Akil Minta Apel Washington ke Bupati Gunung Mas

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar dihujani pertanyaan oleh sjeumlah wartawan usai menjalani pemeriksaan narkoba oleh BNN di Gedung KPK, Jakarta, (06/10). TEMPO/Dasril Roszandi

TEMPO.CO, Jakarta – Hambit Bintih memenangi pemilihan Bupati Gunung Mas yang digelar pada 4 September 2013. Berpasangan dengan Arton S. Dohong, dia unggul sekitar 7.000 suara atas pesaing terdekatnya, pasangan Jaya Samaya Monong dan Daldin. Meski tergolong menang dengan selisih aman, Hambit tak tinggal duduk berpangku tangan menunggu putusan sengketa.

Pada 18 September lalu, Hambit bertemu dengan sejumlah pejabat di lounge Hotel Grand Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Sejumlah kerabat dan kepala dinas Gunung Mas juga hadir. Menurut peserta pertemuan, Hambit awalnya membicarakan masalah kesehatannya. Ia menceritakan pengalaman menjalani operasi bypass jantung di Singapura.

Majalah Tempo edisi Senin 7 Oktober 2013 mengulas soal heboh penangkapan Akil Mochtar. Pembicaraan beralih ke hasil pemilihan bupati. Hambit menyampaikan informasi bahwa pesaingnya menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Ia menyatakan risau terhadap upaya hukum lawan-lawan politiknya. “Kalau sampai pemilihan ulang, jadi repot,” ujar Hambit, ditirukan seorang peserta pertemuan.

Ketika itu, Hambit bercerita baru saja bertemu dengan Chairun Nisa di ruang khusus Hotel Grand Sahid Jaya. Anggota Dewan yang terpilih dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah itu kawan lama Hambit. Sebelum pindah ke PDI Perjuangan, mantan Kepala Dinas Pendapatan Kalimantan Tengah ini aktif di Partai Beringin.

Baca Juga :  Agus Martowardojo Terpilih Sebagai Gubernur BI

Di tengah pembicaraan, Hambit menerima telepon yang disebutnya dari Chairun Nisa. Berbicara sebentar, dia menyampaikan isi pembicaraan telepon itu. Menurut peserta pertemuan, Hambit ketika itu mengatakan, “Chairun Nisa mengajak saya bertemu dengan Pak Akil nanti malam.”

Sumber yang sama mengatakan tidak mengikuti pertemuan antara Chairun Nisa, Hambit, dan Akil. Tapi, setelah itu, Hambit bercerita bahwa ia sudah sepakat menyediakan Rp 3 miliar demi mengamankan kemenangannya. Seorang kerabat dekatnya menuturkan, setelah pertemuan itu, Hambit berkeluh-kesah soal jumlah uang yang harus disediakan. “Menurut Hambit, Akil minta besar dan harus berbentuk ‘apel Washington’,” katanya. “Apel Washington” merupakan sandi yang populer dalam sidang Angelina Sondakh, terpidana suap Wisma Atlet SEA Games XXVI, Palembang, yang merujuk pada dolar Amerika Serikat.

“Apel” dikemas dalam amplop dan disetorkan Chairun Nisa ke rumah Akil pada Rabu malam itu. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengatakan penyerahan uang senilai Rp 3 miliar merupakan pelunasan komitmen Hambit kepada Ketua Mahkamah Konstitusi.

Chairun Nisa, ketika ditanyai soal ini di gedung KPK, Kamis malam pekan lalu, menolak menjawab berbagai tuduhan. Ia tak mengucapkan apa pun

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Kemenhub Akan Evaluasi Operator Pesawat Perintis

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*