Al-Zaitun, NII dan Petinggi Republik

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)

Jakarta Lawyers Club tadi malam mengulas masalah ini dengan baik sekali di TVOne. Rupanya hanya Megawati yang tidak mau datang ke Panji Gumilang, pemimpin Negara Islam Indonesia (NII) yang memimpin pesanteren Al-Zaitun itu. Presdien yang lain sudah. Soeharto dan kerabatnya juga punya jejak di sana. Banyak sekali bahan yang selama ini gelap dibuat terang-benderang oleh dialog live ini. Pertanyaannya semua aparat keamanan termasuk intel serentak menjawab tak ada unsur pelanggaran hukum yang dapat menyeret.

Penuturan Boy Rafli Amar amat jelas. Lebih seru lagi penjelasan AM Hendropriyono. sejumlah orang merasa heran. Padahal banyak bukti telah diajukan, termasuk pengakuan terus terang dari pelaku yang pernah bersama Panji Gumilang di Al-Zaitun. Mengapa?

Sepanjang yang kita tahu Negara Islam Indonesia (NII) itu adalah sebuah gerakan yang tidak main-main, idiologis dan menasional serta sifatnya bisa seperti penyakit yang dapat hilang dan timbul seketika. Itu amat tergantung kepada kondisi negara atau bangsa kita. Jika Negara dan bangsa kita sedang dalam keadaan lemah dan amat mungkin disusupi, ia pun bisa masuk. Nah sekarang, periksalah jeroannya Indonesia.

Apa yang kita temukan? Korupsi merajalela, kepentingan kelompok amat menonjol, aspirasi rakyat nyaris tak mendapat perhatian dan lai-lain. Korupsi. Ya, korupsi. Siapa yang tak doyan korupsi? Yakinlah korupsi ini adalah indikasi kehancuran total dari dalam yang menurut hitungan orang awam sekalipun adalah kondisi paling mudah untuk penghancuran. Sebab sebelum dihancurkan dari luar, dari dalam sendiri para penghancur berkedok sebagai pembela negara paling terdepan. Meraka memasang strategi munafik-hipokritas, menghabisi modalitas negara-bangsa, tanpa basa-basi, tanpa permisi dan tanpa moral sama sekali. Susahnya, mereka pula yang berwenang untuk mengatakan siapa yang harus disebut koruptor.

Baca Juga :  DEMOKRASI (bag-9 Selesai): Meratapi Nasib

Akhir-akhir ini heboh pemberitaan media tentang NII kita nilai seolah dipaksakan. Kelihatannya NII sedang dipojokkan. Bahwa yang terberitakan itu hanyalah NII buatan, bukan NII sungguhan. Memang mungkin ada maksud untuk mendiskreditkan. Itu amat semborono, karena tanpa memberi informasi yang benar dan akurat bangsa ini malah nanti bisa tersesat.

Indonesia saat ini memang sedang lemah, sedang tak begitu memikirkan kemaslahatan rakyatnya kecuali dalam retorika. Ini adalah kondisi yang sangat baik untuk segala kekacauan dan perlawanan (mulai dari perlawanan halus sampai perlawanan terbuka, atau mulai dari perlawanan liar sampai perlawanan konstitusional). Oleh karena itu jangan biarkan kondisi ini menjadi pembanding yang amar sangat buruk bagi orang yang ingin menawarkan sesuatu seperti NII itu. Di dalam setumpukan pisang yang diklaim busuk memang masih selalu bisa ditemukan pisang yang baik. Tetapi setumpukan pisang busuk akan menjadi pembanding yang memalukan untuk setumpukan pisang meski hanya dalam cerita dan hayal.

Korban-korban yang dipublikasi cukup menggambarkan bahwa NII yang disorot sekarang ini adalah NII palsu. Tidak mungkin sebodoh itu sebuah gerakan yang kita ketahui sejak awalnya penuh perhitungan dan kesadaran idiologis yang amat tinggi.

Siapa yang bikin NII palsu ini? Dengan mengamati apa saja yang terjadi di Al-zaitun dan KW-9, kita cukup faham siapa yang bekerja di belakang pencuatan isyu NII palsu ini Hal lain yang kiranya perlu disadari adalah bahwa gerakan seperti ini bukanlah khas Indonesia. Dimana-mana, termasuk di negara paling maju sendiri, gerakan yang ingin mengubah dasar negara, bentuk negara dan mengambil alih pemerintahan, dengan tujuan lebih bahagia dan lebih maslahat. Ada tuntutan idiologis yang menjadi dasar bagi setiap gerakan seperti itu dimana saja sepanjang dunia ini masih terbentang. Oleh karena itu harus dihadapi tidak dengan cara yang salah.

Baca Juga :  Politik Berkhianat, Rakyat Berpaling ke Pengadilan

*) Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum nBASIS

sohibul Al Zaitun, NII dan Petinggi Republikn’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. NII ?????

    BIASALAH.. PENGALIHAN ISSU… DAN TRIK2 MENYINGKIRKAN LAWAN..!
    SUPAYA ORANG2 LUPA DENGAN…..

    KORUPSI !
    MAFIA HUKUM !
    MAFIA PAJAK !
    MAFIA PERBANKAN !
    JUDI ! DAN….
    MAKSIAT !

  2. sekarang makin banyak saja maling teriak maling. Selalu mengkambing hitamkan orang tuk menutupi kesalahannya…… mumpung ada isu seperti ini menjadi kesempatan, mau maling tau jadi psk, tau nipu orang tua sekarang mengkambing hitamkan orang….. sebelum berbuat lebih baik mengaca diri sendiri dulu ….. mana ada orang berpendidikan disuruh jadi psk mau disuruh maling mau, disuruh nipu orang tua mau….ckckckckckck. bagi saya hanya orang idiot yang mempercayai berita seperti itu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*