Angkatan ’45 Terpinggirkan

Dalam usia 66 tahun Republik Indonesia (RI), Angkatan 1945 sudah hampir lenyap keberadaannya di muka bumi ini. Banyak orang tidak mengetahui atau lupa sejarah. Nasibnya sudah terpinggirkan. Nilai-nilai kejuangan seperti memudar.

Angkatan ’45, organisasi pejuang berperang mempertahankan kemerdekaan secara fisik antara tahun 1945 sampai 1950. Usai perang, di Sumatera Barat pada khususnya sebagian dari mereka membentuk organisasi Angkatan ’45. Perkumpulan ini setidaknya jadi ajang nostalgia berkisah waktu mereka di medan pertempuran.

Banyak kisah untuk diwariskan kepada generasi muda, supaya mereka punya jiwa heroisme. Angkatan ’45 melawan tentara musuh Belanda yang hendak kembali menjajah Indonesia setelah lepas dalam perang dunia kedua, dari militer fasis Jepang. Sebagian pejuang kembali ke habitatnya, jadi petani, pedagang, guru, dan profesi lain. Mereka tidak masuk ke dalam wadah organisasi tersebut.

Kesulitan apa pun yang mereka hadapi waktu mempertahankan kemerdekaan RI yang diproklamasikan proklamator Soekarno-Hatta tanggal 17 Aguatus 1945, tidak mereka pedulikan. Rumahnya dibakar dalam rangka bumi hangus atau dibakar musuh, tidak punya biaya hidup sehari-hari tak jadi soal, asal bisa dikirim ke front pertempuran. Sama sekali mereka tidak berniat dapat imbalan materi, upah, atau tanda jasa. Jangankan meminta imbalan, malah mengorbankan apa yang dia punya. Di garis belakang, beberapa orang bertugas mengumpulkan bahan logistik dari masyarakat untuk dikirim ke front. Karena pemerintah dalam keadaan darurat, tidak punya logistik sama sekali.

Mereka bersenjata apa adanya, seperti senapan laras panjang yang berhasil direbut dari militer Jepang atau setidak-tidaknya bambu runcing. Mereka bergerilya melawan musuh bersenjata modern, punya meriam besar, bazooka, howritazer, AK-14, tomigun, pesawat terbang, dan sebagainya. Namun, tidak jarang terjadi pertempuran secara frontal. Dari tiap kampung dikirim beberapa orang yang mau bertempur. Hebatnya, justru mereka antre mendaftar. Para ulama meyakinkan bila gugur dalam pertempuran mempertahankan hak, mereka mujahidin, dinanti dalam surga.

Baca Juga :  7 Tahun Kepemimpinan SBY, Uang Negara “Dirampok” Rp. 103 Triliun

Ketua Dewan Harian Angkatan ’45 Sumatera Barat, Djamaris Junus mengatakan, waktu organisasinya lahir, terdaftar belasan ribu anggota. Tapi, akhir-akhir ini tinggal tidak sampai 2.000. ”Usia mereka dewasa ini sekitar 80 tahun. Tersebar di kampung-kampung daerah kabupaten/kota,” ucap Kolonel Infantri Purnawirawan itu.

Kenapa makin susut? Dijawab Sekretaris Umum DHD ’45 Sumbar Drs Musyair ZMS; ”Sebagian wafat setelah usia lanjut, atau tidak memerlukan organisasi. Tidak ada yang memperhatikan, tidak ada untungnya, takkan dapat ganti rugi rumah yang dibakar. Sakit-sakitan dan dirawat inap pun di rumah sakit, tidak pernah dibezuk orang yang menikmati jabatan. Apalagi menebuskan resep dokter,” keluh Musyair.

Menikmati Jabatan
”Anggota pemerintahan jangankan akan membalas jasa, malah tidak mau tahu dengan perjuangan orang yang telah mengorbankan harta dan nyawa. Mereka yang menikmati jabatan yang diperolehnya dewasa ini, pasti tidak lepas dari hasil perjuangan pejuang-pejuang. Jangankan memberi penghargaan, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota atau badan legislatif (DPRD) tidak punya initiatif untuk mengabadikan nama pejuang-pejuang di daerahnya. Jadi, nama jalan.guna dikenang generasi muda,” kata Ketua Badan Pembudayaan Kejuangan ’45 H Zulwadi Dt Bagindo Kali.

Pernah daerah ini punya saham besar, yakni menyelamatkan RI dengan membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), tatkala Belanda merebut ibu kota RI Yogyakarta dan menawan presiden dan wakil presiden bersama beberapa menteri dan diasingkan di Menumbing Pangkalpinang, Bangka. Tapi, tidak sama halnya dengan Aceh dan Yogyakarta, Sumatera Barat tidak menuntut jadi daerah istimewa, kendati pernah jadi pusat kedua pemerintahan RI. Daerah ini menolak mentah-mentah pembentukan negara boneka Belanda yang kemudian jadi negara federal, keluar dari Negara Kesatuan RI.

Baca Juga :  Bom Solo - Jenazah Pelaku Bom Solo Tiba di RS Polri

Menteri Kemakmuran Mr Sjafruddin Prawiranegara, yang luput dari tawanan waktu agresi militer kedua itu, membentuk pemerintah darurat (PDRI) di Bukittinggi, sekaligus memimpin perang gerilya melawan tentara Belanda di Sumatera Barat, Aceh dan daerah lainnya. Di Pulau Jawa, perang gerilya dipimpin Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Tidak tahan melawan gerilya rakyat Indonesia, antara lain gabungan militer dan laskar rakyat, Belanda mengajak ke meja perundingan dan berakhir dengan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia akhir tahun 1950. Semuanya itu adalah sejarah yang masih segar dalam ingatan, namun di sekolah-sekolah tingkat apa saja, sampai ke perguruan tinggi, sejarah perjuangan Angkatan ’45 tidak diajarkan. Yang diajarkan sejarah umum Indonesia, entah sejak zaman Majapahit.

”Kita beralasan berhiba hati, akibat banyak orang tidak mempunyai naluri dan mengacuhkan jasa-jasa pejuang. Pejuang-pejuang tersebut sama sekali tak menuntut balas jasa,” ujar Rustam Kanin, pengurus Dewan Harian Daerah Angkatan ’45 Sumatera Barat. (*)

Sumber: padangekspress.co.id

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*