Antitesis Bill Gates dan Jobs

Lupakan Bill Gates atau Steve Jobs sejenak. Mereka sudah bergelimang popularitas untuk setiap detak jantung, tarikan napas atau bahkan kematian mereka.

Mari melirik pada Eben Upton. Sekilas tak ada yang luar biasa pada lelaki berusia 34 tahun. Oke, dia memang botak. Orang sering menganggap lelaki botak kinclong itu pintar dan banyak berpikir. Anggapan itu sama sekali tak meleset. Dia memang doktor komputer lulusan Universitas Cambridge, Inggris.

Yang membuat dia istimewa adalah peristiwa kecil pada 2006. Eben Upton melihat anak-anak masa itu telanjur dimanjakan oleh komputer canggih dan punya penampilan menarik seperti iPad, Mac, Windows dan lain-lain. Tapi, keindahan komputer itu tak membuat mereka jago komputer. Orang tua selalu marah bila anak-anak membuat eksperimen.  “Jangan macam-macam, nanti komputer rusak.”

Ancaman itu kerap membuat rasa ingin tahu anak mengkeret. Lama-kelamaan membunuh keinginan untuk menyelam lebih dalam.

Itulah yang membuat Eben Uton melahirkan antitesis dari semua yang diciptakan Bill Gates atau Steve Jobs. Dia menciptakan komputer yang sangat sederhana. Ukurannya cuma sedikit lebih besar dari sebungkus rokok . Harganya cuma US$ 35. Sumber listriknya cuma baterai A2 yang biasa untuk senter kecil.

Walau cuma segede sebungkus rokok ini komputer yang komplet.Tinggal menambahkan papan ketik, tetikus, layar.  Di dalamnya sudah terpasang sistem operasi Linux, software gratis yang biasa dipakai para jago komputer. Si Mini ini nyaris bisa melakukan semua pekerjaan komputer canggih. Dengan komputer ini, Eben Upton, berharap anak bisa “mengacak-acak” komputer sesuka hati tanpa dimarahi orang tua, tapi bisa belajar membuat software.

Baca Juga :  Cara Mengetahui Jenis Kelamin Komputer

Saya mengenal kisah Eben Upton dan Raspberry Pi ini dari seorang teman dari Bandung.  Dia bukan programmer masyhur di ranah persilatan komputer. Tapi sudah empat tahun menggantungkan hidupnya hanya dari berjualan aplikasi di toko software Apple iTunes.com. Aplikasinya yang dia buat untuk iPad, BlogShelf,  pernah beberapa kali dinobatkan sebagai aplikasi nomor kedua terlaris di iTunes.

Suatu hari, dengan mimpi membagikan ilmu untuk anak jalanan, dia datang ke Tempo membawa dua ransel. Isinya mengejutkan: aki motor, televisi LCD, dan si mungil komputer Raspberry Pi. Dengan komputer mungil itu Feiry menunjukkan dia bisa mengajar anak jalanan belajar membuat program dan mikrorobot. Mainan mobil remote control bila diduetkan dengan Raspberry Pi bisa dikontrol komputer. Misalnya roda belakang bergerak mundur, lampu kiri menyala dan sebagainya.

“Mimpi saya anak jalanan bisa menjadi jago komputer, bukan cuma main game,” ujar Feiry.

Kehebatan si proyek amal Raspberry Pi (www.raspberrypi.org) ini diminati banyak orang. Dave Akerman asal Brightwalton, Inggris, misalnya membuat Raspberry Pi ini menjadi “pesawat mata-mata”. Terbang setinggi 40 kilometer menggunakan balon dan bisa mengambil gambar video dan foto.  “Kini semua sekolah dasar di dunia bisa membuat foto dari angkasa,” kata Upton senang.

Raspberry Pi memang keren. Sampai-sampai, Eric Schmidt, mantan bos Google, memborong 15 ribu Raspberry Pi dan membagikan ke sekolah dasar di Inggris.(*)

Sumber: http://blog.tempointeraktif.com/portal/antitesis-bill-gates-dan-jobs/
Baca Juga :  Rahasia Dibuka, "Drone" Unik Google Terungkap
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*