Anak Autis Harus Dibawa Keluar Dari Dunia

Anak Autis Harus Dibawa Keluar Dari Dunia (illustrasi - google)

TIDAK banyak aktifis pendidikan yang punya perhatian khusus terhadap pembinaan anak autis. Padahal, anak autis memiliki beragam persoalan yang mesti dicarikan jalan keluarganya. Unrtuk menyelamatkan mereka, anak autis harus dibawa keluar dari ‘dunianya.’

“Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. Penyebabnya adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa, sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif,” ujar Pimpinan Yayasan Care Education Center (YCEC) Batusangkar, Aswandi,  Selasa (21/2), di Batusangkar, Sumatera Barat.

YCEC adalah sebuah lembaga pendidikan yang memfokuskan perhatian di bidang pendidikan anak autis. Lembaga yang dikelola yayasan ini diberi nama Special Needs Education Centre (SNEC). Berdiri pada 1 April 2009 dengan pusat kegiatan di Kubu Rajo, Limakaum, Batusangkar, dipimpin Fitriyani, M.Pd.

Sekolah Autis Care SNEC Batusangkar, menurut Aswandi, menjalankan program pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Program yang digunakan AC SNEC mengacu kepada kurikulum SLB, play group, TK dan SD, serta menggunakan metode yang telah ditentukan. Program ini membantu mengembangkan kemampuan berkomunikasi, membaca, menulis, berhitung, bersosialisasi meningkatkan motorik baik kasar maupun halus, serta mampu melatih kemandirian, sehingga pada akhirnya anak dapat bersosialisasi dengan masyarakat,” terangnya.

Baca Juga :  Buruh Dalam Perekonomian Dunia

Sementara pelayanan yang diberikan, menurut Aswandi, mencakup sensori integrasi, occupational therapy, speech therapy, snoezellen, remedial teaching, behaviour therapy, psicotest individu dan kolektif, serta konsultasi anak, remaja dan orangtua.

Mendidik anak autis, tekannya, sebenarnya tidak cukup hanya dengan memberikan pendidikan kepada anak semata, tetapi juga perlu didukung dengan pendidikan orangtua secara maksimal.

Orangtua perlu mennyadari, katanya, gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berprilaku hiperaktif, tambah Aswandi, juga ada yang agresif dan menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif.

“Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering temperamen dalam bentuk mengamuk dan menangis. Kadang-kadang mereka menangis, kadang juga tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas,” terang Aswandi lagi.

Melalui program pendidikan yang dilakukan AC SNEC Batusangkar, orangtua diperkenalkan akan ciri-ciri autisme seorang anak sejak usia dini, di antaranya sulit membaur dengan teman, tertawa yang tidak wajar, renggan bertatap muka, senang menyendiri, suka benda-benda yang berputar, hiperaktif, tidak peduli bahaya, dan bermain dengan cara yang tidak umum. (MUSRIADI MUSANIF, Harian Umum Singgalang)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*