Angsuran Kios Pasar Sipirok Terlalu Mahal, Pedagang Terancam Gulung Tikar

p1 Angsuran Kios Pasar Sipirok Terlalu Mahal, Pedagang Terancam Gulung Tikar Para pedagang pemilik kios di Pasar Sipirok meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan agar menurunkan biaya angsuran yang mesti mereka bayarkan, dari Rp6 juta setahun menjadi Rp1 juta setahun. 

“Pendapatan kami menurun sejak berjualan di pasar ini dan tak bisa membayar angsuran,” kata Husin (45), pedagang pemilik kios yang menggelar barang-barang kelontongan.

Amri (40), pedagang nasi, pemilik kios, juga mengeluhkan menurunnya pendapatan sejak berjualan di Pasar Sipirok yang baru dibangun. Dia mengaku, tidak ada pembeli yang datang ke pasar. “Waktu saya masih berjualan di pasar lama, pendapatan saya lumayan. Banyak pelanggan, tapi di sini tidak ada,” katanya.

Syukur (55), juga pedagang pemilik kios, mengatakan akibat minimnya pendapatan, dia terpaksa menunggak ansuran pembayaran kios. “Sudah sejak Agustus  2012  saya belum bisa membayar angsuran,” katanya.

Sebab itu, Syukur dan sebagaian besar pedagang sepakat mengajukan permohonan kepada Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul M. Pasaribu, agar menurunkan jumlah angsuran yang harus dibayarkan pedagang pemilik kios. Usulan itu dibuat dalam bentuk surat dan ditanda tangani oleh para pedagang.

“Sudah hampir enam bulan usulan itu kami kirimkan ke dinas terkait, tapi belum ada tanggapan sampai hari ini,” kata Siagian, yang mengaku mempelopori rencana tersebut.

Siagian merasa prihatin terhadap nasib para pedagang yang pendapatannya berkurang justru setelah pindah ke Pasar Sipirok yang baru dibangun. Ketika masih berjualan di pasar lama yang kini sudah dibongkar, dia mengaku pendapatannya bisa dibagi untuk biaya angsuran kios dan kebutuhan rumah tangga. “Sekarang, untuk biaya hidup sehari-hari saja tidak cukup,” katanya.

Baca Juga :  Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota P.Sidimpuan: Ada Upaya Peran Ulama Dimarginalkan

Pasar Sipirok diresmikan pemakaiannya sejak Rabu, 6 Maret 2012. Pasar yang menelan dana APBD 2010 dan APBD 2011 senilai Rp6,4 miliar, ternyata tidak mampu mendukung laju pertumbuhan perekonomian masyarakat, terutama para pedagang. Sejak diresmikan, kondisi pasar itu senantiasa sepi. Hanya ramai pada hari Kamis, saat hari pasar, dan hari Senin. Di luar kedua hari itu, pasar tidak dikunjungi calon pembeli.

Saat meresmikan pasar tersebut, Bupati Tapsel, Syahrul M Pasaribu, mengatakan pembangunan Pasar Sipirok dilakukan agar pedagang bisa berjualan dengan aman dan nyaman.

“Saya minta kepada para pedagang untuk menjaga dan merawat pasar ini dengan baik. Jadikan pasar ini rumah kedua, karena pasar ini merupakan tempat sandaran kehidupan saudara,” pesan Bupati.

Pasar Sipirok 194 kios permanen yang dibagi dalam 4 kategori. Pasar juga dilengkapi sarana kamar mandi, mushalla, dan ruangan kepala pasar. Ada 94 pedagang yang mengurus Surat Perjanjian Sewa Menyewa (SPSM) dan pemerintah daerah mengutamakan pedagang lama yang berasal dari Pasar Atas dan Pasar Bawah.

Penataan pedagang di Pasar Sipirok ditempatkan berdasarkan 4 zonanisasi yaitu zona makanan, zona sandang, zona bahan bangunan dan elektronik serta zona jasa. Tujuannya, agar para pedagang terkelompokkan berdasarkan jenis barang dagangannya.

Dengan dibangunnya Pasar Tradisional Sipirok ini, Pemkab Tapsel menargetkan memperoleh kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pos retribusi penerbitan SPSM, pelayanan pasar, persampahan, dan kamar mandi sebesar Rp368.835.000 per tahun.*

Baca Juga :  Massa Kecewa Ferrarinya Terbakar di Valencia

Sumber: http://thevoiceofsipirok.blogspot.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*