Anggota Komisi B DPRD Sumut Tiaisah Ritonga: Pemko Padangsidempuan dan Pemkab Tapsel Harus Segera Lakukan Reboisasi

Medan, (Analisa)

note urgent 300x265 Anggota Komisi B DPRD Sumut Tiaisah Ritonga: Pemko Padangsidempuan dan Pemkab Tapsel Harus Segera Lakukan ReboisasiDPRD Sumut menyampaikan rasa prihatinnya atas musibah banjir bandang yang kembali terjadi di Desa Labuhan Rasoki dan Desa Padang Silayu, Kecamatan Padang Sidempuan Tenggara.

Pemko Padang Sidempuan dan Kabupaten Tapanuli Selatan didesak segera memprioritaskan upaya penanggulangan terutama terhadap warga yang menjadi korban musibah itu.
“Kita minta Pemkab dan Pemko segera mengambil langkah-langkah penanggulangan paskabencana, dengan melakukan relokasi penduduk, perbaikan sarana dan prasarana yang mengalami kerusakan,” kata anggota DPRD Sumut, Tiaisah Ritonga kepada wartawan di Medan, Kamis (4/1).

Menurut Tiaisah Ritonga, Tiga desa di Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dihatam banjir bandang, Rabu (3/2). Akibatnya, ribuan hektar lahan pertanian gagal panen, ratusan rumah terseret banjir. Namun, sampai sejauh ini belum ada korban jiwa.

“Besar dugaan, banjir bandang ini akibat penebangan liar di hulu sungai Kalimate, tiga desa di Kecamatan Padangsidempuan Tenggara, Kota Padangsidempuan dilanda banjir bandang. Ratusan rumah terseret air, ribuan hektar lahan pertanian gagal panen, dan sebagian besar warga saat mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi, sehingga Pemkab Tapanuli Selatan dan Pemko Padang Sidempuan harus segera turun tangan menyelamatkan penduduk yang terkena musibah”, ujar Tiaisah Ritonga.

Banjir bandang itu, membut warga ketakutan. Mereka kucar-kacir menyelamatkan harta bendanya. Namun, karena cepat dan derasnya hantaman banjir, warga tak sempat menyelamatkan harta benda mereka seluruhnya. Apalagi, selain derasnya air, kayu gelondongan berukuran besar, juga ikut mempercepat proses hanyutnya rumah warga.

Berdasarkan informasi, di Labuhan Rasoki, Kecamatan Padangsidempuan Tenggara tercatat tujuh rumah rusak berat, 33 rusak ringan, Dusun III korban yang mengungsi 125 KK (kepala keluarga), Dusun IV 25 KK. Sementara ternak dan lahan pertanian yang jadi korban, jumlahnya belum dapat dihitung.

Baca Juga :  Angka Pengangguran Sidimpuan meningkat

Penataan Kembali

Menanggapi musibah ini, anggota dewan dari Dapil 6 yang mencakup kabupaten Madina, Palas, Paluta, Tapsel dan Padangsidimpuan itu meminta keseriusan Pemkab Tapsel dan Pemko Padang Sidempuan untuk segera melakukan penataan kembali wilayah-wilayah yang dilategorikan rawan bencana.

“Perlu secepatnya melakukan reboisasi besar-besaran, sebagai langkah mengantisipasi terulangnya musibah serupa di Tapanuli Selatan dan Pemko Padang Sidempuan,” jelas Tiaisah Ritonga yang anggota Komisi B DPRD Sumut dari Fraksi Demokrat ini.

Menurut Tiaisah Ritonga, sejumlah kawasan wilayah di sana berpotensi rawan banjir karena berbagai faktor, misalnya pembalakan hutan, tidak adanya ruang terbuka hijau dan belum dilakukannya penanaman kembali di hutan lindung.

“Karenanya, reboisasi harus menjadi prioritas utama. Bahkan saat ini, perlu disusun penataan total keseluruhan kawasan di Tapsel dan Pemko Padang Sidempuan, kemudian disusun proposalnya agar kita upayakan memperoleh bantuan dari pusat,” ujar Tiaisah Ritonga, yang juga bendahara I DPD Partai Demokrat Sumut.

Dia mengingatkan kepada Pemkab Tapsel dan Pemko Padang Sidempuan jangan lagi menunggu. “Sekarang harus ada aksi, benahi kembali kawasan dan lingkungan di sana . Libatkan semua komponen masyarakat untuk bahu membahu mengatasi bencana alam,” katanya.

Polda selidiki

Sementara Polda Sumut menurunkan tim untuk menyelidiki penyebab banjir bandang di Desa Labuhan Rasoki dan Manjunjang Jae, Kota Padang Sidimpuan, Rabu (3/2). “Tim yang diturunkan nantinya akan menyelidiki penyebab banjir bandang yang telah memorakporandakan puluhan rumah dan merendam ratusan rumah lainnya di desa tersebut,” kata Kapolda Sumut Irjen Pol Drs Badrodin Haiti usai salat Jumat di Mapolda Sumut (5/2).

Baca Juga :  APKM Minta DPRD Bentuk Pansus Kerusakan Hutan Tapsel

Terlebih lagi, kata Kapolda, di lokasi bencana banyak ditemukan kayu gelondongan di sepanjang aliran Sungai Kalimati dan di perbukitan Tor Simincat. Disinggung kemungkinan penyebab banjir tersebut akibat perambahan hutan, Kapolda mengaku belum bisa memastikannya. “Belum dapat kita pastikan, karena masih diselidiki,” katanya.

Namun, lanjutnya, penyelidikan belum bisa dilakukan. Sebab, tim masih menunggu kondisi cuaca lebih baik. “Tetapi penyelidikan nanti dilakukan setelah cuaca tidak lagi hujan, untuk melihat kerusakan akibat banjir itu,” sebutnya. (rrs/hen)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*