Anak Korban Isu ’Begu Ganjang’ Trauma

Saksikan Ayahnya Dibakar Hidup-hidup
Menangis Histeris Jika Melihat Banyak Orang

Empat anak dari keluarga korban isu begu ganjang yang dibakar hidup-hidup di desa Sitanggor Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara, Sabtu (15/5) masih trauma melihat orang ramai. Raut wajahnya begitu ketakutan dan menangis sejadinya bila diajak berbicara. Apalagi, si sulung, Lita, menyaksikan sang ayah, Lauren Simaremare dibantai massa secara biadab.

Anak Tiurlina boru Nainggolan yang selamat dari aksi brutal warga adalah Lita (4,5), Dorman (3,5), dan Monang yang berusia enam bulan. Ketiganya sudah diusung pihak keluarga untuk berkumpul  bersama kakak mereka, Katerin (5,5) di rumah ompungnya,  D Nainggolan di Nagori (desa) Sampuran, Kecamatan  Jorlang Hataran, Kabupaten Simalungun. Tiurlina sendiri masih terbaring di Rumah Sakit Vita Insani Kota Pematang Siantar.

D Nainggolan, ayah kandung Tiurlina, kepada BATAKPOS dikediamannya, Selasa (18/5) mengaku seperti tidak percaya terhadap peristiwa yang menewaskan menantunya, Lauren Simaremare (35), dan Gibson Simaremare (60) bersama Riama boru Rajagukguk yang juga mertua dari Tiurlina.

”Malam kejadian itu, saya langsung menerima telepon dari boru saya si Tiurlina sekitar pukul sepuluh malam. Saya mendengar dia menangis-nangis minta tolong. Suaranya begitu mencemaskan,” kata D Nainggolan dengan bola mata berkaca-kaca.

Malam itu juga dia menghubungi seluruh anggota keluarganya, termasuk dua putranya yang berstatus sebagai polisi di Polres Simalungun dan Paspampres di Jakarta. Malam itu juga, pihak keluarga berangkat ke Muara dan berhasil mengevakuasi Tiurlina serta tiga anaknya ke Simalungun. ”Seminggu sebelum kejadian itu, saya datang ke Muara. Kehidupan mereka saya lihat biasa-biasa saja,” kata Nainggolan sembari memangku dua putri korban yang masih kecil. Lita sendiri tengah terbaring di atas tikar di ruang tamu.

Baca Juga :  FKPD Bahas Rencana Operasional Tambang Emas Batang Toru

Beberapa saat kemudian, Lita terjaga dari tidur dan melihat ada sejumlah orang  sedang berbincang-bincang. Lita langsung berteriak sambil menangis histeris. Nainggolan   berusaha membujuk. Tapi, Lita masih tetap menangis. Bahkan, menutup wajah dengan jemarinya yang kecil. Melihat reaksi tersebut, dua adik Lita akhirnya ikut menangis tersedu-sedu. Menurut Nainggolan, ketiga anak korban memang masih trauma jika melihat orang banyak.

”Tadi pagi, Selasa (18/5)  pihak keluarga dari Simalungun sudah berangkat  ke Muara. Rencananya akan mengambil barang-barang yang masih tersisa di rumah putri kami. Sepertinya, Tiurlina tidak mungkin lagi tinggal di Pakkat. Kalau sembuh, biarlah tinggal bersama kami dan saya siap membesarkan cucu-cucu saya yang sudah kehilangan ayah ini,” papar  Nainggolan.

Pada kesempatan berbeda,  Tiurlina yang sedang terbaring menahan perih di salah satu ruangan Rumah Sakit Vita Insani tak bisa berbicara banyak saat dikonfirmasi. Namun, diakuinya bahwa Lita yang sudah besar, melihat kejadian brutal yang dilakukan warga, termasuk menyaksikan ayahnya dan ompungnya dibakar hidup-hidup.

Tiurlina bisa selamat dari amuk massa karena saat kejadian itu, dia masih sempat bersumbunyi di dalam rumah sambil memeluk tiga anaknya. Sebelum diselamatkan polisi, Tiurlan sempat terkena benda tajam di bagian punggung dan lengan. nas

Sumber: http://batakpos-online.com/content/view/14453/1/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Pemkab Taput Umumkan Formasi Penerimaan CPNS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*