkat, khususnya Kecamatan Binjai, Stabat dan di beberapa daerah lainnya.

Pemandangan kabut asap ini terjadi sejak dua hari terakhir. Selain mengganggu jarak pandang, terutama di Jalan Lintas Sumatera Medan-Aceh dan Stabat sekitarnya, juga menganggu para nelayan di pesisir pantai sepeti Tapak Kuda Kecamatan Tanjung Pura, yang enggan melaut.

Baca Juga :  Puluhan OTK Rusak Tempat Pelelangan Ikan, Dermaga Tapian Nauli Tapteng & Aniaya Warga

Pantuan Analisa, Jumat pagi hingga sore, kabut asap cukup pekat.

Kendati asap cukup pekat, namun masyarakat seperti biasa menjalankan aktifitasnya secara normal tanpa merasa terganggu, padahal hingga sore asap semakin pekat.

Kepala Dinas Kesehatan Langkat, dr Sadikun Winarto ketika dihubungi Analisa, mengakui sejak dua hari ini masyarakat yang terserang penyakit ispa (infeksi saluran pernafasan akut) lonjakannya signifikan, akibat dampak kabut asap.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Langkat, Drs Iwan Syahri, mengakui kabut asap yang menerpa wilayah Langkat termasuk Kecamatan Binjai, Stabat dan beberapa daerah lainnya dalam dua hari belakangan ini cukup pekat.

Kendati demikian, sambungnya, bila kabut asap cukup parah, pihaknya siap untuk membagikan masker kepada masyarakat, namun hingga kini dinilai belum membahayakan, hanya saja sejumlah pengendara diminta hati hati. (yan/hpg)


(Analisa).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*