Anak Mbah Maridjan Diangkat Jadi Juru Kunci Merapi

Mbah Maridjan

Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat akhirnya melantik juru kunci baru Gunung Merapi setelah ditinggalkan (alm) Mbah Maridjan pasca-erupsi tahun lalu. Asih (44), anak ketiga Mbah Maridjan atau Mas Penewu Surakso Hargo, itu akan menggantikan ayahnya sebagai juru kunci.

Asih yang dulunya tinggal di Dusun Kinahrejo Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan Sleman, itu mulai Minggu (3/4) diangkat menjadi juru kunci Gunung Merapi. Asih, yang sebelumnya sudah menjadi abdi dalem jajar, itu akan bekerja bersama warga Kinahrejo yang masih menjadi abdi dalem kraton.

Pelantikan dan pemberian tugas baru tersebut dilakukan di Ndalem Joyokusuman di Jl Rotowijayan Yogyakarta oleh GBPH Joyokusumo sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Turut hadir pula GBPH Yudhaningrat. Asih datang didampingi istri Muryanti bersama rombongan abdi dalem yang biasa mengurusi acara labuhan Gunung Merapi.

Rencananya, pelantikan Asih sebagai juru kunci Merapi akan dilakukan pada Senin (4/4) bersamaan dengan upacara wisuda abdi dalem kraton di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan Kraton Yogyakarta. “Pelantikan abdi dalem besok bertepatan dengan peringatan tingalan dalem Tahunan Ngarso Dalem,” ungkap Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, GBPH Joyokusumo.

Saat ini dia sudah menerima seperangkat pakaian peranakan lengkap sebagai tanda abdi dalem kraton. Setelah dilantik nanti, Asih yang sebelumnya bergelar Mas Bekel Anom Suraksosihono itu akan naik pangkat menjadi Mas Lurah Suraksosihono.

Baca Juga :  Susno Duadji & Kidung Baghawatgita

Menurut Gusti Joyo, panggilan akrabnya, sebelum dipilih tim dari kraton yakni 9 abdi dalem sipat bupati telah melakukan seleksi terhadap 18 orang abdi dalem juru kunci Merapi yang biasa mengurusi upacara Labuhan. Hasil seleksi itu kemudian dilaporkan kepada Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Kepada Asih, Gusti Joyo berpesan agar dalam melaksanakan tugas sebagai abdi dalem hendaknya bisa menjaga citra kraton dengan menghindari diri dari komersialisme. Upacara adat kraton Labuhan Merapi tidak dijadikan ajang promosi yang dipenuhi dengan umbul-umbul promosi. “Ini yang harus dihindari,” katanya.

Asih sendiri yang sehari-harinya bekerja sebagai pegawai administrasi di Universitas Islam Indonesia (UII) itu menyatakan setuju dengan kebijakan yang dikeluarkan kraton. “Saya akan melarang sesuai perintah kraton dan akan berkoordinasi dengan warga sekitar,” katanya. (dtc) – (analisadaily.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*